Home » News » Male Gaze: Ketidakadilan Gender dan Bencana Bagi Perempuan

Male Gaze: Ketidakadilan Gender dan Bencana Bagi Perempuan

Hania Latifa

News

Bincangperempuan.com- Pernahkah saat sedang mengonsumsi media, terutama yang berhubungan dengan entertainment, kamu gelisah, risi, bingung, kesal, bahkan sampai marah saat melihat tokoh perempuan yang ada digambarkan dengan sangat sensual, sangat kontras dengan tokoh laki-laki yang justru ditampakkan lebih gagah dan merdeka? Kalau pernah, selamat karena telah menjadi bagian dari bukti kalau male gaze itu tidak baik! 

Lho, memangnya male gaze artinya apa?

Male Gaze: Berakar dari Patriarki

Istilah male gaze sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Laura Mulvey. Dalam esainya berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema yang terbit pada 1975, Mulvey menyoroti bagaimana lingkungan masyarakat kita dibentuk oleh dan untuk memberikan benefit pada laki-laki cis-heteroseksual yang maskulin, alias “budaya patriarki”. Laki-laki dipandang sebagai pemegang kekuasaan utama dan turut mendominasi peran kepemimpinan, sementara perempuan dinilai tidak bisa lebih tinggi dari laki-laki.

Dalam konteks media dengan visual seperti perfilman, mulai dari penulis film hingga sutradara, laki-laki hampir selalu mendominasi pembuatan film-film yang kita tonton. Protagonisnya adalah laki-laki. Target utama dari film-film yang kita tonton juga adalah untuk laki-laki. Dominasi inilah yang akhirnya melahirkan cara pandang yang dikemukakan Mulvey sebagai male gaze. 

Dalam male gaze, perempuan selalu hadir sebagai objek pasif yang representasinya ditentukan sebatas dari konsep ideal yang dibuat oleh laki-laki cis-heteroseksual yang maskulin. Mulvey pun menyoroti bagaimana media visual, termasuk film, dalam budaya populer mengobjektifikasikan perempuan secara pasif untuk voyeurisme dan scopophilia, kepuasan seksual yang diterima seseorang setelah melihat orang lain sebagai objek erotis. Karena itu, kita lebih sering dipertontonkan laki-laki yang lebih berperan lebih aktif dan merdeka, sedangkan perempuan diposisikan sebagai objek pasif yang dihadirkan hanya untuk mendukung atau memuaskan hasrat laki-laki.

Contohnya, dalam film-film Hollywood klasik seperti James Bond, tokoh perempuannya digambarkan sebagai ‘Bond girls’ yang hanya berfungsi sebagai objek romantis atau seksual untuk protagonis laki-laki dengan minim bahkan hampir tidak ada kedalaman karakter yang kompleks. Mereka sering ditampilkan dalam pakaian yang menggoda dan dalam situasi yang memunculkan ketergantungan mereka pada karakter laki-laki, menegaskan posisi mereka sebagai objek pasif dalam narasi. 

Baca juga: Hal yang Harus Kamu Ketahui Ketika Memilih Childfree 

Karakteristik Male Gaze: Laki-Laki “Penonton”, Perempuan “Ditonton”

Mulvey turut mengungkapkan bagaimana lensa kamera dimanfaatkan oleh male gaze untuk mengobjektifikasi perempuan. Dalam film misalnya, ada adegan seorang laki-laki yang secara aktif mengamati tubuh perempuan dari atas sampai bawah. Kamera juga sering diarahkan menyorot secara close-up tepat ke lekuk tubuh perempuan, dan hanya terpaku pada tubuh perempuan. 

Contoh nyatanya bisa kita lihat dari anime One Piece yang ‘langganan’ mengobjektifikasi tokoh perempuannya. Saat menonton anime karangan Eiichiro Oda tersebut, tanpa adanya kepentingan yang krusial, kita sebagai penonton tahu-tahu akan disuguhkan pengambilan gambar yang fokusnya pada bagian tubuh tokoh perempuan yang dianggap erotis atau menarik. Ini sering terjadi pada tokoh Nami dan Nico Robin, salah dua tokoh perempuan penting di anime One Piece. Tak hanya itu, banyak tokoh perempuan dalam One Piece juga tak hentinya digambarkan dengan proporsi tubuh yang tidak realistis, bagian-bagian tertentu seperti dada atau bokong diperbesar secara berlebihan untuk menarik perhatian penonton, yang sebetulnya sudah tersegmen, yaitu untuk laki-laki cis-heteroseksual yang maskulin. 

