Bincangperempuan.com- “Kalau lagi kerja, kakak pakai cincin aja biar nggak diganggu,” ungkap R (25) seorang kasir di sebuah minimarket. Ia menceritakan bahwa dengan mengenakan cincin di jari manis, pelanggan laki-laki akan mengira dirinya sudah memiliki pasangan—dan karena itu, tidak bisa didekati sembarangan.
“Soalnya kakak lagi nggak mau diganggu. Kalau lagi kerja ditanya-tanya, sudah punya pacar atau belum, kan capek juga jawabnya,” tambahnya.
R bukan satu-satunya perempuan yang merasa perlu membentengi diri dengan status “sudah dimiliki”. Banyak perempuan lainnya memilih untuk berpura-pura sudah berpasangan—memakai cincin kawin, bilang sedang menjalin hubungan, atau menyebut “punya pacar” ketika ditanya—hanya agar bisa merasa aman dan dibiarkan sendiri.
“Aku dulu pernah dideketin sama cowok tapi aku nggak suka. Terus aku bilang lah kalau aku udah punya cowok, tapi dia nggak percaya,” kata Ara (22), seorang mahasiswi.
Akhirnya Ara memutar akal dengan meminta tolong salah satu temannya untuk berpura-pura menjadi kekasihnya.
“Aku suruh temen cowokku chat aku, kayak manggil sayang, terus aku screenshot kirim ke dia,” katanya.
Bahkan ada juga laki-laki yang menganjurkan mengaku punya pasangan sebagai solusi. Ungkapan seperti “harusnya kamu ngaku aja punya pacar, biar nggak diganggu” sering dianggap sebagai benteng atau tameng.
Tapi, kenapa harus begitu?
Baca juga: Perceraian Meningkat, Solusinya Revisi UU atau Perbaikan Struktural?
Ketika Sendiri Dianggap “Available”
Ada semacam anggapan umum bahwa perempuan yang terlihat sendiri—tidak bergandengan tangan dengan pasangan, tidak menyebut-nyebut nama pacar atau suami—adalah sosok yang “available”, atau siap untuk didekati. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Kehidupan lajang bisa jadi pilihan sadar, bisa juga sebuah fase nyaman yang sedang dinikmati. Bahkan menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science pada 2024, perempuan single cenderung lebih bahagia dibanding laki-laki single. Penelitian ini mengungkap bahwa perempuan yang tidak menjalin hubungan romantis melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi, stres yang lebih rendah, dan kebebasan yang lebih besar dalam mengatur hidup mereka.
Namun, sistem sosial yang patriarkal membuat perempuan lajang sering dianggap kurang “lengkap”, bahkan menjadi sasaran pendekatan yang agresif dan tidak diinginkan. Ketika menolak pun, alasan personal sering tidak dianggap sah. Penolakan hanya dianggap valid ketika disandarkan pada kehadiran laki-laki lain.
Artinya, perempuan belum cukup dihormati atas pilihan dan batasannya sendiri. Suaranya tidak cukup dipercaya sebagai penanda “tidak” kecuali ada nama laki-laki lain yang mendukungnya.
Analisis Sosial: Status sebagai Benteng
Padahal, jika masyarakat benar-benar memperlakukan perempuan sebagai individu yang setara dengan laki-laki, mereka seharusnya tidak perlu bergantung pada laki-laki lain untuk menyelamatkan diri dari gangguan. Namun kenyataannya, banyak perempuan terpaksa menggunakan status “sudah dimiliki” sebagai benteng pertahanan sosial karena batas personal mereka tidak dianggap sah kecuali didukung oleh klaim kepemilikan laki-laki lain.
Fenomena ini mencerminkan cara kerja patriarki yang mengakar dalam budaya kita—bahwa perempuan diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Seperti yang diungkapkan oleh bell hooks dalam The Will to Change: Men, Masculinity, and Love (2004), sistem patriarki mengajarkan laki-laki untuk memahami cinta sebagai bentuk dominasi dan kontrol, bukan sebagai relasi setara. “When culture is based on a dominator model, not only will it be violent, but it will frame all relationships as power struggles.” Relasi antar gender pun menjadi medan konflik kuasa, di mana maskulinitas sering diukur melalui kemampuan untuk memiliki dan menguasai, bukan memahami atau menghormati.
Dalam kerangka ini, perempuan yang menunjukkan otonomi dan menolak pendekatan laki-laki tanpa “alasan yang diterima” (seperti sudah punya pasangan), dianggap menantang struktur kuasa yang mapan. Norma sosial bahkan tampak lebih menghargai klaim kepemilikan oleh laki-laki lain dibandingkan dengan keputusan perempuan itu sendiri. Itulah sebabnya, ketika seorang perempuan mengatakan, “Maaf, saya tidak tertarik,” responsnya bisa sangat berbeda dengan ketika ia berkata, “Maaf, saya sudah punya pacar.”
