Bincangperempuan.com- B’Pers pernahkah kamu merasa sangat menyayangi sesuatu yang kamu buat sendiri, meskipun hasilnya tak sempurna? Misalnya, rak buku yang kamu susun dengan susah payah, kue yang kamu panggang sendiri, atau tanaman yang kamu rawat dari biji hingga tumbuh besar. Ada rasa bangga yang muncul karena kita merasa terlibat dalam proses pembuatannya.
Perasaan seperti itu ternyata memiliki istilah dalam psikologi, yaitu IKEA effect. Istilah ini diambil dari nama perusahaan furnitur asal Swedia, IKEA, yang terkenal menjual perabotan yang harus dirakit sendiri oleh pembelinya.
Fenomena ini berakar dari bias kognitif bahwa semakin besar usaha dan keterlibatan pribadi yang kita berikan, semakin besar pula nilai yang kita rasakan terhadap hasilnya. Tidak hanya dalam hal emosional, penelitian juga menunjukkan bahwa orang bersedia membayar lebih mahal untuk barang yang mereka rakit sendiri dibandingkan barang serupa yang sudah jadi. Menariknya, kecenderungan ini tidak hanya berlaku pada benda, tetapi juga pada hubungan romantis.
Hubungan sebagai Proyek yang Kita Rakit Sendiri
Dalam konteks hubungan, IKEA effect muncul ketika seseorang merasa semakin terikat karena telah berjuang keras membangun hubungan tersebut. Kalimat seperti “Aku udah nurunin standar untuk dia, masa mau nyerah gitu aja?” atau “Sayang kalau ditinggal, aku udah bantu dia berubah,” mencerminkan bagaimana kita menilai hubungan berdasarkan besarnya usaha, bukan kebahagiaan yang kita rasakan di dalamnya.
Kita kerap jatuh cinta bukan hanya kepada pasangan kita, melainkan kepada versi diri kita sendiri di dalam hubungan, seperti versi diri yang sabar, setia, dan penuh pengorbanan. Kita merasa bangga karena telah membentuk hubungan tersebut dengan kerja keras. Dengan kata lain, kita mencintai hasil karya kita sendiri.
Fenomena ini juga dapat terlihat dalam dinamika playing hard to get, atau berpura-pura sulit didapatkan. Seperti yang dijabarkan dalam artikel di Psychology Today, sikap “sulit didapat” dapat meningkatkan ketertarikan, tetapi hanya jika pihak lain merasa usahanya berpeluang berhasil. Jika terlalu tampak tidak tertarik, upaya tersebut bisa berbalik menjadi penolakan. Tetapi jika terlalu mudah didapat, daya tarik pun berkurang karena dianggap tidak memiliki standar tinggi.
Keseimbangan ini menciptakan situasi di mana seseorang harus berjuang sedikit lebih keras, dan justru dari perjuangan itulah muncul perasaan keterikatan. Sama seperti furnitur IKEA—semakin sulit proses perakitannya, semakin besar rasa kepuasan setelah selesai.
Namun, berbeda dengan furnitur, dalam konteks hubungan, “merakit” seseorang bisa menjadi proses yang melelahkan dan bahkan berisiko menyakiti diri sendiri.
Baca juga: Ketika Negara Absen di Jalan Desa: Buramnya Akses Kesehatan Perempuan di Bengkulu
Ketika Kerja Emosional Disamarkan Jadi Cinta
Dalam banyak hubungan, terutama heteroseksual, beban untuk “memperbaiki” sering jatuh ke perempuan. Budaya kita masih menempatkan perempuan sebagai penjaga keharmonisan—yang sabar, dan mampu menambal luka batin pasangan.
Fenomena ini membuat banyak perempuan (atau siapa pun yang memberi lebih) jatuh pada ilusi bahwa upaya mereka membenarkan hubungan. Bahwa jika sudah berjuang keras, maka hubungan itu pantas dipertahankan. Padahal, sering kali yang terjadi hanyalah kerja emosional yang tidak seimbang.
Peneliti gender Alice Lassman lewat tulisannya di HuffPost menyebut fenomena ini sebagai bentuk “mankeeping”—kondisi ketika perempuan tanpa disadari mengambil peran sebagai penopang emosional bagi laki-laki. Mereka menjadi tempat berkeluh kesah, pemberi ketenangan, bahkan semacam pelatih yang membantu pasangan menemukan kembali arah hidupnya.
