CISDI Ajak Anak Muda Berani Memilih Pangan Sehat

CISDI Ajak Anak Muda Berani Memilih Pangan Sehat (1)

Bincangperempuan.com- Konsumsi pangan tidak sehat menjadi masalah laten yang turut mendorong tingginya prevalensi penyakit tidak menular. Di Indonesia, penyakit tidak menular menyumbang sekitar 73 persen dari total angka kematian. Pemerintah sebenarnya telah mengambil ancang-ancang untuk membatasi konsumsi pangan tidak sehat, salah satunya melalui penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Sayangnya, pemberlakuan cukai MBDK  yang telah diwacanakan sejak 2020 tidak pernah terealisasi hingga sekarang.

“Konsumsi MBDK telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Sekitar dua dari tiga orang Indonesia mengkonsumsi MBDK setidaknya sekali dalam seminggu,” ungkap Nida Adzilah Auliani, Project Lead for Food Policy CISDI, dalam sesi diskusi publik acara Health Inc: Sehat Buat Diri, Baik Buat Bumi di Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu, (05/07/2025).

Health Inc merupakan ruang temu dan diskusi bagi isu kesehatan dan non-kesehatan yang rutin diselenggarakan CISDI. Melalui talkshow #BeraniPilihPangan, Health Inc kali ini menghadirkan pembicara Nida Adzilah Auliani, Anugrah Novianti (Co-Founder Sahabat Gizi), Bergita Gusti Lipu (Sustainable Food System Officer, WRI Indonesia), Ishabella (Nutrisionis & Co-Founder Micro Mindfulness), serta Maria Dominika (Research and Policy Analyst CIPS) selaku moderator. Diskusi tentang pangan sehat ini diikuti 55 peserta.

Baca juga: Membongkar Aib, Melawan Stigma, Menyelamatkan Anak; Menelusuri Kasus Inses di Bengkulu 

Nida mengatakan, konsumsi MBDK merupakan salah satu faktor risiko yang meningkatkan potensi penyakit katastropik atau penyakit-penyakit berat dan berbiaya tinggi, seperti penyakit jantung dan diabetes melitus tipe 2.

Pembiayaan untuk penyakit katastropik di Indonesia dalam lima tahun terakhir melonjak hingga Rp 6-10 triliun. “Pola konsumsi yang tidak sehat menunjukkan keterkaitan antara lingkungan obesogenik dengan beban terhadap keuangan negara,” kata Nida.

Lingkungan obesogenik—yakni lingkungan yang mendorong terjadinya obesitas—terbentuk oleh berbagai faktor, seperti murahnya harga makanan dan minuman tidak sehat, serta mudahnya akses untuk memperoleh produk-produk tersebut. Di Indonesia, lingkungan obesogenik juga bertanggung jawab atas fenomena triple burden of malnutrition, yakni gizi kurang, gizi buruk, dan obesitas.

“Dalam satu keluarga mungkin ada orang tua yang kelebihan berat badan, namun anaknya mengalami kekurangan gizi,” ungkap Anugrah Novianti, Co-Founder Sahabat Gizi.

Nida Adzilah Auliani (memegang mic), Project Lead for Food Policy CISDI, memaparkan perihal pangan sehat dan tidak sehat dalam acara Health Inc., Sabtu, (05/07/2025). (foto: istimewa)

Gaya hidup sehat saat ini memang telah menjadi perhatian publik. Semakin banyaknya masyarakat yang menjalani aktivitas olahraga di ruang-ruang publik, seperti maraton atau lari pagi, menggambarkan hal tersebut. “Fenomena ini menunjukkan kesadaran untuk menghindari penyakit sejak dini mulai tumbuh,” ungkap Anugrah.

Baca juga: Jamu Kekinian Rasa Tradisi: Kisah Erin dan “Mise en Bounce” yang Bikin Repeat Order!

Namun, kesadaran individu saja tidak cukup untuk mewujudkan lingkungan pangan sehat. Nida mengungkapkan pentingnya masyarakat untuk terlibat menciptakan lingkungan pangan yang lebih baik. “Sebagai konsumen kita bisa memulai dari hal kecil, seperti mindful eating, contohnya dengan membaca label informasi gizi produk yang kita beli,” ucapnya.

Sebagai bagian dari komunitas dan masyarakat, Nida menambahkan, para peserta Health Inc bisa membagikan informasi ataupun menularkan pengetahuan yang dimiliki tentang pangan dan gaya hidup sehat kepada orang-orang sekitarnya.

“Terakhir, kita sebagai warga negara bisa menyuarakan pandangan dan suara kita kepada pemerintah untuk mendukung dan mewujudkan lingkungan pangan yang lebih sehat,” ungkap Nida menutup diskusi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Waspada Black Hat Marketing: Ketika Situs Negara Disusupi Judi Online

Drakor A Virtuous Business 2024: Seksualitas, Perceraian, dan Ketidakadilan Gender

Kebun Kopi Tangguh Iklim: Merawat Kembali Sumber Penghidupan Perempuan Petani Kopi

Leave a Comment