Dalam konteks manhwakomik khas Korea Selatan, misalnya, kita juga bisa menemukan formula male gaze seperti halnya di One Piece pada manhwa berjudul How To Fight yang ditulis oleh Park Taejoon dan digambar Kim Junghyun. Manhwa How To Fight tidak pernah absen dalam menggambar lekuk tubuh tokoh perempuannya secara tidak rasional. Atau, dalam konteks film, kita bisa melihat bagaimana film Selesai lebih fokus menjadikan tokoh perempuannya sebagai objek seksual alih-alih punya resolusi konflik yang baik.

Male Gaze utamanya memang lebih cepat dideteksi dari bagaimana perempuan disorot lewat lensa kamera. Namun, percakapannya tidak berhenti sampai di situ saja. Mulvey juga menjelaskan, tidak perlu menunggu tokoh perempuan mengalami objektifikasi seksual secara habis-habisan untuk mengatakan “media” tersebut sarat male gaze. Karena selain sorotan kamera, dalam film atau buku misalnya, male gaze juga dapat kita temui dari penulisan alur dan karakterisasi tokoh, khususnya tokoh perempuan. 

Misalnya, tokoh perempuan hadir sebagai trophy atau prize yang diperebutkan demi mempertontonkan citra kegagahan dan kejantanan tokoh laki-laki. Ada juga yang menempatkan tokoh perempuan sebagai individu lemah yang mesti diselamatkan oleh laki-laki. Atau karakterisasi sebatas tokoh perempuan hadir hanya untuk membuat tokoh laki-laki berubah, dan tokoh laki-laki membutuhkan tokoh perempuan untuk berubah. Seperti yang diungkapkan oleh Mulvey, pada akhirnya, keseluruhan alur dan karakterisasi tersebut hanya menghasilkan tokoh perempuan yang pasif, tidak humanis, dan perannya hanya untuk tokoh laki-laki supaya bisa berkembang mencapai tujuannya. 

Baca juga: Yayasan PUPA Bengkulu, Gerakan Perempuan Untuk Perempuan

Bencana Male Gaze

Media yang kita konsumsi memiliki pengaruh yang besar terhadap pandangan dan pemahaman kita tentang diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar kita. Persepsi kita terhadap nilai dan norma sosial juga dipengaruhi oleh media yang kita konsumsi. Budaya patriarki sendiri sudah berperan besar dalam mengecilkan eksistensi perempuan di masyarakat. Dengan melihat betapa masih rentannya perempuan dalam masyarakat, jelas sekali bahwa male gaze makin berdampak dalam memperkuat pandangan patriarkis serta merawat ketidakadilan gender yang dialami perempuan dalam kehidupan nyata, dan ini pula yang turut diungkapkan oleh Mulvey. 

Akibat representasi yang tidak realistis dan tidak humanis dalam media, ruang pergerakan perempuan pun semakin terbatas. Alih-alih tumbuh sama manusiawinya seperti laki-laki, perempuan pun terjebak dalam citra yang diciptakan oleh male gaze. Sejalan dengan perspektif feminis dalam melihat teori male gaze, laki-laki pun memandang perempuan menjadi sebatas objektifikasi seksual dan penekanan berlebihan pada penampilan fisik. 

Bencana bagi perempuan pun bertambah: karena male gaze, perempuan kemudian memandang diri mereka sendiri melalui lensa yang dibentuk oleh pandangan laki-laki yang mendominasi, sehingga lahirlah internalisasi terhadap peran gender yang stereotipe dan tekanan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis. Makin buruk lagi, lagi-lagi karena male gaze, perempuan lantas memandang perempuan lain sering kali melalui persaingan atau kompetisi yang dipicu oleh norma-norma yang mengagungkan nilai-nilai patriarkis dan pandangan dari laki-laki cis-hetero yang maskulin.

Pada akhirnya, male gaze bertanggung jawab dalam memengaruhi persepsi dan pengalaman perempuan di masyarakat, mengatur paksa hal yang “normal” dan “pantas” bagi perempuan, serta mengecilkan ruang perempuan dalam berekspresi dan berkembang sesuai potensi diri mereka. Akibatnya, makin suburlah lingkungan yang tidak sehat dan tidak adil bagi perempuan dalam hal kesempatan, akses, dan pengakuan dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, penting untuk terus menerus mengkritik male gaze dalam media agar kita dapat membangun representasi yang lebih inklusif dan mengurangi ketidakadilan gender bagi perempuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Budaya Patriarki, gerakan perempuan, male gaze, Patriaki

Artikel Lainnya

Jomblo, “Kutukan” atau Keuntungan? Ini Penjelasannya

Wujudkan Pemilu 2024 yang Inklusif dengan Keterlibatan Suara Politik Perempuan

Wujudkan Pemilu 2024 yang Inklusif dengan Keterlibatan Suara Politik Perempuan

Perempuan dan Akses Pendidikan yang Setara

Menanti Akses Pendidikan yang Setara

Leave a Comment