Bincangperempuan.com- Vera Kravtsova model asal Belarusia, hanya ingin hidup lebih baik. Tawaran pekerjaan model yang ia terima melalui internet terdengar meyakinkan. Hampir semua orang bisa saja tergoda oleh kesempatan semacam itu. Tetapi sesampainya di negara tujuan, Vera diculik, dipaksa bekerja di Myanmar, lalu dibunuh secara brutal. Organ tubuhnya dijual. Kisah ini terdengar luar biasa kejam, tetapi bukan kasus yang berdiri sendiri.
Kita sering mendengar anggapan bahwa korban “kurang hati-hati” ketika seseorang terjerat kejahatan lintas negara. Padahal masalahnya jauh lebih kompleks. Sebagian besar proses perekrutan dimulai dari interaksi digital seperti pesan pribadi berisi tawaran kerja, wawancara palsu melalui video call, akun agensi atau perusahaan yang tampak resmi, hingga pendekatan personal yang dibangun secara perlahan. Semua ini merupakan bagian dari kekerasan berbasis gender online yang sering direduksi hanya sebatas komentar kasar atau pelecehan. Padahal, KBGO juga mencakup manipulasi dan kendali yang diakses pelaku melalui ruang digital sebelum kekerasan fisik terjadi.
Pola ini muncul di banyak kasus lain, korban direkrut oleh agensi palsu yang beroperasi penuh secara online sebelum akhirnya diculik dan dipaksa bekerja, jika tidak mencapai target tubuh mereka diperdagangkan. Di sini perempuan dijerat jaringan penipuan dan perdagangan manusia di Myanmar melalui iklan lowongan kerja di media sosial, yang menawarkan gaji besar—sesuatu yang wajar saja tampak menarik dalam situasi ekonomi yang serba sulit.
Masalahnya bukan terletak pada kurangnya kewaspadaan perempuan. Masalahnya bersifat struktural. Ketimpangan ekonomi membuat perempuan lebih rentan terhadap tawaran peningkatan kesejahteraan, dan para pelaku memahami kerentanan itu. Mereka sengaja menciptakan skenario yang tampak meyakinkan, menggunakan pola pendekatan yang sangat terarah pada gender seperti tawaran kerja, peluang modeling, pekerjaan lepas, atau bahkan hubungan personal yang tampak aman.
Di titik inilah kita perlu mendefinisikan ulang KBGO. Kekerasan berbasis gender online bukan hanya soal ujaran atau pelecehan, tetapi rantai kekerasan digital yang dapat berujung pada eksploitasi, perdagangan manusia, dan femisida. Semuanya dimulai dari ruang yang selama ini dianggap sepele—DM, tautan lowongan, pendekatan online—padahal di sanalah celah terbesar bagi pelaku untuk memprofilkan, memancing, dan menjebak perempuan.
Baca: #SamaSamaAman: Ketika Match Jadi Ancaman: KBGO di Aplikasi Kencan Daring
KBGO Jadi Celah Kriminalitas Lintas Negara
Kasus seperti yang telah diuraikan sebelumnya memperlihatkan dengan jelas bahwa Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dapat menjadi celah masuk bagi kriminalitas lintas negara, termasuk perdagangan manusia. United Nations menempatkan pola kekerasan ini dalam kategori Technology-Facilitated Gender-Based Violence (TFGBV)—kekerasan berbasis gender yang dilakukan, diperluas, atau dimungkinkan oleh teknologi.
Konsep ini menegaskan bahwa kekerasan tidak harus bersifat seksual untuk digolongkan sebagai TFGBV. Selama tindakan tersebut bertujuan merendahkan, mengontrol, atau mengeksploitasi seseorang berdasarkan gendernya, maka itu termasuk dalam bentuk kekerasan gender di ranah digital. Bentuk-bentuk TFGBV yang paling sering ditemui di ruang digital meliputi:
- Cyberstalking, atau penguntitan melalui dunia maya.
- Doxxing, yakni pengungkapan data pribadi tanpa izin.
- Online impersonation, di mana pelaku menyamar sebagai pihak yang dipercaya korban.
- Digital surveillance dan kontrol, termasuk pemantauan lokasi dan akses ilegal ke akun pribadi.
