Mengapa Perempuan Sering Pergi ke Toilet Beramai-ramai?

Ais Fahira

News

Mengapa Perempuan Sering Pergi ke Toilet Beramai-ramai

Bincangperempuan.com- B’Pers pada tahu nggak, ada satu fenomena sosial yang mungkin bikin kaum adam geleng-geleng kepala, yaitu perempuan ketika ke toilet selalu bersama temannya. Bahkan enggak jarang, tidak hanya berdua, bisa sampe satu geng. Padahal yang benar-benar buang hajat mungkin hanya satu atau dua orang. Bagi sebagian laki-laki, toilet mungkin hanya sekadar urusan fungsional—masuk, buang hajat, cuci tangan, cabut. Tapi bagi perempuan, toilet bisa menjadi ruang sosial, ruang aman, bahkan ruang kerja kolektif dadakan loh!

Lebih dari Sekadar “Tempat Buang Hajat”

Fenomena pergi ke toilet beramai-ramai bukanlah hal sepele. Dalam artikel Giana Ciapponi di Ravishly, ia merujuk pada pemikiran Alfred Kinsey—peneliti seks yang menyinggung soal bagaimana perempuan membawa rasa malu intrinsik dalam dirinya. Perempuan juga punya ketertarikan secara seksual, tetapi di saat yang sama terjebak stigma sosial.

Jika terlalu berhati-hati, mereka bakalan dicap kaku. Sedangkan jika terlalu ekspresif, mereka bisa dicap liar. Ketegangan identitas ini akhirnya mendorong perempuan merasa lebih nyaman bergerak dalam kelompok, termasuk saat ke toilet. Ada kenyamanan tersendiri saat ditemani, bukan hanya untuk urusan praktis, melainkan juga emosional dan sosial.

Toilet, dengan segala keterbatasannya, berubah menjadi ruang sosial alternatif. Di sana perempuan bisa berbincang santai, bergurau, atau bahkan berbagi momen singkat seperti berswafoto di depan cermin. Jadi, kalau ada yang menganggap toilet hanyalah ruang fungsional, bagi perempuan ruang ini seringkali lebih kaya makna.

Toilet sebagai Ruang Solidaritas

Bagi banyak perempuan, toilet tidak hanya tempat untuk buang hajat. Toilet bisa menjadi tempat untuk sekadar menyisir rambut, merapikan makeup, mengambil napas sejenak, atau bercermin bersama teman. Dari situ, tercipta solidaritas kecil-kecilan yang justru penting dalam kehidupan sehari-hari.

Solidaritas ini terlihat sederhana seperti saling berbagi parfum, membantu memperbaiki jilbab yang miring, atau sekadar memberi validasi. Hal-hal kecil ini meneguhkan rasa kebersamaan. Dalam konteks ruang publik yang sering membuat perempuan merasa dinilai dari penampilan, toilet menjadi ruang yang lebih suportif dibandingkan ruang luar.

Bisa dibilang, toilet adalah ruang privat di dalam ruang publik. Di sana perempuan merasa sedikit lebih bebas dari tatapan luar, sekaligus mendapat penguatan dari kelompoknya sendiri.

Baca juga: Backburner Relationship, Ketidakjelasan dalam Hubungan

Dimensi Keamanan: Sexual Protectiveness

Namun, alasan perempuan pergi ke toilet bersama tidak hanya sebatas solidaritas. Ada dimensi keamanan yang penting dibicarakan yaitu sexual protectiveness.

Banyak kasus pelecehan terjadi di ruang publik yang seharusnya aman, termasuk toilet umum. Fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori fear of rape—teori yang membedakan cara laki-laki dan perempuan berperilaku di ruang publik.

Carol Ferraro (1996) menjelaskan bahwa ketakutan perempuan terhadap kejahatan seringkali muncul dalam bentuk “bayangan serangan seksual” yang hadir dalam pikiran mereka, bahkan secara tidak sadar. Bayangan itu bekerja seperti alarm internal yang mendorong perempuan untuk selalu waspada terhadap risiko tersebut.

Jadi ketika perempuan pergi ke toilet bersama, tindakan itu bukan hanya bersifat sosial, tetapi juga defensif. Mereka sedang berusaha melindungi diri dengan memastikan ada teman di sekitar mereka.

Biaya Sosial yang Tinggi

Kewaspadaan terhadap bayangan serangan seksual bukan tanpa alasan. Pelecehan hingga pemerkosaan memiliki dampak sosial yang sangat besar bagi perempuan.

Konsekuensinya bisa berlapis, mulai dari trauma psikologis, kehamilan yang tidak diinginkan, stigma sosial, hingga praktik victim blaming yang kerap menimpa korban. Dalam masyarakat patriarkal, perempuan justru sering dipersalahkan atas kekerasan yang menimpa dirinya.

Dengan risiko sebesar itu, wajar bila perempuan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan kecil untuk mengurangi ancaman. Pergi ke toilet beramai-ramai adalah salah satunya. Bagi laki-laki, kebiasaan ini mungkin tampak sepele. Namun, dari sudut pandang perempuan, ini bisa menjadi strategi menjaga diri.

Dari Toilet ke Jalanan

Selain kebiasaan pergi ke toilet bersama teman, ada gerakan sosial yang lebih luas. Misalnya, aksi “Take Back the Night” yang muncul di berbagai kota di dunia. Gerakan ini memperlihatkan bagaimana perempuan berkumpul dan berjalan bersama di malam hari sebagai bentuk protes terhadap kondisi ruang publik yang tidak aman.

Prinsipnya sama yaitu bergerak bersama lebih aman daripada bergerak sendirian. Toilet hanya salah satu contoh kecil dari strategi kolektif perempuan untuk menegaskan keberadaan mereka di ruang publik.

Baca juga: Mengapa Perempuan Sering Terjebak Toxic Relationship?

Lebih dari Sekadar Kebiasaan

Jadi, kebiasaan perempuan pergi ke toilet beramai-ramai bukanlah perilaku aneh atau sekadar gaya-gayaan. Ada lapisan sosial, emosional, hingga politis di baliknya.

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa perempuan masih harus mengantisipasi ketidakamanan di ruang-ruang yang seharusnya netral. Selama kondisi itu belum berubah, kebiasaan pergi bersama akan terus ada.

Apa yang terlihat sederhana seringkali menyimpan makna lebih dalam. Toilet, bagi perempuan, bukan hanya urusan biologis, tetapi juga sosial dan politis. Dengan pergi beramai-ramai, mereka sedang menegaskan solidaritas sekaligus melindungi diri dari ketidakpastian ruang publik.

Maka, lain kali ketika melihat perempuan masuk ke toilet bersama, mungkin lebih tepat untuk tidak menganggapnya sebagai keanehan, melainkan sebagai cermin dari realitas sosial yang mereka hadapi setiap hari.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Negosiasi Tubuh dan Cinta dalam Venus: Kronik Cinta Perempuan Urban

Normalkah Bagi Perempuan Melakukan Masturbasi?

Say No To Insecure

Leave a Comment