Keadilan Ekologis, Kesetaraan Perempuan dalam Teladan Paus Fransiscus

Keadilan Ekologis, Kesetaraan Perempuan dalam Teladan Paus Fransiscus

Merefleksikan Pertobatan Ekologis

Bumi diciptakan agar seluruh umat manusia dapat menikmati, menjaga dan merawat makhluk hidup lainnya. Masyarakat manapun boleh mengambil dari kelimpahan bumi sesuai kebutuhan mereka untuk hidup, tetapi mereka juga wajib melindungi bumi dan memastikan kesuburannya bagi generasi yang akan datang.[1] Dari tulisan ini kita dapat merefleksikan bahwa kita harus melawan logika homo economicus yakni ketika manusia melihat properti dan uang digunakan sebagai tujuan utama, alih-alih sebagai alat untuk pengembangan manusia.

Teman, dunia ini sedang tidak baik-baik saja! Krisis iklim dan krisis sosial adalah satu kesatuan, bukan dua hal yang terpisah. Krisis yang begitu kompleks serta mencakup keduanya. Sehingga strategi untuk solusinya perlu dengan pendekatan yang terpadu agar mampu memerangi kemiskinan. Selain itu, juga mengembalikan martabat mereka yang terpinggirkan, dan pada saat yang sama kita semua melindungi alam raya ini.

Keserakahan bukan sekadar dosa yang terkait dengan menimbun kekayaan saja. Namun lebih menegaskan bahwa itu adalah kebiasaan buruk yang menembus semua lapisan, misalnya meraup keuntungan pribadi atau sekelompok orang dari memeras keringat orang lain. Jadi bukan hanya soal menimbun kekayaan atau soal isi dompet kita saja.

Berbahagialah kamu yang memahami kalau ekonomi harus mampu menyentuh manusia. Bila tidak, maka tidak artinya sama sekali. Setiap teori atau tindakan ekonomi dan politik harus diarahkan untuk memastikan setiap orang di dunia ini mendapatkan kebutuhan minimum untuk hidup dalam martabat dan kebebasan. Ini adalah hal yang utama, tanpa visi  semacam ini, segala aktivitas ekonomi menjadi tidaklah bermakna.

Dalam seruan apostolik berjudul Laudate Deum, Paus Fransiscus kembali menegaskan komitmennya terhadap isu perubahan iklim dan transisi energi terbarukan.[2] Dokumen ini menjadi kelanjutan dari ensiklik sebelumnya, yakni Laudato Si’. Dokumen ini mengkritik respon global terhadap krisis iklim yang dianggap masih belum memadai. Perubahan iklim tidak bisa disangkal karena bukti ilmiah dan kontribusi manusia sangatlah jelas.

Saat ini kita hidup di zaman hiperrealitas. Menggambarkan kondisi dimana realitas yang kita alami menjadi semakin sulit untuk dibedakan dari realitas yang dihasilkan oleh teknologi, media, maupun budaya populer. Kita juga hidup di era kapitalisme yang tanpa kendali sehingga menjadi sumber luka bagi siapapun yang tidak mampu menjangkaunya.

Pendapatan segelintir orang kaya meningkat berkali-kali lipat, pendapatan orang kebanyakan semakin merosot tajam kebawah. Ketidakseimbangan ini berasal dari ideologi yang mendukung otonomi mutlak pasar. Maka kita perlu untuk merefleksikan kembali situasi ini. Melawan kerakusan, ketimpangan, dan perusakan bumi.

Kita penting untuk menentang kapitalisme yang mengeksploitasi alam dan manusia, mengeruk dan meninggalkannya begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Paus Fransiscus pernah mengatakan, ia percaya bahwa ekonomi yang bekerja untuk semua orang, terutama bagi mereka yang miskin, terpinggirkan, dan tersisih.[3] Ia menyebutkan bahwa uang harusnya melayani, bukan menguasai dan mengingatkan bahwa mereka yang kaya harus membantu, menghormati, dan mendukung mereka yang miskin.