Sebuah studi oleh Stratmoen, Greer, dan Josephs (2020) dalam Personality and Social Psychology Bulletin membuktikan bahwa perempuan cenderung menggunakan strategi penolakan tidak langsung seperti “deceptive rejection” (mengaku sudah punya pasangan), terutama jika mereka menganut nilai-nilai kehormatan maskulin (masculine honor beliefs). Mengapa? Karena penolakan yang jujur sering dipandang sebagai ancaman terhadap ego dan kehormatan laki-laki, yang dalam budaya patriarkal sering dianggap suci dan rapuh. Ketika ditolak secara eksplisit, laki-laki dengan identitas maskulin yang kuat bisa merasa dipermalukan, bahkan terancam.
Ancaman ini tidak hanya emosional, tapi bisa menjadi fisik. Perempuan tahu bahwa mengatakan “tidak” secara jujur bisa membahayakan dirinya. Maka, demi keselamatan, mereka memilih untuk menyesuaikan narasi agar tidak “menggores harga diri laki-laki”—karena dalam masyarakat yang dibentuk oleh patriarki, harga diri laki-laki sering kali dianggap lebih penting dari rasa aman perempuan.
Dengan kata lain, patriarki tidak hanya mengatur bagaimana laki-laki mencintai, tapi juga bagaimana perempuan harus menolak. Dalam sistem ini, penolakan bukan hanya tentang kehendak pribadi, tapi juga tentang strategi bertahan hidup. Perempuan didorong untuk menjadi “manipulatif” demi menjaga stabilitas sosial yang sebetulnya timpang, karena dunia tidak mengizinkan mereka berkata jujur tanpa konsekuensi.
Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma kehormatan maskulin, harga diri laki-laki bisa menjadi senjata yang diarahkan balik kepada perempuan. Laki-laki yang merasa “direndahkan” karena ditolak bisa merespons dengan agresi verbal, ancaman, atau kekerasan fisik. Dalam konteks ini, pernyataan “maaf, saya sudah punya pacar” menjadi alat negosiasi, bukan kejujuran, karena kejujuran itu sendiri terlalu mahal risikonya.
Ini jelas bentuk represi halus yang melanggengkan dominasi. Ketika perempuan harus memodifikasi jawaban mereka demi tidak memicu “ledakan emosi” laki-laki, maka kita harus bertanya: apakah ini hubungan yang setara, atau hanya perpanjangan dari relasi kuasa yang tidak adil?
Baca juga: Female Breadwinners, Ketika Perempuan Jadi Pencari Nafkah Utama
Dampak terhadap Perempuan
Praktik ini membawa beban ganda. Di satu sisi, perempuan harus berpura-pura menjadi seseorang yang bukan mereka. Di sisi lain, mereka harus terus waspada dan membentengi diri, hanya agar bisa bekerja, jalan, atau sekadar duduk di ruang publik dengan tenang.
Dampak psikologisnya tidak kecil, rasa lelah sosial, ketidakamanan, hingga kecemasan berkepanjangan. Semua ini muncul karena sistem sosial masih gagal menghormati batas pribadi perempuan.
Hormati “Tidak”
Perempuan tidak butuh “tameng laki-laki” agar bisa merasa aman. Yang dibutuhkan adalah budaya yang menghormati batas. Bahwa setiap individu, laki-laki atau perempuan, punya hak penuh atas dirinya sendiri—termasuk hak untuk tidak ingin didekati, disentuh, atau diajak bicara jika tidak diinginkan.
Kita perlu mendidik masyarakat, terutama laki-laki, untuk memahami makna persetujuan (consent), menghormati ruang pribadi, dan berhenti mengukur status seseorang sebagai dasar untuk menghargai keputusannya.
Karena perempuan tidak harus berpura-pura punya pacar. Yang mereka butuhkan hanya dihormati sebagai manusia.
Referensi:
- Hooks,B. (2004). The Will to Change: Men, Masculinity, and Love. Washington, D.C.: Washington Square Press.
- Hoan, N., & MacDonald, T. K. (2024). Sisters Are Doin’ It for Themselves: Gender Differences in Singles’ Well-Being. Social Psychological and Personality Science. https://doi.org/10.1177/19485506241287960
- Stratmoen, L., Dempsey, S. R., & Peterson, M. A. (2020). Masculine Honor Beliefs and Women’s Use of Deceptive Rejection Strategies. Psychology of Women Quarterly, 44(2), 139-150. https://doi.org/10.1177/0265407519865615
