Bincangperempuan.com- B’Pers, apakah kamu punya idola? Ketika memikirkan sosok idola entah itu penyanyi, aktor, influencer, atau karakter fiksi. Apakah kamu pernah merasa mengenal mereka secara pribadi?
Mungkin kamu rutin menonton wawancaranya, membaca berita tentangnya, atau bahkan menjadikan wajahnya sebagai wallpaper ponsel. Mungkin kamu juga membeli produk atau atribut yang mereka promosikan, mengikuti setiap unggahan di media sosial, bahkan kadang merasa ngobrol langsung dengan mereka di kepala, seolah-olah kalian teman dekat. Kalau iya, bisa jadi kamu sedang mengalami parasocial relationship.
Apa Itu Parasocial Relationship?
Mengutip Psychology Today, parasocial relationship adalah hubungan satu arah di mana seseorang merasa punya ikatan emosional, kedekatan, atau keakraban dengan seseorang yang sebenarnya tidak mengenalnya—biasanya seorang figur publik atau selebriti. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada tahun 1956, saat televisi mulai populer dan penonton mulai mengalami “ilusi keintiman” dengan tokoh-tokoh di layar kaca.
Meski hubungan ini bersifat imajiner, perasaan yang muncul bisa terasa nyata. Banyak orang yang melihat idola mereka sebagai sumber inspirasi, hiburan, bahkan motivasi. Dalam dosis yang wajar, parasocial relationship bisa memberi dampak positif, karena manusia memang butuh figur untuk diidolakan sebagai bentuk aspirasi.
Baca juga: Merakit Hubungan Sendiri: Beban Emosional Perempuan di Balik IKEA Effect
Sisi Positif Parasocial Relationship
Hubungan parasosial bisa menjadi ruang aman bagi banyak orang untuk menemukan makna, semangat, dan solidaritas. Misalnya, banyak penggemar yang justru berkembang karena termotivasi oleh perjuangan idolanya. Ada yang mulai menulis, menari, atau berkarya karena melihat idola mereka konsisten mengejar mimpi.
Contoh nyata datang dari komunitas BTS ARMY Indonesia. Pada tahun 2020, mereka menyalurkan lebih dari empat juta rupiah kepada “rumah aman” yang dikelola Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK Jakarta sebagai bentuk solidaritas terhadap perempuan korban kekerasan. Aksi itu terinspirasi oleh nilai-nilai kemanusiaan yang sering disuarakan oleh BTS. Di sinilah parasocial relationship menjadi jembatan untuk kebaikan—mengubah kekaguman menjadi tindakan nyata yang berdampak sosial.
Selain itu, parasocial relationship juga bisa memperluas lingkar pertemanan. Orang yang memiliki idola yang sama biasanya merasa saling terhubung, membentuk komunitas, dan menemukan rasa memiliki. Internet menjadikan semua itu lebih mudah. Kita tak lagi hanya penonton pasif, tapi bagian dari narasi besar yang diciptakan bersama idola kita.
Ketika Parasocial Relationship Jadi Toxic
Namun, seperti halnya hubungan apa pun, parasocial relationship juga punya sisi gelap. Masalah muncul ketika rasa kagum berubah menjadi obsesi, atau ketika kedekatan yang semu itu membuat seseorang merasa berhak mengatur, menuntut, bahkan menghukum pihak lain atas nama idolanya.
Salah satu contohnya terlihat pada kasus Somethinc–Namjoon baru-baru ini. Admin brand kosmetik Somethinc kepergok menanggapi sebuah unggahan di X (Twitter) yang menyebut Namjoon atau RM BTS mirip Indy Barends dengan komentar bercanda, “UDAH BAAANG 😭😭😭 🫸🏻🫸🏻🫸🏻.” Candaan itu dianggap menghina dan memicu kemarahan ARMY Indonesia, apalagi setelah dikaitkan dengan unggahan yang menyinggung fisik sang idol.
