Bincangperempuan.com- Coba bayangkan seorang perempuan yang sedang melahirkan. Gambaran apa yang pertama kali muncul di kepala? Hampir pasti, bayangan yang terlintas adalah seorang perempuan berbaring telentang di kasur rumah sakit, menahan sakit, dengan kaki terbuka ke atas. Visual ini sangat melekat di budaya pop hingga poster edukasi di klinik. Tapi, pernah tidak kepikiran kenapa posisinya harus selalu berbaring?
Ternyata, di balik pemandangan yang dianggap “normal” tersebut, ada fakta yang cukup mengejutkan. Karena secara medis, posisi berbaring telentang saat melahirkan sebenarnya seringkali lebih berbahaya dan tidak efisien baik bagi keselamatan ibu maupun sang bayi. Lalu, kalau memang lebih berisiko, kenapa posisi ini justru jadi standar global yang diterapkan di hampir seluruh rumah sakit, termasuk di Indonesia? Semua ini terjadi berkat sejarah dunia kedokteran yang patriarkis, di mana sebuah prosedur diubah demi kenyamanan laki-laki.
Baca juga: Apa Itu Male Centered Woman? Bentuk Nyata dari Androsentrisme
Sejarah Posisi Melahirkan
Professor Hannah Dahlen, ahli kebidanan dari Western Sydney University, menulis dalam The Conversation bahwa posisi tegak merupakan cara alami manusia melahirkan sepanjang sejarah. Sejauh catatan tertulis, ukiran, dan lukisan peninggalan masa lalu menceritakan, perempuan selalu melahirkan dalam posisi tegak. Ada yang menggunakan tumpukan batu bata sebagai kursi bersalin primitif, ada yang berpegangan pada dedaunan dan tali yang digantung di pohon, hingga berjongkok. Sebuah lukisan terkenal dari zaman Mesir Kuno bahkan dengan jelas memperlihatkan Cleopatra (69-30 SM) berlutut saat melahirkan anaknya. Penggunaan kursi bersalin (birthing chair) sudah eksis sejak zaman Babilonia (2000 SM).
Sebuah survei tahun 1961 memvalidasi fakta ini. Di berbagai budaya tradisional yang belum tersentuh intervensi medis Barat secara masif, posisi berbaring saat melahirkan hanya digunakan oleh 18% populasi. Temuan ini juga sejalan dengan catatan antropolog Engelmann seabad sebelumnya pada tahun 1882.
Lalu, apa yang terjadi 300 tahun lalu sampai budaya ini berubah total? Kita harus melihat ke Prancis, yang pada masanya adalah kiblat ilmu obstetri (kebidanan) dunia.
Pada tahun 1598, seorang ahli bedah bernama Jacques Guillemeau—salah satu dokter kandungan pertama—mulai mengadvokasi posisi rebahan di kasur saat persalinan. Alasannya bukan demi ibu, melainkan demi mempermudah kerja sang dokter. Seiring dengan munculnya instrumen bedah kebidanan dalam 50 tahun berikutnya, disusul penggunaan episiotomi (pemotongan dinding vagina secara bedah untuk membantu persalinan) dan anestesi, perpindahan ke posisi berbaring semakin terfasilitasi.
Di saat yang sama, sejarah mencatat kelakuan tak lazim Raja Prancis Louis XIV (1637-1709). Beberapa ilmuwan menyebutkan sang raja punya hobi menonton perempuan melahirkan, termasuk para selirnya. Karena kursi bersalin konvensional menghalangi pandangannya, ia mendorong penggunaan posisi berbaring telentang supaya ia bisa menonton proses tersebut dengan jelas. Hotel Dieu di Paris, rumah sakit populer yang punya bangsal bersalin pada saat itu, kemudian menggunakan kasur khusus ini.
Bidan-bidan perempuan sebenarnya tidak diam saja. Louise Bourgeois (1563-1636), bidan kerajaan Prancis yang terkenal, menentang keras. Ia menegaskan bahwa posisi vertikal adalah yang paling alami dan instingtif karena gravitasi sangat membantu mempercepat kelahiran. Melahirkan sambil rebahan di atas kasur adalah sesuatu yang jauh dari kata natural. Sayangnya, suara perempuan kalah oleh institusi. Di buku teks medis populer tahun 1900-an, King’s Eclectic Obstetrics, tertulis blak-blakan bahwa melahirkan telentang lebih nyaman bagi dokter dalam segala hal dibandingkan posisi lainnya.
