Ketika Perempuan Melahirkan, Semua Orang Ikut Bicara

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Menunggu kehamilan seharusnya menjadi momen penuh harap, tapi bagi banyak perempuan, proses ini selalu disertai pertanyaan tanpa henti “Kapan isi?” Begitu harapan untuk hamil terwujud, datang lagi tuntutan baru seperti harus melahirkan normal, harus ASI eksklusif, harus mengikuti segala standar yang dianggap ideal. Seakan-akan semua perempuan harus menjalani proses persalinan yang sama, seragam, tanpa melihat kondisi tubuh atau pengalaman ketubuhan masing-masing.

Standar Melahirkan yang Dianggap Heroik

Masyarakat umumnya menilai “heroik” jika seorang perempuan melahirkan normal. Persalinan normal dianggap prestasi, bukti keberanian, dan—yang tak kalah penting—tolok ukur kesetiaan pada standar ibu sejati. Padahal kenyataannya, pengalaman tubuh perempuan sangat beragam. Ada perempuan yang memiliki minus tinggi sehingga mengejan terlalu lama saat melahirkan normal bisa berisiko menyebabkan gangguan penglihatan. Ada juga yang membawa bayi kembar, atau posisi bayi tidak ideal, yang membuat persalinan normal sangat berisiko bagi keselamatan ibu dan bayi. 

Indikasi ini sering menjadi alasan dokter merekomendasikan caesar, termasuk untuk persalinan lama, posisi bayi abnormal, stres janin, cacat lahir, kondisi kronis ibu, atau risiko lain yang dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi. Oleh karena itu melahirkan normal tidak selalu paling aman atau paling realistis untuk semua perempuan. 

Baca juga: Mengandung dan Melahirkan: Dua Gambaran Kekuatan Perempuan

Tekanan Setelah Bayi Lahir: ASI Eksklusif & Realita Menyusui

Setelah melahirkan, muncul tuntutan baru, bayi “harus” mendapatkan ASI eksklusif. Secara umum, ASI eksklusif berarti bayi hanya mengonsumsi ASI sejak lahir hingga usia enam bulan—tanpa tambahan apa pun, bahkan air putih. Idealnya begitu, tetapi realitas di lapangan jauh lebih rumit daripada slogan.

Tidak semua perempuan bisa langsung memberikan ASI begitu bayinya lahir. Bagi ibu dengan puting datar atau terbalik (flat atau inverted nipples), proses menyusui bisa menjadi perjuangan tersendiri. Bayi kesulitan menempel (latch), ASI tidak selalu keluar dengan lancar, dan rasa sakit bisa muncul sejak awal. Sebuah studi di Klinik Nirmala, Medan (2025), menemukan bahwa 22,9% ibu mengalami puting terbalik, dan kondisi ini berhubungan signifikan dengan breast engorgement—payudara yang sangat penuh hingga nyeri karena ASI tidak mengalir dengan baik (p-value 0,003).

Ibu dengan kondisi seperti ini sering harus memakai berbagai teknik seperti  pijat payudara, hand pump, nipple shield, hingga memberikan ASI dengan syringe atau cangkir. Semua itu dilakukan agar bayi tetap mendapatkan ASI, meskipun prosesnya jauh dari gambaran mulus yang sering dibayangkan masyarakat.

Perawatan payudara pascapersalinan memang terbukti membantu kelancaran ASI—dengan merangsang hormon prolaktin dan oksitosin, menjaga kebersihan, dan mencegah sumbatan saluran ASI. Tetapi tekanan sosial untuk “wajib berhasil menyusui” tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh masing-masing perempuan justru membuat banyak ibu tersiksa secara fisik maupun mental. 

Realitas di ruang publik juga belum mendukung ibu menyusui. Bayangkan seorang ibu yang bekerja perlu memompa ASI secara berkala agar payudaranya tidak membengkak atau merembes, tetapi kantor tidak menyediakan ruang laktasi maupun lemari pendingin untuk menyimpan ASI perah. Apa yang terjadi? Ia terpaksa menahan rasa sakit sampai waktu pulang. Belum lagi risiko pelecehan atau kurangnya privasi ketika ia harus mencari tempat aman sekadarnya. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa masalahnya adalah lingkungan yang gagal memberi fasilitas bagi kebutuhan biologis perempuan.

Fasilitas Kesehatan Harus Memberikan Kenyamanan Bagi Tubuh Perempuan

Di banyak negara maju—seperti Inggris, Belanda, Swedia, Finlandia, dan Jerman—pilihan metode persalinan sudah jauh lebih beragam dan fleksibel. Perempuan dapat memilih melahirkan di air (waterbirth), melahirkan dengan posisi jongkok, duduk, atau tegak. Intinya, tubuh ibu diberi ruang untuk bekerja dengan cara paling nyaman bagi dirinya. Pendekatan ini dikenal sebagai mother-centered care, yaitu perawatan yang berpusat pada kenyamanan dan kebutuhan ibu, bukan semata-mata mengikuti protokol rumah sakit yang seragam.

