Bincangperempuan.com- B’Pers pernah lihat konten yang isinya seperti ini: “Princess treatment? U smoke, drink, and yell. You’re literally a pirate!”
Kalimat ini sering berseliweran di TikTok dan Reels, dipakai jadi bahan candaan dan template konten. Sekilas memang lucu, tetapi ini juga menunjukkan pesan bahwa perempuan yang merokok, minum alkohol, atau bersuara lantang dianggap “tidak layak” diperlakukan dengan lembut.
Tanpa disadari konten semacam ini justru menumbuhkan kembali norma patriarki yang telah usang, bahwa perempuan yang pantas disayang, dan dimanjakan adalah perempuan yang patuh, kalem, dan tidak banyak protes. Tetapi jika tidak sesuai dengan pakem tersebut maka dianggap tidak pantas.
Apa Itu Princess Treatment?
Princess treatment kerap dipahami secara sempit sebagai perlakuan istimewa dari laki-laki kepada perempuan—seperti membayari makan, membukakan pintu, atau menghadiahi bunga. Semua perlakuan tersebut memang terlihat manis. Namun di balik gestur-gestur itu, terselip standar diam-diam menuntut bahwa hanya perempuan yang lemah lembut, penurut, tidak banyak menuntut, tidak mudah marah, dan berpenampilan “rapi” yang dianggap layak diperlakukan bak putri.
Padahal, menjadi perempuan bukan berarti harus selalu tampil seperti putri raja. Tidak semuanya ingin pesta dansa dan gaun mengembang. Ada yang lebih merasa hidup saat memegang busur panah, seperti Merida. Ada yang lebih nyaman menyuarakan ketidakadilan daripada menunggu diselamatkan.
Namun terlepas dari perbedaan itu, setiap perempuan tetap manusia. Tetap punya perasaan dan berhak dimanusiakan.
Mengapa kasih sayang harus melewati saringan standar princess terlebih dahulu? Apakah cinta hanya diperuntukkan bagi mereka yang bisa duduk diam dan tersenyum malu-malu? Lantas, apakah perempuan yang berani bersuara, yang hidup tanpa ketakutan menjadi dirinya sendiri tidak pernah cukup layak untuk disayang?
Baca juga: Internalized Misogyny di Candaan yang Kita Normalisasikan
Girl, You Smoke, Drink, and Yell?
Budaya patriarki masih terus mengajarkan bahwa perempuan yang merokok atau minum adalah “tidak baik”. Padahal, tidak baik untuk siapa? Dan siapa yang berhak menentukan standar baiknya seorang perempuan?
Sedangkan laki-laki yang melakukan hal serupa dianggap wajar. Orang-orang akan bilang “namanya juga cowok”, tapi ketika perempuan melakukannya, langsung dicap “rusak”, “tidak bisa dijadikan istri”, atau “kurang ajar”. Standarnya jelas timpang dan kita disuruh menerima begitu saja, seolah itu memang kodrat.
Stigma buruk terhadap perempuan perokok atau minum juga dibuktikan oleh sebuah penelitian yang terbit dalam jurnal Evolutionary Psychology. Studi tersebut menemukan bahwa perempuan yang merokok atau minum alkohol sering dipersepsikan laki-laki sebagai lebih terbuka secara seksual, terutama dalam konteks hubungan jangka pendek. Dalam eksperimen tersebut, konsumsi alkohol bahkan meningkatkan daya tarik perempuan untuk relasi kasual, sementara merokok sesekali dianggap tidak terlalu berpengaruh.
Namun, ketika bicara mengenai hubungan jangka panjang, semua bentuk perilaku merokok dan konsumsi alkohol yang sering justru menurunkan daya tarik perempuan. Studi lanjutan juga menemukan bahwa perempuan yang merokok atau minum dipandang lebih berorientasi pada hubungan seksual jangka pendek.
Temuan ini menunjukkan bahwa stigma terhadap perempuan yang minum dan merokok bukan cuma soal “gaya hidup tak sehat”, tapi juga terkait dengan stereotip seksual dan penilaian moral yang dilekatkan pada tubuh perempuan. Perempuan langsung dikategorikan dan dinilai kelayakannya sebagai pasangan hanya dari pilihan hidupnya, sesuatu yang jarang dibebankan kepada laki-laki.
Baca juga: Male Loneliness Epidemic: Luka Laki-Laki dalam Sistem Patriarki
Standar Ganda dalam Hubungan
Namun, di sisi lain, banyak laki-laki yang mengklaim tertarik pada perempuan tomboy, independen, atau outspoken. Tapi setelah hubungan berjalan, mereka mulai menuntut agar pasangannya agar lebih anggun, atau lebih kalem. Padahal kalau tipe ideal yang dicari adalah Barbie, mengapa jatuh hati pada Lara Croft?
Jika seseorang benar-benar mencintai, ia mencintai individu—bukan representasi fantasi patriarki tentang “perempuan baik-baik”. Perempuan tidak seharusnya diseleksi layaknya katalog berdasarkan kriteria feminitas. Sikap diskriminatif ini jelas melanggar prinsip kesetaraan dan penerimaan terhadap keragaman manusia.
Sebab pada akhirnya, menjadi perempuan tidak berarti harus duduk diam, tersenyum malu-malu, atau tunduk pada ekspektasi yang mengerucutkan ruang hidupnya. Perempuan bukan karpet merah yang diinjak demi menyenangkan orang lain.
Kasih Sayang Seharusnya Tidak Memberi Stigma Mana
Ketika perempuan kita pilah seperti menu restoran “yang ini boleh disayang karena lembut”, “yang ini kurang layak karena terlalu bicara itu artinya cinta itu dikondisikan. Cinta jadi semacam reward bagi yang cocok dengan format patriarki, bukan penerimaan. Standar ganda ini bukan hal kecil—dia menggerogoti peluang bagi perempuan untuk hidup otentik tanpa harus menyesuaikan diri.
Perempuan seharusnya tidak perlu mematuhi pakem princess agar layak disayang. Cinta bukan kuota eksklusif untuk kesan perempuan baik-baik seperti princess. Mereka yang merokok, minum, bersuara lantang, kritis, atau berbadan tegas, tetap manusia dengan hak atas kasih sayang otentik.
Jadi, jika cinta yang ditawarkan hanya untuk versi kamu yang patuh dan polos, biarkan saja. Pilihlah jadi diri sendiri lebih baik jadi kapten kapal, jalani hidup dengan keputusan sendiri daripada boneka yang hidupnya ditentukan oleh pandangan sempit orang lain.
Referensi:
- Vincke, Eveline. (2024). Female Cigarette and Alcohol Consumption as a Short-Term Mating Strategy. Evolutionary Psychology. PMC. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10480817/
