Kisah Bradrona Fence, dari Iseng Jadi Solidaritas Perempuan

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com– Kalau di Paris ada Pont des Arts dengan gembok cinta, dan di Korea Selatan ada Namsan Tower tempat pasangan menggantung gembok lalu membuang kuncinya sebagai simbol cinta abadi, di New Zealand ada pagar penuh bra, yang sekarang dikenal sebagai Bradrona Fence. Kalau gembok cinta melambangkan janji romantis, bra-bra yang tergantung di pagar ini jadi simbol solidaritas perempuan melawan kanker payudara. Sebuah monumen tak resmi yang lahir dari iseng, tapi tumbuh jadi ruang partisipasi publik.

Awalnya mungkin terdengar aneh, pakaian dalam yang biasanya tersembunyi justru dipamerkan di ruang terbuka. Tapi justru itulah dari hal yang mungkin kita anggap “nyeleneh,” lahirlah percakapan tentang tubuh, kesehatan, dan perjuangan perempuan.

Apa itu Bradrona Fence?

Bradrona terletak di Cardrona Valley, Otago, Pulau Selatan, New Zealand. Melansir darii Stuff, kejadian ini dimulai sekitar 1999, ketika empat bra secara misterius muncul semalaman di pagar di sepanjang Jalan Cardrona Valley.

Atraksi warna-warni ini sempat membuat beberapa warga setempat jengkel. Namun, alih-alih hilang, fenomena itu justru malah terus berkembang. Para pejalan kaki mulai menambahkan pakaian dalam mereka ke pagar tersebut saat melewatinya.

Belakangan, pagar itu malah semakin heboh gara-gara ada pencuri bra misterius yang suka memotong bra-bra yang digantung di sana. Tapi bukannya berhenti, orang-orang malah meletakan bra baru. Dari sana malah muncul aksi balas-balasan—bra dipotong, besoknya diganti dengan bra-bra baru.  Aksi itu mencuri perhatian media dan justru membuat pagar itu semakin terkenal. Ironisnya, semenjak itu jumlah bra di pagar malah jadi semakin banyak, hingga meresahkan masyarakat sekitar karena dianggap polusi visual dan mengganggu lalu lintas.

Pagar tersebut akhirnya harus dipindahkan dari jalan raya utama ke pintu masuk rumah Kelly Spaans dan Sean Colbourne, bisnis berkuda dan bersepeda, “The Cardrona”. Pagar yang terkenal itu diubah namanya menjadi “Bradrona” pada tahun 2015 untuk menggalang dana bagi kanker payudara dan $30.000 telah terkumpul melalui sumbangan yang ditaruh dalam kotak di lokasi tersebut. kini dikelola lebih rapi,  dilengkapi kotak donasi, dan secara resmi mendukung Breast Cancer Foundation New Zealand.

Baca juga: Perempuan dalam Demonstrasi Korea Selatan Melawan Politik Anti-Feminis 

Dari Iseng ke Solidaritas

Yang tadinya hanya keisengan, ternyata bisa bermetamorfosis jadi simbol solidaritas. Menggantungkan bra di pagar bukan sekadar aksi aneh, tapi juga pernyataan publik yang menunjukkan kepedulian. Bra yang identik dengan payudara jadi metafora langsung bagi perjuangan melawan kanker payudara.

Turis dan warga lokal sama-sama terlibat, menyumbang uang, bahkan menjadikan Bradrona sebagai ruang memorial untuk mengenang orang-orang terdekat yang meninggal akibat kanker. Dari sini terlihat bagaimana tindakan melepaskan bra dan menggantungnya bisa berubah makna menjadi dukungan moral, finansial, sekaligus bentuk penghancuran tabu tentang tubuh perempuan.

Bra-bra itu bukan hanya kain. Ada yang ditaruh untuk mengenang ibu, kakak, atau sahabat yang meninggal akibat kanker. Ada pula yang digantung sebagai doa agar bagi mereka yang berjuang bisa bertahan. Dengan cara sederhana, pagar itu jadi ruang di mana solidaritas bisa divisualisasikan, tanpa harus dibungkus dengan simbol-simbol besar atau retorika megah.

Baca juga: Hati-Hati Ikut Tren, Jangan-Jangan Kamu Sedang Blackfishing!

Kritik & Risiko

Meski kuat secara simbolis, Bradrona juga tak luput dari kritik. Ada risiko bahwa pagar bra ini direduksi jadi sekadar objek Instagram yang lucu, dan instagrammable—tanpa menyinggung pesan serius di baliknya. Ketika wisatawan hanya menjadikannya sebatas lokasi foto semata, makna solidaritas bisa terkikis, tergantikan oleh logika konten.

Selain itu, ajang solidaritas juga punya potensi mengubah penderitaan menjadi komoditas wisata. Kesedihan dan perjuangan perempuan tereduksi menjadi destinasi “unik” yang bisa dijual. Bahkan ada yang merasa tidak nyaman melihat bra—simbol tubuh intim perempuan yang dijadikan tontonan massal. 

Di sisi lain, ketika tubuh perempuan masih sering dianggap tabu dan sering dipandang sebatas objek, penggunaan bra sebagai simbol publik bisa terasa kontradiktif. Di satu tempat, bra bisa jadi alat solidaritas. Di tempat lain, tali bra yang kelihatan saja masih dianggap dosa.

Pada akhirnya, Bradrona menunjukkan bahwa solidaritas bisa lahir dari hal-hal yang tak terduga. Dari sekadar iseng menggantungkan pakaian dalam, tumbuh ruang publik yang menyuarakan kepedulian terhadap kanker payudara.

Di New Zealand, bra bukan aib, melainkan simbol yang bisa dipakai bersama untuk melawan penyakit. Sementara di banyak tempat lain, termasuk Indonesia, bra masih diseksualisasi, dipandang memalukan, bahkan bisa jadi bahan lelucon atau pelecehan. 

Padahal, fungsi bra sangat krusial bagi perempuan,, bukan sedara mempertahankan estetika tetapi juga menopang bagian tubuh, dan telah menjadi bagian dari keseharian perempuan.

Kalau di luar negeri bra bisa menjadi medium solidaritas, kenapa di sini tidak? Pertanyaan itu layak kita renungkan. Sebab solidaritas sejati tidak melulu soal pagar penuh bra, tapi bagaimana kita menciptakan ruang aman untuk perempuan—ruang di mana tubuh tidak lagi dianggap aib, melainkan bagian sah dari perjuangan hidup. 

Jadi, kalau kamu main ke New Zealand, mau mampir ke Bradrona Fence? Bukan sekadar spot foto, tapi sebuah pagar yang membuat kita mempertanyakan sejauh mana kita berani merayakan tubuh perempuan tanpa rasa malu?

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Gen Z Bicara Bumi: Anak Muda Melawan Krisis Iklim

Retno Agustina, Satu-satunya Rektor Perempuan

Retno Agustina, Satu-satunya Rektor Perempuan PTN di Sumatera

Self-Abandonment: Terlalu Sering Bilang “Iya”, Sampai Kehilangan Diri Sendiri

Leave a Comment