Akibatnya, akun resmi Somethinc dibanjiri hujatan, siaran langsung mereka diserbu komentar marah, dan para staf yang tidak terlibat pun ketakutan kehilangan pekerjaan.
Kasus lain yang sempat viral adalah “Safa Space” pada tahun 2022. Seorang penggemar NCT bernama Safa dianggap menghina dua anggota NCT Dream melalui unggahan Twitter-nya. Sesama penggemar menuntut ia membuat surat permintaan maaf di atas materai dan video permohonan maaf yang ditandatangani orang tuanya.
Salah satu akun bahkan mengaku sebagai perwakilan idol dan mengancam akan membawa kasus itu ke ranah hukum. Tekanan makin besar saat forum Space dua setengah jam dibuka khusus untuk menekan Safa secara publik, yang akhirnya membuat namanya trending di Twitter.
Dua peristiwa ini menunjukkan sisi lain dari parasocial relationship ketika hubungan satu arah itu menjadi dua arah—bukan karena idola membalas. Melainkan karena publik merasa memiliki dan berhak menegakkan keadilan atas nama idola. Di titik ini, batas antara kekaguman dan kekerasan emosional menghilang.
Baca juga: Backburner Relationship, Ketidakjelasan dalam Hubungan
Ketika Internet Membuat Kita Terlalu Dekat
Kedua kasus itu juga memperlihatkan bagaimana media sosial memperkuat ilusi kedekatan. Brand mencoba tampil relatable lewat gaya admin yang santai dan ekspresif, sementara fans merasa punya tanggung jawab moral terhadap idolanya. Akibatnya, hubungan yang seharusnya ringan berubah menjadi arena emosi kolektif, admin yang berusaha melerai perdebatan dianggap menghina idola.
Fenomena ini menciptakan apa yang bisa disebut sebagai “Emotive Internet” (atau Internet emosional) adalah cara memandang internet sebagai ruang publik emosional. Artinya internet juga menjadi tempat berbagi serta mengekspresikan perasaan, membangun identitas diri, bahkan menciptakan hubungan sosial yang berbasis emosi.
Dalam konteks ini, tombol like, reaksi emoji, repost, komentar marah, atau bahkan perdebatan di kolom reply bisa dianggap sebagai bagian dari “emosi kolektif digital.” Itu juga menjelaskan kenapa fenomena seperti fans yang tersinggung atau netizen yang marah pada brand bisa cepat banget membesar. Karena internet bukan lagi sekadar jaringan data, tapi jaringan perasaan.
Padahal, idola yang dibela belum tentu tahu atau peduli terhadap pertengkaran yang terjadi. Hubungan parasosial yang sehat seharusnya membuat seseorang terinspirasi, bukan terobsesi. Mengagumi boleh, tapi menganggap diri sebagai “wakil hukum” sang idola jelas berlebihan.
Menjaga Batas, Menjaga Akal Sehat
Body shaming dan komentar kebencian terhadap figur publik memang salah. Tapi membalasnya dengan hujatan massal, ancaman hukum, atau persekusi digital juga tidak bisa dibenarkan. Kita punya hak untuk membela, tetapi kita tak berhak menuntut atau menghukum—kecuali pihak yang bersangkutan, seperti sang idol atau manajemennya, secara resmi mengambil langkah hukum.
Parasocial relationship pada dasarnya tidak berbahaya selama kita menyadari batasnya. Mengidolakan seseorang bisa jadi memberi arah, motivasi, dan kebahagiaan. Namun, ketika rasa kagum berubah jadi alat untuk melampiaskan emosi, kita kehilangan kontrol atas diri sendiri. Karena di balik layar ponsel itu, semua orang tetap manusia—baik idola, admin brand, maupun sesama penggemar.
Referensi:
- Psychology Today. (n.d.). Parasocial relationships. https://www.psychologytoday.com/gb/basics/parasocial-relationships
- Scholarly Community Encyclopedia. (n.d.). Emotive Internet. Encyclopedia. https://encyclopedia.pub/entry/36751
