Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Betty Herlina

News, Lingkungan

Bincangperempuan.com-  Kebun kopi bukan sekadar ruang produksi komoditas. Bagi banyak perempuan petani kopi, kebun adalah ruang kerja, ruang hidup, sekaligus jaring pengaman ekonomi keluarga. Namun, perubahan cara kelola kebun yang sering dipromosikan atas nama efisiensi, justru dapat memutus sumber penghidupan perempuan secara perlahan.

Hal itulah yang dialami Siti Hermi, perempuan petani kopi di Bengkulu sekaligus penggerak Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti). Keputusan yang ia ambil bersama suaminya, Depi, sekitar 2007 untuk menggunakan herbisida kimia di kebun kopi mereka, menjadi titik balik yang pahit.

“Yang paling terdampak itu cabai rawit,” kata Siti saat ditemui di rumah Ketua Koppi Sakti Bengkulu, Supartina Paksi, Selasa (16/12/2025). Cabai rawit selama ini menjadi penopang utama ekonomi keluarga, terutama sebelum musim panen kopi tiba. Di banyak rumah tangga petani kopi, tanaman sela seperti cabai rawit adalah wilayah kerja perempuan sumber pendapatan harian yang memberi mereka posisi tawar dalam ekonomi keluarga.

Saran penyuluh untuk menyemprot rumput dengan herbisida kimia dianggap sebagai jalan pintas agar kebun lebih “bersih” dan mudah dikelola. “Dulu rumput hanya ditebas dan disiangi. Tapi karena dibilang lebih cepat, kami mulai meracun rumput,” ujar Siti.

“Mati Gadis”: Alarm dari Kebun

Beberapa waktu setelah herbisida digunakan, tanda-tanda kerusakan mulai muncul. Daun cabai rawit mengeriting, menguning, muncul bercak putih, lalu rontok. Buah menjadi bantut dan menghitam. Dalam istilah lokal, kondisi ini disebut meranting—pohon hidup, tetapi tak lagi berdaun.

Masalah serupa kemudian menyerang kopi muda. “Hari ini masih segar, besok sudah mati. Kami menyebutnya mati gadis,” kata Siti. Batang dan akar membusuk seolah disiram air panas. Jika pun bertahan hidup, kopi tumbuh kerdil, berbuah sedikit, dan hanya berumur pendek.

Pada tahap ini, solusi yang ditawarkan kembali berbasis kimia: pestisida. Namun, hasilnya nihil. Bahkan bibit cabai rawit mati sejak di persemaian. Sekitar 2016–2017, Siti dan suaminya akhirnya berhenti menanam cabai rawit.

“Semakin lama, semakin tidak memberikan hasil. Tidak bisa diharapkan lagi. Bahkan, secara ekonomi, kami terus mengalami kerugian. Walau berat untuk berhenti menanam cabai rawit, hal tersebut terpaksa harus dilakukan,” ujar Siti.

Ingatan Perempuan Merawat Cabai

Sebagai perempuan yang sejak remaja terlibat di kebun, Siti menyimpan ingatan kolektif tentang praktik bertani yang lebih ramah alam. Sebelum herbisida, cabai rawit bisa hidup hingga lima tahun, batangnya besar, daun rimbun, dan panennya lebat.

Ia mengingat ajaran ibunya: ketika cabai menua, batangnya direbahkan ke tanah, ditimbun serasah, lalu dirangsang tumbuh tunas baru. Rumput dibiarkan tumbuh, hanya sesekali ditebas. Praktik ini bukan sekadar teknis, melainkan pengetahuan ekologis yang diwariskan lintas generasi perempuan.

Siti juga melakukan inovasi sendiri. Ia menanam lebih banyak cabai rawit di sekitar pohon kopi dan mengatur panen mingguan agar selalu ada pemasukan. “Dengan rawit, kita tidak perlu menjual tenaga ke kebun orang lain,” pesan ibunya dulu.

Kerusakan tidak berhenti pada cabai. Pohon kopi perlahan menunjukkan gejala penurunan: daun menguning, batang berjamur, dahan rapuh, buah berkurang, hingga kematian massal. “Pernah kami menyulam sampai 500 batang,” kata Siti.

Situasi ini menegaskan bahwa pendekatan pertanian berbasis input kimia tidak hanya merusak tanah, tetapi juga menghancurkan sistem penghidupan yang selama ini menopang perempuan petani.

Siti Hermi, perempuan petani kopi di Bengkulu dan penggerak Koalisi Perempuan Petani Kopi Desa Kopi Tangguh Iklim (Koppi Sakti), menunjukkan buah kopi di kebunnya yang dikelola tanpa herbisida kimia. Praktik berbasis perawatan mulsa, lubang angin, dan pohon multiguna membantu memulihkan tanah sekaligus sumber penghidupan perempuan petani. (foto: istimewa)

Kebun Kopi Tangguh Iklim: Kembali ke Praktik Berbasis Perawatan

Sejak pertengahan 2024, Siti bersama perempuan petani kopi lain di Koppi Sakti mulai membangun Kebun Kopi Tangguh Iklim. Pendekatan ini menempatkan perempuan sebagai aktor utama pemulihan kebun.

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain menghentikan penggunaan herbisida kimia, membuat lubang angin (mini rorak), menanam pohon multiguna, serta mengolah rumput dan ranting hasil pangkasan menjadi mulsa dan pupuk organik.

Hasilnya mulai terlihat. Batang kopi lebih kokoh, daun lebih hijau, bunga lebih lekat, dan buah lebih padat. “Panen kopi 2025 mencapai 1,7 ton. Tahun sebelumnya hanya 700 kilogram,” ujar Siti.

Melawan Trauma, Menanam Harapan

Trauma menanam cabai rawit masih membekas. Dengan dukungan Nusantara Fund, Siti mencoba menanam kembali—meski setengah hati. Hanya sekitar 50 batang, ditanam dekat lubang angin dan nyaris tanpa perawatan.

Hasilnya justru mengejutkan. Cabai tumbuh subur, berbuah lebat, dan menghasilkan panen hingga sembilan kilogram pada panen kedua. Pengalaman ini perlahan memulihkan kepercayaan diri Siti sebagai perempuan petani.

Merawat Tanah, Merawat Kehidupan

Kini, Siti dan suaminya merencanakan perluasan lubang angin dan produksi pupuk organik. Baginya, Kebun Kopi Tangguh Iklim bukan hanya soal adaptasi perubahan iklim, tetapi juga pemulihan relasi perempuan dengan tanah.

“Ini bukan cuma memperbaiki kebun yang rusak, tapi merawat kembali sumber-sumber penghidupan perempuan yang sempat dilupakan,” tutup Siti.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa ketangguhan iklim tidak bisa dilepaskan dari keadilan gender. Ketika perempuan petani diberi ruang, pengetahuan, dan kendali atas kebun, yang pulih bukan hanya tanah, melainkan juga keberlanjutan hidup keluarga dan komunitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Hilang Rasa Begitu Disukai Balik Bisa Jadi Itu Bukan Cinta, Tapi Limerence

Hilang Rasa Begitu Disukai Balik? Bisa Jadi Itu Bukan Cinta, Tapi Limerence

Gaya Energi Feminin: Keseimbangan Antara Energi Gelap dan Terang

Mengapa Period Poverty Perlu Menjadi Isu Utama di Indonesia?

Leave a Comment