Beban ini bukan sekadar melelahkan secara emosional, tetapi juga sosial. Banyak perempuan muda kini mulai menyadari the cost of caring—bagaimana mereka kerap menekan kebutuhan, ambisi, bahkan batas diri demi menjaga kestabilan emosi orang lain.
Dalam jangka panjang, pola semacam ini bisa memunculkan kelelahan emosional (emotional burnout) dan rasa kehilangan identitas. Hubungan yang seharusnya saling menumbuhkan justru berubah menjadi ruang perawatan sepihak, di mana satu pihak terus memberi tanpa pernah benar-benar dipulihkan.
Baca juga: Jangan Sepelekan Bullying: Negara Lain Sudah Tegas, Kita Kapan?
IKEA Effect dan Krisis Maskulinitas
IKEA effect dalam hubungan juga bersinggungan dengan krisis maskulinitas—situasi di mana banyak laki-laki muda kehilangan arah tentang bagaimana menjadi lelaki yang baik.
Lassman memaparkan riset yang menunjukkan dua pertiga laki-laki Gen Z merasa “tidak ada yang benar-benar mengenal mereka”. Sementara itu, 60 persen merasa perempuan kini “menuntut terlalu banyak”. Di sisi lain, banyak perempuan justru lelah karena terus diminta menjadi sumber dukungan emosional yang tak berbalas.
Kondisi ini menciptakan ketimpangan: perempuan semakin menarik diri dari relasi, sementara laki-laki semakin kesepian. Di Amerika dan Eropa, tren ini bahkan disebut sebagai “the dating gap”—di mana perempuan lebih memilih hidup sendiri daripada menjalin hubungan yang melelahkan secara emosional.
Fenomena ini bukan tanpa sebab, dalam budaya patriarki perempuan cenderung diajarkan untuk menjadi pengasuh emosional yang pengertian, dan mampu menenangkan. Sementara laki-laki, di banyak budaya, justru tidak diajarkan untuk mengenali atau mengekspresikan perasaannya secara terbuka.
Kesenjangan ini menciptakan dinamika yang timpang dalam relasi—di mana perempuan terbiasa menanggung beban perasaan orang lain, dan laki-laki terbiasa ditenangkan.
Akibatnya, ketika memasuki hubungan romantis, peran “mengasuh emosi” terasa wajar bagi banyak perempuan. Mereka menganggap empati dan ketahanan sebagai bukti cinta, padahal sering kali yang terjadi adalah perpanjangan dari pola asuh sosial yang menuntut perempuan untuk selalu kuat, selalu memaklumi. Padahal, yang dibutuhkan bukan perempuan yang lebih sabar, tetapi laki-laki yang belajar menjadi utuh sendiri.
Belajar Melepaskan Orang yang Belum Selesai
B-pers, IKEA effect membuat kita percaya bahwa semakin besar usaha kita, semakin layak sesuatu dipertahankan. Tapi dalam hubungan, keyakinan itu bisa menjerumuskan.
Kita mengira cinta akan berhasil jika kita terus memperbaiki, menambal, dan bertahan. Padahal, tidak semua yang belum selesai harus kita selesaikan sendiri.
Hubungan yang sehat tidak lahir dari satu pihak yang bekerja keras membentuk pihak lain, melainkan dari dua orang yang sama-sama mau belajar, tumbuh, dan berkomunikasi dengan jujur.
Jika kamu merasa terus berperan sebagai perakit, penyelamat, atau bahkan pengasuh emosional dalam hubungan, mungkin sudah waktunya mempertanyakan kembali, apakah itu benar cinta yang tulus, atau cinta terhadap hubungan yang hanya ada di kepala? Sebab, tidak semua hal yang kita rakit sendiri harus kita pertahankan.
Referensi:
- Birnbaum, G. (2025, July). The IKEA effect in dating: Why we value relationships we work hard for. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/intimately-connected/202507/the-ikea-effect-in-dating
- Travers, M. (2024, April). How the IKEA effect turns our labor into love. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/social-instincts/202407/how-the-ikea-effect-turns-our-labor-into-love#:~:text=The%20IKEA%20effect%20shows%20us,the%20University%20of%20Colorado%20Boulder
- Lassman, A. (2025, January 22). Mankeeping, dating, and the emotional labor women do. HuffPost. https://www.huffpost.com/entry/mankeeping-dating-emotional-labor-research_l_682f3305e4b0ef574bf5e553