Melawan Gravitasi di Indonesia: Litotomi Sebagai “Standar”
Pergeseran lokasi persalinan dari rumah ke rumah sakit pada abad ke-20 di negara-negara maju menormalisasi praktik ini secara besar-besaran. Dan seperti kebanyakan hal dalam sejarah persalinan, tidak ada riset memadai yang dilakukan saat itu untuk melihat apakah posisi ini benar-benar baik untuk ibu.
Di Indonesia, posisi litotomi (berbaring telentang dengan kaki di penopang) masih sangat dominan. Di banyak fasilitas kesehatan, ibu bersalin hampir otomatis diarahkan ke posisi ini.
Sebuah studi di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin menemukan 70% ibu bersalin menggunakan posisi litotomi dan hanya 30% menggunakan posisi setengah duduk. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara posisi litotomi dengan derajat robekan perineum (p = 0.013). Ibu yang melahirkan dengan posisi litotomi mengalami robekan perineum yang lebih parah dibandingkan posisi setengah duduk
Posisi ini sangat bertentangan dengan gravitasi. Saat berbaring, beban rahim yang berat menekan pembuluh darah utama (vena cava inferior), sehingga tekanan darah ibu bisa turun drastis, suplai oksigen ke janin terganggu, dan kontraksi rahim menjadi jauh lebih menyakitkan.
Berbagai tinjauan literatur juga menyebutkan bahwa persalinan berbaring meningkatkan risiko waktu persalinan yang memanjang serta robekan jalan lahir (perineum) yang lebih parah.
Sebaliknya, posisi tegak seperti jongkok atau setengah berdiri memungkinkan tulang panggul terbuka lebih lebar, sehingga mempermudah keluarnya janin. Sayangnya, infrastruktur dan kebiasaan di fasilitas kesehatan Indonesia masih terjebak pada kenyamanan tenaga medis, bukan pada kenyamanan dan keselamatan ibu.
Baca juga: Siapa Sangka, Asal-usul Gergaji Mesin Ternyata Berasal dari Ruang Persalinan
Mengapa Posisi Natural Kini Hanya Jadi “Alternatif”?
Karena doktrin berabad-abad, hari ini mayoritas perempuan di era modern diasumsikan untuk melahirkan dengan posisi berbaring telentang atau setengah duduk. Posisi tegak (upright) seperti berdiri, duduk, jongkok, hingga merangkak (hands-and-knees) malah diturunkan kastanya menjadi sekadar “posisi persalinan alternatif” yang kurang umum digunakan.
Menurut ulasan literatur medis modern, posisi saat perempuan melahirkan punya dampak yang sangat besar terhadap kemudahan proses persalinan. Mengingat melahirkan adalah pengalaman yang menantang secara fisik dan mental, tingkat kepuasan psikologis perempuan juga sangat dipengaruhi oleh posisi ini. Dokter, perawat, dan bidan memegang kendali paling besar dalam menentukan posisi yang akan digunakan sang ibu, sehingga memengaruhi efek fisiologis maupun psikologis dari persalinan tersebut.
Meskipun penelitian yang secara absolut mendukung satu posisi terbaik di kala dua masih perlu diperbanyak, satu hal yang pasti: tubuh perempuan dirancang untuk mengikuti gravitasi. Sudah saatnya kita mempertanyakan kembali prosedur medis yang diwariskan dari kacamata patriarki. Ruang bersalin harusnya menjadi tempat yang mengembalikan otonomi pada tubuh perempuan, bukan tempat di mana ibu sekadar menjadi objek pasif demi kemudahan tenaga medis. Membuka wawasan mengenai ragam posisi melahirkan bukan sekadar edukasi, tapi upaya merebut kembali kenyamanan ibu yang sempat terhapus sejarah.
Referensi:
- Satone, P. D., & Tayade, S. A. (2023). Alternative Birthing Positions Compared to the Conventional Position in the Second Stage of Labor: A Review. Cureus, 15(4). https://doi.org/10.7759/cureus.37943
- Dona, S., Nurdin, F., & Rahmi, S. (2017). The correlation between half-sitting position and lithotomy position with degree of perineal rupture in delivery room at Hospital Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin. In Advances in Health Sciences Research (Vol. 6, pp. 253–257). Atlantis Press. https://doi.org/10.2991/ichlas-17.2017.52
- Dahlen, H. (2013, 7 Mei). Stand and deliver: upright births best for mum and bub. The Conversation. https://theconversation.com/stand-and-deliver-upright-births-best-for-mum-and-bub-13095
