Jejak Rahasia: Cerita Ilustrasi Anak Muda Sawahlunto untuk Menghidupkan Sejarah

Ais Fahira

News, Tokoh

Jejak Rahasia Cerita Ilustrasi Anak Muda Sawahlunto untuk Menghidupkan Sejarah

Bincangperempuan.com- “Aku orang Sawahlunto, tapi baru tahu kota ini punya sejarah yang se-niat itu,” ujar Raisya.

Kalimat itu jadi titik balik bagi Viona Dwi Mulianda (18) dan Raisya Atsiila (18) untuk mulai berkarya. Tak sekadar mencoret-coret atau ikut tren desain kekinian di media sosial, mereka memutuskan membuat konten edukasi sejarah lokal lewat ilustrasi dan cerita pendek. Dengan Vio sebagai ilustrator dan Raisya sebagai penulis naskahnya.

Karya mereka diberi nama Jejak Rahasia, sebuah proyek visual storytelling yang memperkenalkan kembali sisi-sisi tersembunyi dari kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Kota yang sudah berdiri sejak 1888 ini menyimpan banyak warisan sejarah, tapi tak banyak generasi mudanya tahu cerita di baliknya.

“Jejak Rahasia itu tentang dua anak remaja yang jalan-jalan keliling kota. Nanti mereka ketemu sama ‘Pak Tua’ yang bakal jadi narator, semacam pemandu cerita yang ngasih info sejarah sambil ngobrol santai,” jelas Raisya saat dihubungi pada 16 Mei 2025.

Jejak Rahasia menceritakan petualangan dua remaja yaitu Dion Mahesa dan Yasmin Kartika. Dion adalah anak Sawahlunto yang awalnya tak peduli pada sejarah kotanya. Berbanding terbalik dengan Yasmin yang justru penasaran terhadap kisah masa lalu Sawahlunto.

Suatu hari, mereka tak sengaja kembali ke masa lalu ke era ketika kota tambang saat masih dikuasai penjajah. Dari sanalah satu demi satu sejarah terkuak. Dari pertemuan dengan tokoh-tokoh masa lalu hingga menyaksikan perubahan fungsi bangunan-bangunan bersejarah, perlahan pandangan Dion mulai berubah.

Melalui Jejak Rahasia, Vio dan Raisya mencoba menjembatani antara edukasi dan hiburan. Lewat ilustrasi berwarna dan narasi ringan, sejarah lokal disuguhkan dalam bentuk yang lebih bisa diterima generasi muda tanpa kehilangan makna.

Dari Festival ke Aksi Kreatif

Semua berawal dari sebuah festival budaya bernama “Galanggang Arang” sebuah ajang seni dan sejarah yang digelar untuk mengangkat warisan tambang batubara Ombilin yang telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

“Awalnya ikut acara Galanggang Arang tahun kemarin. Ya cuma bantu-bantu dekor pameran foto, Kak. Tapi waktu ngobrol sama orang-orang, aku baru sadar, ternyata banyak banget yang nggak tahu sejarah Sawahlunto. Bahkan warga sendiri kaget pas tahu acara sebesar itu puncaknya di kota mereka,” cerita Vio saat dihubungi pada 16 Mei 2025.

Sejak saat itu, Viomulai membicarakan keresahannya kepada teman-temannya, termasuk Raisya. Reaksi yang mereka terima rata-rata sama terkejut dan penasaran. Salah satu temannya bahkan mengatakan, “Aku tuh males baca buku sejarah. Tapi kalau ada gambarnya, aku pasti mau baca.”

Kalimat spontan dari temannya itu menjadi pemantik semangat baginya. Vio akhirnya mulai membayangkan bagaimana bentuk sejarah lokal jika disajikan lewat visual yang lebih disukai generasi muda seusianya.

Baca juga: Reza Anugrah Berani Bicara Kesetaraan di TikTok: “Laki-laki Juga Korban Patriarki”

Dari Cerpen ke Ilustrasi

Sebelum Jejak Rahasia, Vio dan Raisya pernah mengikuti sebuah workshop menulis cerpen bersama komunitas Kolam Baca. Mereka bahkan sempat menerbitkan buku antologi. Tapi saat mencoba mempromosikan ke teman satu sekolah, responnya biasa saja.

“Katanya mereka lebih suka cerita yang ada gambarnya. Jadinya kita kepikiran, ya udah kenapa nggak bikin cerita ilustrasi aja?” jelas Vio.

Mereka lalu mulai menyusun ide cerita yang relevan dan menggugah rasa ingin tahu, khususnya untuk anak-anak dan remaja. Target audiens mereka adalah anak muda dari siswa Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas, yang selama ini merasa sejarah itu membosankan.

“Biar bisa belajar sejarah tanpa ngantuk,” tambah Vio.