Membangun Persaudaraan yang Universal

Teman, saya menulis ini untuk menegaskan kembali akan pentingnya tanggung jawab lingkungan. Kita harus mampu menunjukkan kepedulian besar terhadap krisis iklim. Krisis iklim itu nyata dan berada di depan mata kita saat ini! Pentingnya kita semua agar menyerukan umat manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Perubahan iklim bukan sekadar masalah ilmiah, tetapi juga moral. Kita harus menekankan agar pentingnya keadilan iklim, mengingat kelompok miskin paling terdampak oleh kerusakan lingkungan. Selain itu, kita harus mampu menjembatani dialog antar umat beragama tentang krisis iklim yang melanda kita saat ini.

Paus Fransiscus sangat aktif membangun dialog dengan pemimpin agama.[4] Langkah ini menjadi momen bersejarah dalam hubungan antar agama dan menegaskan pentingnya perdamaian, toleransi, kerjasama lintas keyakinan untuk merawat bumi bersama. Ia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, tanpa memandang latar belakang, dan bahwa kasih harus melampaui batas agama, suku, atau negara.

Kemanusiaan sejati lahir dari bela rasa, empati, cinta kasih, dan keberanian untuk peduli pada alam dan pada mereka yang terpinggirkan. Kita diingatkan kembali untuk menyerukan pesan moral dan spiritual untuk merawat bumi sebagai rumah bersama umat manusia. Mengajak kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan hidup, penting bagi kita untuk mengkritik budaya konsumerisme dan kapitalisme yang berlebihan. Selain itu, juga mendorong memajukan agenda keadilan ekologis dan sosial. Pentingnya kita untuk melakukan pertobatan ekologis dan berkolaborasi lintas agama dalam mengatasi krisis lingkungan global.

Paus Fransiscus juga menekankan pentingnya persaudaraan yang universal dan solidaritas sosial di dunia yang semakin terpecah oleh ketidakadilan, konflik, dan ketidakpedulian.[5] Ia mengajak semua orang untuk membangun dunia yang lebih adil dan damai melalui kasih, dialog, dan kerjasama. Ia juga mengkritik nasionalisme sempit, ekonomi yang tidak manusiawi, dan ekslusi sosial budaya, seraya menegaskan bahwa setiap manusia adalah bagian dari satu keluarga besar. Bila kita refleksikan lebih dalam bahwa itu adalah panggilan untuk menjadikan cinta dan empati sebagai dasar relasi antar individu maupun antarbangsa.

Krisis yang kita rasakan saat ini tentulah saling terhubung, yakni bicara tentang perubahan iklim, krisis air, hingga punahnya biodiversitas yang berpangkal pada ketimpangan dan keserakahan manusia. Mari kita ciptakan seruan universal untuk mencintai dan merawat bumi sebagai rumah bersama, sebaliknya kehancuran lingkungan merupakan pelanggaran terhadap Tuhan dan dosa struktural yang membahayakan semua orang.

Mendukung Peranan Perempuan

Teman, saya menulis ini untuk menyampaikan banyaknya warisan yang ditinggalkan oleh Paus Fransiscus, maka tak heran beliau mendapat julukan “The People’s Pope” bahkan “The Progressive Pope”. Julukan ini tentu tidak hadir begitu saja, melainkan karena upaya yang telah ditunaikan olehnya. Warisan progresifnya telah mencatat langkah kongkret nyata yang transformatif. Misalnya dengan mengambil langkah berani dengan menunjuk perempuan sebagai Wakil Menteri Luar Negeri Vatikan. Beliau juga membuka akses yang lebih besar bagi perempuan agar mampu menduduki posisi dalam struktural gereja. Termasuk hak untuk memberikan suara dalam prosesi sinode.