- Online recruitment to trafficking, yaitu perekrutan korban perdagangan manusia melalui platform digital.
Poin penting yang perlu dipahami adalah bahwa KBGO bukan sekadar “online abuse”. Dalam banyak kasus, KBGO merupakan tahap awal dari kekerasan fisik ekstrem. Rantai eskalasinya dapat terlihat sangat dari grooming, kontrol, isolasi, eksploitasi hingga trafficking dan femisida. Semua ini sering kali dimulai dari interaksi online yang tampak biasa—sebuah pesan, tawaran kerja, atau akun profesional palsu yang sengaja dirancang untuk menciptakan kepercayaan.
Di tengah situasi ekonomi yang sulit, tawaran semacam ini sangat mudah dipercaya, terutama oleh perempuan yang mencari peluang kerja yang lebih aman dan stabil. Namun justru di titik inilah risiko terbesar muncul.
Fenomena ini tidak terlepas dari ekosistem digital yang memberi ruang gerak luas bagi pelaku. Anonimitas, teknik manipulasi, phishing, impersonation, hingga kemudahan menyebarkan atau mencuri data pribadi membuat proses perekrutan dan pengendalian jauh lebih mudah dilakukan. Risiko-risiko ini sangat bersifat gendered: perempuan lebih sering menjadi target karena pelaku memanfaatkan ketimpangan ekonomi, stereotip sosial, serta bias gender yang sudah mengakar.
Baca: #SamaSamaAman: Petaka Perempuan di Balik Gawai Pintar
Urgensi Redefinisi KBGO
Situasi tersebut menunjukkan bahwa definisi KBGO yang selama ini beredar terlalu sempit. Jika KBGO hanya dipahami sebagai pelecehan seksual di internet, maka bentuk-bentuk kekerasan lain—yang justru berbahaya dan mematikan—luput dari perhatian. Karena itu, redefinisi KBGO perlu dilakukan agar lebih mencerminkan spektrum kekerasan yang terjadi di era digital. Redefinisi tersebut harus mencakup:
- Digital recruitment dan grooming, termasuk pendekatan awal melalui akun palsu atau tawaran kerja.
- Human trafficking berbasis digital, di mana proses perekrutan, pemindahan, dan kontrol terhadap korban berlangsung melalui teknologi.
- Digital coercive control, seperti pengawasan lokasi, akses ilegal ke akun pribadi, atau ancaman berbasis data.
- Doxxing dan pemantauan digital, yang dapat membuka jalan menuju kekerasan fisik.
- Eksploitasi finansial digital, termasuk pemerasan, ancaman, atau pencurian data untuk menekan korban.
Melalui redefinisi ini, kita dapat membaca ulang pola kekerasan berbasis gender yang berkembang saat ini. Jika ingin mencegah tragedi serupa terulang, kita perlu mengakui bahwa kekerasan tersebut sering kali tidak dimulai dengan pukulan, ancaman langsung, atau tindakan fisik lainnya. Ia bermula dari sebuah pesan online yang tampak tidak berbahaya, tetapi membuka jalan bagi manipulasi, kontrol, dan eksploitasi yang jauh lebih serius.
Referensi:
- CNN Indonesia. (2025, 18 Oktober). Model asal Belarusia diculik ke Myanmar, dibunuh, organ tubuh dijual. https://www.cnnindonesia.com/internasional/20251018140451-106-1285955/model-asal-belarusia-diculik-ke-myanmar-dibunuh-organ-tubuh-dijual/amp
- United Nations. (n.d.). Child and Youth Safety Online. https://www.un.org/en/global-issues/child-and-youth-safety-online
- UN Women. (2023, Maret). Expert Group Meeting Report: Technology-facilitated violence against women. https://knowledge.unwomen.org/sites/default/files/2023-03/Expert-Group-Meeting-report-Technology-facilitated-violence-against-women-en.pdf
- UN Women. (2024, September). Technology-Facilitated Gender-Based Violence: A Shared Research Agenda. https://www.unwomen.org/sites/default/files/2024-09/technology-facilitated-gender-based-violence-shared-research-agenda-en.pdf
