Fenomena Solomaxing: Saat Status Lajang Dioptimalkan

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Coba buka TikTok atau Instagram Reels-mu hari ini. Di lini masa kamu mungkin pernah lewat konten ”romanticizing my single era”, seperti video estetik solo date dengan jalan-jalan untuk membeli bunga untuk  diri sendiri, atau sekadar minum kopi di kafe sendirian. Mengisolasi diri dan menikmati kesendirian kini dikemas begitu estetik, tenang, dan keren.

Namun, tren solo date di media sosial ini sebenarnya bukan cuma romantisasi ala-ala tren sosial media. Survei Pew Research Center tahun 2025 mencatat ada 86% anak muda usia 18–24 tahun dan 42% usia 25–39 tahun yang statusnya lajang. Angka ini melonjak drastis kalau dibandingin sama tahun 1990, di mana cuma 29% orang dewasa (25–54 tahun) yang tidak punya pasangan.

​Menurut psikoterapis Matthew Willner, LCSW di VICE, data beberapa dekade terakhir memang konsisten menunjukkan penurunan angka berpasangan (partnership rates) dan lonjakan anak muda yang memilih hidup sendiri. Menjadi lajang tidak lagi dianggap nasib apes “kasihan nggak ada yang mau”, melainkan pilihan hidup yang memang makin banyak diambil anak muda.

Baca juga: Perempuan Single Lebih Bahagia? Ini Riset dan Faktanya!

​Menempelkan Maxxing pada Status Lajang

​Dari romantisasi masa lajang muncul istilah baru di  internet yaitu solomaxxing. Bahasa medsos memang gemar meminjam sufiks –maxxing dari istilah gaming dan optimasi diri untuk menggambarkan upaya memaksimalkan aspek hidup tertentu secara ekstrem—mulai dari looksmaxxing (memaksimalkan penampilan) hingga fibermaxxing (memaksimalkan asupan serat). Begitu digabungkan dengan kata solo, istilah ini langsung membalikkan cara pandang kita soal lajang

​Solomaxing mengubah pandangan kita soal status lajang biasanya dianggap pasif seperti belum ketemu yang cocok,menjadi keputusan aktif (intentional choice). Selama berdekade-dekade, norma sosial menempatkan orang tanpa pasangan dalam posisi bertahan yang sering dikasihani. Melalui solomaxing, menjadi lajang diposisikan sebagai status yang memang diinginkan, dirayakan, dan dioptimalkan keuntungannya. 

Kalkulasi Ekonomi di Tengah Inflasi dan Kelelahan Kencan

​Lantas mengapa fenomena ini begitu meledak di kalangan Gen Z dan Milenial? Bruce Y. Lee, M.D., M.B.A., dalam Psychology Today, menyoroti dua pemicu utama: pertama melambungnya biaya hidup akibat inflasi dan dating app fatigue (kelelahan aplikasi kencan).

​Kencan modern telah bertransformasi menjadi aktivitas berbiaya tinggi dengan pengembalian emosional yang sering kali minus. Di tengah ketidakpastian ekonomi, harga properti yang tak terjangkau, dan ketimpangan sosial, solomaxing adalah kalkulasi rasional atas alokasi sumber daya. Menjalani hubungan butuh modal materi dan energi emosional yang besar. Bagi banyak anak muda, mengalihkan seluruh modal itu untuk investasi diri sendiri, memperkuat tabungan, mengejar karir, atau mendanai hobi adalah keputusan yang jauh lebih efisien.  

​Willner menambahkan bahwa secara historis, sangat masuk akal jika di era ketidakpastian dan ketimpangan sosial, semakin banyak orang memilih gaya hidup independen dan hemat. Bagi sebagian orang, solomaxing adalah pilihan yang diambil secara sadar (choice), tetapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi ini adalah keharusan (necessity) demi bertahan hidup.  

​Perlindungan Emosional dan Keutuhan Diri

​Di sisi lain, ekosistem kencan modern via dating apps penuh risiko ghosting hingga scam atau penipuan. Sehingga semakin mendorong orang untuk mundur. Setelah berulang kali terkuras di dating pool yang tidak sehat, memilih lajang menawarkan perlindungan emosional (peace and stability). Solomaxing menegaskan pesan bahwa kita adalah individu yang utuh tanpa perlu divalidasi oleh kehadiran seorang pasangan. Ketenangan pikiran dan stabilitas hidup bisa dibangun secara mandiri tanpa harus menggantungkan kebahagiaan pada status hubungan romantis.

​Namun, fenomena ini tidak boleh ditelan mentah-mentah. Kita perlu kritis membedakan, apakah solomaxing benar-benar wujud kemandirian yang sehat (healthy independence), atau jangan-jangan cuma bentuk mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang dibungkus estetika media sosial?

Karena ada garis tipis antara memilih sendiri karena benar-benar berdamai dengan diri sendiri, dan memilih sendiri karena ketakutan ekstrem akan kekecewaan (hyper-independence atau avoidant behavior). Ketika solomaxing diromantisasi secara berlebihan hingga mengarah pada isolasi sosial total, maka bisa berisiko terjebak dalam kesepian terselubung. Menolak hubungan romantis bukan berarti kita harus menolak segala bentuk koneksi manusia. Kita tetap membutuhkan jejaring komunitas, persahabatan, dan ruang aman untuk saling berbagi.  

Baca juga: Ketika Punya Pacar Tak Lagi Jadi Kebanggaan

​Utuh Tanpa Harus Mengisolasi Diri

​Pada akhirnya, solomaxing memberikan amunisi baru untuk meruntuhkan stigma seputar status lajang. Karena masa depan dan nilai seorang individu tidak ditentukan oleh siapa yang berdiri di sampingnya. ​Splomaxing yang sehat adalah tentang bagaimana kita memaksimalkan potensi, ketenangan, dan stabilitas finansial diri sendiri—bukan tentang menutup pintu rapat-rapat karena rasa takut akan kerentanan (vulnerability). Sebab menjadi utuh secara mandiri adalah fondasi terbaik, baik untuk hidup sendiri maupun jika suatu saat memilih untuk berbagi hidup dengan orang lain. 

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Khabar Lahariya Media Anti Mainstream yang Bikin Kamu Melek Realita

Khabar Lahariya: Media Anti Mainstream yang Bikin Kamu Melek Realita

Angka vs Makna: Mana yang Lebih Penting buat Resolusi Tahun Baru?

Kekerasan dalam Pacaran Fenomena yang Terus Diabaikan (1)

Kekerasan dalam Pacaran: Fenomena yang Terus Diabaikan

Leave a Comment