Kerja Domestik Tak Terlihat, Tetapi Lelahnya Nyata

Ais Fahira

News

Kerja Domestik Tak Terlihat, Tetapi Lelahnya Nyata

Bincangperempuan.com– Seorang ibu baru saja selesai mencuci baju, menyapu, memasak, dan menyusui anak. Badannya masih hangat oleh keringat, punggungnya pegal seperti digaruk batu. Ia duduk sebentar, meneguk napas, jemarinya bermain di layar ponsel. Dari luar pintu, suara entah milik mertua, tetangga, atau siapa saja yang merasa tahu isi hidupnya, menyelip masuk “Baru bangun ya? Nganggur aja.”

Kalimat tersebut seolah meremehkan kerja domestik yang menguras fisik dan mental seorang perempuan. Apa yang telah dikerjakan tidak dihitung sebagai “kerja” sama sekali. Padahal, di balik rumah yang rapi dan anak yang terurus, ada tenaga, waktu, dan keterampilan yang menopang bukan hanya keluarga, tapi juga perekonomian.

Kerja Domestik = Kerja Tak Terlihat

Kerja domestik kerap masuk ke kategori invisible labor, atau pekerjaan tak kasat mata. Melansir dari situs pendidikan psikologi Arizona University, invisible labor merujuk pada segala bentuk pekerjaan yang tidak diakui sebagai “produktif” karena tidak menghasilkan uang secara langsung, meskipun memakan waktu, tenaga, dan pikiran yang besar. 

Istilah invisible labor mencakup dua hal yaitu kerja fisik dan kerja kognitif. Kerja fisik meliputi memasak, bersih-bersih, mencuci pakaian, sampai memandikan anak. Sedangkan kerja kognitif justru yang paling menguras seperti merencanakan menu, mengingat stok bahan makanan, mengatur jadwal imunisasi, sampai memikirkan keuangan keluarga.

Tidak adanya gaji membuat kerja ini jarang dihitung sebagai kontribusi ekonomi. Hanya ada standar sosial yang tinggi dan kritik pedas jika rumah tampak berantakan atau anak terlihat “kurang terurus.” Ironisnya, semua kerja ini menjadi pondasi yang membuat anggota keluarga lain bisa produktif di ranah publik. Dan tanpa invisible labor, banyak pekerjaan berbayar di luar rumah tidak akan bisa berjalan dengan mulus.

Baca juga: Memotret Beban Reproduksi Perempuan Melalui Tren Saat Gadis Vs Setelah Jadi Ibu

Kontribusi Ekonomi Kerja Domestik yang Terabaikan

Padahal menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II tahun 2024, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54–55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Angka ini menegaskan betapa aktivitas ekonomi yang dilakukan di lingkup rumah tangga mulai dari pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari hingga pengelolaan konsumsi memegang peranan vital dalam roda perekonomian nasional.

Bahkan menurut estimasi International Labour Organization (ILO), kerja domestik yang umumnya dilakukan perempuan seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak memiliki nilai ekonomi yang setara dengan 30% dari PDB jika dihitung sebagai aktivitas kerja formal. Sayangnya, kontribusi ini tidak tercatat dalam statistik resmi ketenagakerjaan dan seringkali tidak diakui sebagai “pekerjaan” karena tidak menghasilkan upah langsung.

Kondisi ini menciptakan paradoks bahwa aktivitas rumah tangga menopang ekonomi nasional, tetapi para pelakunya justru sering dianggap “tidak bekerja” atau “menganggur”, terutama ketika mereka mengambil jeda sejenak untuk beristirahat. Stigma ini berakar pada bias gender dan definisi sempit kerja produktif yang hanya menghargai aktivitas berupah di ruang publik.

