Memotret Beban Reproduksi Perempuan Melalui Tren Saat Gadis Vs Setelah Jadi Ibu

Ais Fahira

News

Memotret Beban Reproduksi Perempuan Melalui Tren Saat Gadis Vs Setelah Jadi Ibu

Bincangperempuan.com– Di TikTok, tren “saat gadis vs saat jadi ibu” menjamur dalam berbagai versi. Formatnya terdiri dari dua slide atau dua video pendek yang menampilkan transformasi drastis perempuan sebelum menikah dan setelah punya anak. Slide pertama biasanya menunjukkan perempuan tampil segar, makeup on point, pakaian rapi dan gaya hidup bebas. Di slide berikutnya, yang muncul adalah versi mereka setelah jadi ibu dengan wajah polos tanpa riasan, rambut awut-awutan, daster lusuh, bayi di pangkuan, atau keranjang baju kotor di belakang layar.

Sekilas kelihatan lucu karena dikemas dengan musik bernada ceria, khas gaya TikTok. Tapi di balik itu, tren ini secara tidak langsung membuka pintu untuk memahami beban besar yang dialami tubuh dan hidup perempuan dalam menjalani proses reproduksi.

Tren ini bukan sekadar nostalgia masa gadis, tetapi juga jeritan halus tentang perubahan besar yang tidak selalu mendapat perhatian serius. Mulai perubahan fisik, mental, sosial—yang semuanya dibebankan kepada perempuan, nyaris tanpa kompensasi apa pun.

Baca juga: Dari Permen ke Donasi Sepihak: Cerita Konsumen dan Kembalian yang Tak Benar-benar Kembali

Perubahan Fisik yang Nyata dan Berat

Melansir dari Healthline proses kehamilan dan persalinan membawa perubahan besar pada tubuh perempuan. Perubahan ini tidak berhenti setelah bayi lahir, bahkan bisa berlanjut hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun ke depan. Beberapa perubahan fisik tersebut meliputi:

1. Kulit dan Wajah

Perempuan sering mengalami melasma, yaitu munculnya bercak gelap di wajah akibat perubahan hormon. Ada juga linea nigra, garis kehitaman yang membentang di perut. Stretch marks pun menjadi teman baru di banyak bagian tubuh. Beberapa mengalami kulit lebih kering atau malah lebih berminyak dari biasanya. Hal ini bisa membuat wajah terlihat berbeda dari sebelumnya—kusam, lelah, atau ‘tidak bercahaya’ seperti masa gadis.

2. Rambut dan Kuku

Saat hamil, rambut bisa terlihat lebih lebat karena hormon menghentikan siklus rontok. Tapi setelah melahirkan, banyak perempuan mengalami postpartum hair loss, kerontokan parah yang membuat rambut rontok segenggam-segenggam. Bukan hanya mengubah penampilan, tapi juga memengaruhi rasa percaya diri.

3. Payudara dan Pinggul

Payudara membesar, menjadi sensitif, bahkan terasa nyeri karena perubahan hormon dan aktivitas menyusui. Pinggul melonggar sebagai persiapan persalinan. Ini bukan hanya soal “berat badan naik”, tapi benar-benar terjadi perubahan struktur dan bentuk tubuh.

4. Perut dan Otot Tubuh

Banyak ibu mengalami diastasis recti, yaitu kondisi di mana otot perut terpisah akibat kehamilan. Setelah melahirkan, bagian perut sering tampak bergelambir dan terdapat stretch mark. Ini bukan ‘lemak biasa’ yang bisa hilang dengan diet ketat, melainkan akibat perubahan fisiologis yang kompleks.

5. Sistem Pencernaan dan Buang Air

Perubahan hormon dan tekanan dari janin bisa menyebabkan konstipasi, inkontinensia (susah menahan kencing), bahkan hemoroid. Masalah ini sangat mengganggu, tapi jarang dibicarakan karena dianggap tabu atau memalukan.