Dalam konferensi internasional[6], beliau menegaskan bahwa gereja sendiri adalah simbol perempuan, sebagai putri, istri, dan ibu. Beliau menggarisbawahi pentingnya kontribusi perempuan dalam kehidupan, dan menyerukan persatuan serta kolaborasi untuk mengakui dan menghargai peran tersebut. Penting juga untuk menyoroti contoh teladan dari sejumlah perempuan yang telah berkontribusi besar melalui karya amal, pendidikan, dan doa. Sebut saja diantaranya Ruth Bader Ginsburg (1933-2020), Rosa Parks (1913-2005), Maya Angelou (1928-2014) dan masih banyak lagi.

Di tengah tantangan kebencian, kekerasan, dan konflik ideologis yang dihadapi dunia saat ini, kontribusi perempuan semakin dibutuhkan. Beliau menyoroti pentingnya pendidikan bagi perempuan, dengan tujuan mempromosikan kesetaraan dan mendorong generasi muda untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi.

Dunia saat ini membutuhkan banyak tokoh yang tidak takut untuk menyuarakan kesetaraan, bahkan bila perlu menantang budaya yang telah mapan. Bagi agama, kesetaraan bukan sekadar agenda feminis atau kaum sekuler. Lebih dari itu, ia merupakan panggilan iman yang berpihak kepada yang lemah dan terpinggirkan. Iman yang menolak ketidakadilan yang dibungkus dengan otoritas keagamaan.

Teman, kita harus merefleksikan kembali bahwa mengikuti teladan Paus Fransiscus bukan hanya mengenang semata, namun juga meneruskan warisan reformasi yang lebih inklusif dan penuh kasih. Warisan ini menuntut kita untuk terus menyuarakan dan memperjuangkan hak-hak yang selama ini terabaikan, tanpa rasa takut maupun kompromi. Tanggung jawa kita saat ini adalah memastikan kalau semangat reformasi ini terus menyala, dalam setiap langkah untuk dunia yang lebih adil, lebih setara, dan lebih berperikemanusiaan.

Dari tulisan ini saya hendak mengajak sahabat semua agar kita sadar bahwa ada persoalan fundamental dan sistemik, yang membutuhkan perubahan cara pandang kita terhadap kehidupan kita bersama. Bagaimana kita memperlakukan bumi dan sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki hak dan perlu dihormati, sehingga kita tidak menghancurkan planet bumi dan peradaban kita saat ini. Iman dan spiritualitas menjadi poros utama untuk mendorong perubahan. Ajaran agama perlu digali kembali dan digunakan sebagai kerangka berpikir membangun peradaban yang lebih baik dan berkelanjutan.

Paus Fransiscus mengajarkan kita bahwa beliau tidak hanya berbicara tentang perubahan, namun sungguh-sungguh mewujudkan perubahan yang berani dan membumi. Beliau membuktikan bahwa kepemimpinan spiritual sejati bukan soal mempertahankan tradisi semata, namun lebih dari itu. Menghidupkan nilai-nilai keadilan pada zaman yang kian berubah menjadi tanggung jawab kita bersama.

Penulis merupakan salah satu pendiri Eco-Peace, bekerja sebagai peneliti di isu masyarakat adat, lingkungan dan migrasi.

Catatan Kaki

  • [1] Ensiklik Laudato Si’, 2015.
  • [2] Nasihat Apostolik Laudate Deum, 2023.
  • [3] Evangelii Gaudium, 2013.
  • [4] Document on Human Fraternity Bersama Imam Besar Al-Azhar di Abu Dhabi, 2019.
  • [5] Ensiklik Fratelli Tutti, 2020.
  • [6] “Perempuan dalam Gereja: Pembangunan Kemanusiaan” Maret 2024

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Sineba Scarf, Jilbab Bermotif Ikon Khas Bengkulu, Bunga Rafflesia

Sineba Scarf, Jilbab Bermotif Ikon Khas Bengkulu, Bunga Rafflesia

Jamu Kekinian Rasa Tradisi Kisah Erin dan “Mise Bounce” yang Bikin Repeat Order! (1)

Jamu Kekinian Rasa Tradisi: Kisah Erin dan “Mise en Bounce” yang Bikin Repeat Order!

Breadcrumbing: Perhatian Receh yang Bikin Kamu Susah Pergi

Leave a Comment