Tantangan: Ide, Akses, dan Dukungan

Di balik Jejak Rahasia: Viona (kanan) dan Raisya (Kiri)

Tentu, prosesnya tidak semudah membalik kertas sketsa. Mereka harus memikirkan ide konten yang pas, menggambar, menyusun narasi, dan menyelaraskan semuanya agar enak dibaca. Vio mengakui, bagian tersulit justru di tahap awal.

“Mikirin ide kontennya yang susah, Kak. Biar sesuai sama tema dan bisa menarik orang. Sekarang kami bikin juga konten quotes atau puisi-puisi pendek dengan tagar #TakaranKata.”

Selain soal ide, keterbatasan akses informasi jadi tantangan besar. Vio dan Raisya belum memiliki pengalaman riset sejarah yang dalam. Mereka mengandalkan kenalan, buku di pustaka, artikel daring, dan obrolan dengan teman.

“Ke tetangga atau orang tua asli Sawahlunto sih belum kepikiran. Paling nyari kenalan dulu dari teman,” kata Vio, sambil menyadari pentingnya sumber lisan untuk memperkuat cerita.

Mengapa Ini Penting?

Sawahlunto dikenal sebagai kota tua tambang batubara, yang dibangun di masa kolonial Belanda. Dulunya, kota ini jadi pusat eksploitasi tenaga kerja paksa yang disebut sebagai Orang Rantai. Mereka adalah tahanan yang dipekerjakan di tambang dengan kondisi mengenaskan.

Potret Museum Goedang Ransoem. (Dok: Ais Fahira)

Namun, cerita-cerita itu perlahan memudar. Banyak warga yang hanya tahu peninggalan sejarah kotanya, seperti museum Lubang Mbah Suro dan Goedang Ransoem. Namun tidak mengetahui cerita di baliknya. Padahal, seperti kata Raisya, “Masjid Agung yang sekarang kita kenal itu dulunya pembangkit listrik, dan orang nggak tahu,”

“Aku kasihan sama kota ini. Pengetahuan sejarah masyarakat di sini masih minim banget. Kita cuma tahu garis besarnya. Kalau ditanya detailnya, banyak yang nggak tahu,” keluh Raisya.

Ia juga menyayangkan kurangnya peran orang tua dan sekolah dalam menceritakan sejarah lokal. “Untungnya waktu ikut workshop penulisan cerpen, aku ketemu orang-orang yang punya semangat yang sama,” tambahnya.

Baca juga: Yesi Sepriani: Perempuan di Garis Depan Perjuangan Lingkungan 

Melawan Lupa, Merebut Makna

Menurut Raisya, kesadaran akan sejarah lokal tak hanya sebatas nostalgia. Tetapi juga soal identitas. Ia khawatir jika sejarah terus diabaikan, maka masyarakat akan kehilangan kendali atas apa yang mereka miliki.

“Kalau kita nggak ngerti sejarah, nanti mudah aja diambil orang luar. Lupa, lalu hilang,” katanya.

Kekhawatiran tersebut tentunya sangat relavan dengan kondisi kota tua tersebut. Dalam sebuah forum budaya pada 3 Juli 2024 yang penulis catat, perwakilan Pemko Sawahlunto menyatakan bahwa banyak bangunan bersejarah di kota itu bukan milik pemerintah daerah. 

Melainkan milik BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dan swasta, termasuk kawasan WTBOS (Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto). Artinya, pelestarian warisan ini tidak hanya tanggung jawab pemerintah kota, tapi seluruh masyarakat.

“Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” tegas Raisya.

Langkah Kecil, Dampak Panjang

Meski belum punya banyak pengikut di Instagram, Vio dan Raisya tidak patah semangat. Mereka yakin bahwa langkah kecil bisa berdampak besar jika konsisten. Terlebih, di balik layar, ada komunitas seni Rantai yang mendukung dan memberi ruang bagi mereka berkarya.

Lewat Jejak Rahasia, mereka ingin mengubah cara belajar sejarah. Agar menjadi pengalaman yang menyenangkan dan relevan.

“Kami pengen anak-anak bisa lebih bangga sama kota ini. Tahu sejarahnya, lalu merasa memiliki,” tutup Vio.

Dan mungkin, dengan satu cerita ilustrasi, satu slide di Instagram, dan satu percakapan tentang “Pak Tua”, ingatan-ingatan lama itu bisa hidup kembali, tak lagi jadi rahasia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Hoaks Gubernur Bengkulu Nyatakan Bahwa Pajak OPSEN Tidak Membebankan Masyarakat Bengkulu. Faktanya Sudah Berlaku!

Hoaks: Gubernur Bengkulu Nyatakan Bahwa Pajak OPSEN Tidak Membebankan Masyarakat Bengkulu. Faktanya Sudah Berlaku!

Urutan Lahir Ngaruh Nggak sih dalam Percintaan?

Perempuan rentan menjadi korban perdagangan manusia

Perempuan Rentan Menjadi Korban Perdagangan Manusia

Leave a Comment