Bukan Sekadar Tubuh yang Berubah

Perubahan yang dialami perempuan setelah melahirkan tidak berhenti di tubuh. Justru, perubahan terbesar terjadi pada ritme hidup mereka—cara berpikir, cara tidur, bahkan cara bernapas pun ikut berubah. Setelah seorang perempuan menjadi ibu, hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri. Ia harus membagi waktu, tenaga, dan pikirannya untuk makhluk kecil yang sepenuhnya bergantung padanya.

Bangun tengah malam sudah jadi rutinitas. Menyusui tiap dua jam, mengganti popok berulang kali, menenangkan tangis bayi yang bahkan kadang tak jelas penyebabnya—semuanya dilakukan dalam keadaan tubuh yang masih dalam masa pemulihan pascamelahirkan. Sambil itu, banyak ibu tetap harus memasak, membersihkan rumah, dan bahkan kembali ke pekerjaan kantoran karena cuti melahirkan yang minim atau tekanan ekonomi.

Di sinilah letak tekanan mental itu bermula. Ketika tubuh belum pulih, tapi ekspektasi sosial tetap menuntut “ibu yang baik” tampil sempurna, tersenyum hangat, sabar menghadapi segala kekacauan. Tidak sedikit perempuan yang merasa gagal karena merasa “lemah” atau “tidak cukup baik” ketika menangis sendirian di kamar mandi atau merasa marah karena tidak bisa tidur selama tiga hari.

Bahkan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dilansir dari Tempo, sekitar 57 persen ibu di Indonesia mengalami gejala baby blues atau depresi pascamelahirkan. Ini angka yang besar—lebih dari setengah—namun masih sering dianggap sebagai “fase wajar” yang bisa dilewati begitu saja tanpa pendampingan atau dukungan.

Padahal baby blues bisa membuat seorang ibu merasa hampa, tak berguna, atau malah takut menyentuh anaknya sendiri. Dalam kasus yang lebih berat, ini bisa berkembang menjadi depresi postpartum yang memengaruhi ikatan ibu-anak dan bahkan keselamatan keduanya.

Sayangnya, karena budaya kita begitu melekatkan identitas ibu dengan citra yang “kuat”, “tahan banting”, dan “penuh pengorbanan”, banyak perempuan memilih diam. Alih-alih mengungkapkan kelelahan atau meminta bantuan, mereka belajar memendam. Mereka takut dihakimi, takut disebut tidak bersyukur, atau takut dianggap tidak pantas menjadi ibu.

Baca juga: Eksklusifitas yang Dibungkus dalam Narasi Inklusifitas

Antara Realitas dan Ekspektasi

Selain itu perempuan yang dari segi ekonomi dan status biasa, umumnya tidak punya waktu, tenaga, atau dana untuk “kembali langsing” seperti artis yang setelah melahirkan bisa langsung tampil prima. Mereka tidak punya nanny, tidak punya waktu olahraga harian, atau akses treatment tubuh yang mahal.

Tapi ekspektasi masyarakat tetap sama yaitu istri harus tampil terawat, tetap ceria, tetap melayani, dan jangan mengeluh. Sementara laki-laki, dengan status baru sebagai “ayah” justru membuat mereka naik derajat sosial. Dapat ucapan selamat, dianggap matang, bertanggung jawab. Sementara perempuan harus siap dibandingkan dengan dirinya sendiri yang dulu.

Tren “gadis vs ibu” mengingatkan kita bahwa tubuh perempuan tidak seharusnya diukur dengan standar yang sama sepanjang hidupnya. Tubuh perempuan adalah proses, bukan produk. Ia berubah, menua, dan menyesuaikan diri dalam perjuangan yang nyaris tidak pernah selesai. Yang seharusnya kita rayakan bukan kemampuan perempuan untuk kembali seperti dulu, tapi kemampuannya untuk bertahan meski tubuhnya tak lagi sama.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Layanan Aborsi Aman bagi Korban Perkosaan dan Kekerasan Seksual Lainnya

Layanan Aborsi Aman bagi Korban Perkosaan dan Kekerasan Seksual Lainnya

Minum Es Saat Menstruasi Bikin Darah Beku, Mitos atau Fakta

Minum Es Saat Menstruasi Bikin Darah Beku, Mitos atau Fakta?

Benarkah Ukuran Payudara Berubah Jika Sering Disentuh?

Leave a Comment