Pilihan posisi ini juga tidak asal-asalan, melainkan didukung riset medis besar. Meta-analisis Cochrane tahun 2017 (diperbarui 2020), yang melibatkan lebih dari 6.000 perempuan, menemukan bahwa posisi tegak—seperti jongkok atau duduk—dapat memperpendek durasi tahap kedua persalinan sekitar 6–8 menit. Posisi tegak juga mengurangi rasa nyeri karena gravitasi membantu kontraksi rahim menjadi lebih efisien. Selain itu, kebutuhan epidural (obat bius yang disuntikkan di area tulang belakang untuk mengurangi nyeri persalinan) menurun sekitar 25% pada perempuan yang bergerak bebas.

Tidak hanya itu, posisi tegak juga menurunkan risiko pola detak jantung janin yang abnormal hingga 54%. Posisi tersebut mengurangi tekanan pada pembuluh darah besar di belakang rahim sehingga aliran darah ke plasenta tetap optimal. Temuan ini diperkuat oleh Overview of Cochrane Reviews tahun 2021 dan meta-analisis di BMC Pregnancy and Childbirth (2019) yang menunjukkan manfaat serupa, terutama pada perempuan dengan risiko rendah dan tanpa epidural.

Waterbirth juga sudah diteliti secara serius. Sebuah tinjauan besar di American Journal of Obstetrics & Gynecology (Maret 2024) yang menganalisis lebih dari 287.000 kelahiran menunjukkan bahwa waterbirth aman untuk ibu dan bayi dalam kategori risiko rendah. Tidak ada peningkatan risiko infeksi neonatal (bayi baru lahir), tidak meningkatkan risiko aspirasi, dan angka masuk NICU justru lebih rendah. Bahkan, peluang bayi mendapatkan skor Apgar rendah pun menurun. Satu-satunya risiko yang sedikit meningkat adalah cord avulsion (tali pusat terlepas lebih cepat), tetapi angkanya tetap rendah secara absolut.

Sementara itu, di masyarakat kita, narasi yang berkembang sering kali membuat proses melahirkan terasa seperti perlombaan “cara yang paling benar.” Banyak orang masih beranggapan bahwa melahirkan normal pervaginam adalah satu-satunya cara ideal, seolah metode lain—seperti caesar, waterbirth, atau posisi tegak—kurang sah atau kurang kuat. Padahal, tubuh setiap perempuan berbeda, begitu pula kebutuhan medis dan kenyamanannya.

Baca juga: Ketika Negara Absen di Jalan Desa: Buramnya Akses Kesehatan Perempuan di Bengkulu

Stop Tekanan Sosial yang Membebani Ibu

Tekanan sosial seperti ini dapat menimbulkan rasa bersalah, kecemasan, hingga depresi postpartum. Banyak ibu yang sebenarnya ingin memilih cara paling aman dan nyaman bagi tubuhnya, tetapi akhirnya mengikuti tekanan sosial agar tidak dianggap “kurang sempurna.”

Padahal, teknologi kesehatan di luar sana sudah berkembang untuk memberi lebih banyak pilihan dan memfasilitasi pengalaman tubuh yang beragam.  Hal serupa terjadi pada menyusui. ASI eksklusif memang baik, tetapi tidak bisa dijadikan standar tunggal tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh masing-masing perempuan. Sebagian ibu memiliki puting inverted atau flat, ada pula yang mengalami saluran ASI mudah tersumbat—kondisi yang membuat proses menyusui jauh lebih menyakitkan dan menantang. Di sisi lain, banyak tempat kerja belum menyediakan ruang laktasi, lemari pendingin untuk ASI perah, maupun waktu khusus untuk pumping. Tekanan untuk berhasil menyusui tanpa dukungan struktural seperti ini hanya membuat ibu merasa bersalah, padahal masalahnya bukan pada dirinya.

Standarisasi tentang “ibu sejati” justru mempersempit ruang solidaritas antarsesama ibu. Alih-alih saling memahami pengalaman tubuh yang beragam, yang terjadi malah saling menghakimi atau membandingkan. Padahal menjadi ibu tidak identik dengan satu cara melahirkan atau satu pola menyusui.

Yang seharusnya menjadi fokus adalah keselamatan ibu dan bayi. Teknologi kesehatan dan berbagai pilihan metode persalinan bukanlah ancaman bagi keaslian pengalaman menjadi ibu, tetapi justru alat untuk menghargai keragaman tubuh perempuan. Karena itu, masyarakat seharusnya menghormati pilihan ibu, menyediakan fasilitas yang memadai, dan berhenti memaksakan ekspektasi sempit tentang bagaimana seharusnya menjadi ibu.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Gen Z Generasi Digital Paling Sering Kena Scam Kok Bisa

Gen Z Generasi Digital Paling Sering Kena Scam? Kok Bisa?

Hoaks: Video Kontroversi Mekah Dipenuhi Atribut dan Pesta LGBTQ+

Aksi Solidaritas 50 Petani Perempuan di Desa Sumber Jaya

Leave a Comment