Baca juga: Ketika Ibu Jeda Sejenak dari Beban Pengasuhan

Hegemoni Peran Gender

Pandangan bahwa perempuan adalah “pekerja domestik bawaan lahir” sudah dibentuk dan dipertahankan oleh sistem sosial yang patriarki. Dari kecil, anak perempuan lebih sering dilatih untuk membantu pekerjaan rumah, sementara anak laki-laki dibebaskan atau diberi tugas fisik yang sifatnya sementara. Pola ini membentuk pemahaman bahwa kerja domestik adalah kodrat perempuan, bukan keterampilan yang seharusnya bisa dibagi rata.

Pemahaman ini makin mengakar lewat norma budaya yang membatasi ruang istirahat perempuan. Perempuan yang terlihat duduk atau beristirahat sering dilabeli malas, seolah-olah waktu senggangnya adalah bentuk kelalaian. Padahal, jika posisi dibalik, seorang ayah duduk di sofa setelah bekerja seharian di kantor, istirahatnya justru dianggap wajar. 

Dari sana lahir standar “ibu sejati” yang diam-diam membelenggu, terutama di masyarakat seperti Indonesia. Ibu sejati adalah yang melahirkan normal tanpa operasi sesar, memberikan ASI eksklusif, mengurus anak tanpa pengasuh, dan hadir untuk keluarga tanpa keluhan. Standar ini sebenarnya sebenarnya mengisolasi perempuan dari solidaritas sesama perempuan. Karena menciptakan standar bahwa hanya ada satu cara ideal menjadi ibu. Perempuan yang tidak memenuhi standar tersebut akhirnya kerap merasa gagal, padahal setiap situasi hidup berbeda, ada yang melahirkan sesar demi keselamatan, ada yang bekerja di luar rumah sebagai pencari nafkah, ada yang butuh bantuan pengasuh karena minim dukungan keluarga.

Invisible Labor dan Dampaknya Bagi Perempuan

Tuntutan menjadi supermom membuat beban kerja tak kasat mata atau invisible labor semakin berat. Penelitian dalam South Eastern European Journal of Public Health menunjukkan bahwa perempuan yang memikul beban kerja domestik tak terlihat memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelelahan, kecemasan, dan depresi. Pekerjaan rumah tangga yang repetitif seperti mencuci, membersihkan, atau mengurus anak—dapat menyebabkan nyeri punggung, gangguan otot dan sendi, hingga kelelahan kronis. Selain itu banyak perempuan melaporkan tingkat stres yang tinggi, kecemasan, depresi, dan burnout emosional akibat terus berada dalam mode “siaga” tanpa jeda.

Beban ini semakin diperparah oleh rasa terisolasi, perasaan bersalah, dan berkurangnya harga diri karena kerja domestik sering tidak dianggap sebagai kontribusi penting. Waktu yang tersedot untuk pekerjaan rumah membuat perempuan kehilangan kesempatan mengembangkan diri, bersosialisasi, atau sekadar merawat tubuh dan pikirannya sendiri. Dalam banyak kasus, mereka bahkan menunda atau mengabaikan kebutuhan medis karena terjebak dalam peran pengasuh utama. 

Kondisi ini menunjukkan urgensi untuk mengakui kerja domestik sebagai pekerjaan yang bernilai, baik di tingkat kebijakan maupun dalam budaya keluarga. Solusi struktural seperti pembagian tanggung jawab rumah tangga yang lebih adil dan dukungan nyata bagi perempuan sangat dibutuhkan. Mengakui dan menghargai invisible labor bukan hanya akan meningkatkan kesehatan fisik dan mental perempuan, tetapi juga membangun lingkungan yang lebih setara dan suportif bagi semua.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

WAIPA 2024: Perempuan ASEAN, Kekuatan Politik yang Tangguh dan Terhubung

RUU PPRT mandeg

Mangkrak 10 Tahun, Puan, Stop Sandera RUU PPRT

Mempertanyakan arti normal melalui Gadis Minimarket

Mempertanyakan Arti Normal dalam Gadis Minimarket

Leave a Comment