Aesthetic Fatigue: Ketika Keindahan Justru Jadi Seragam

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Beberapa tahun terakhir, seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa segala hal harus tampak estetik. Meja kerja harus berwarna putih gading, dapur harus minimalis, dinding harus putih bersih, dan cangkir kopi harus senada dengan warna kuku. Media sosial, terutama Instagram dan Pinterest, membentuk cara kita memandang dunia dan tanpa sadar, juga mengatur bagaimana seharusnya sesuatu terlihat cantik.

Namun di balik tampilan yang rapi dan menenangkan itu, muncul rasa jenuh baru. Cantik, tapi membosankan, itulah yang kini disebut banyak peneliti dan pengamat gaya hidup sebagai aesthetic fatigue—keadaan ketika keindahan yang terlalu dikurasi justru membuat kita kehilangan rasa kagum terhadapnya.

Ketika Estetika Jadi Pola, Bukan Rasa

Istilah aesthetic fatigue sebenarnya berakar dari psikologi, bukan dari dunia desain atau gaya hidup semata. Konsep dasarnya berasal dari teori sensory adaptation yang dijelaskan oleh Lin, Yang, dan Huang (2003) dalam Dictionary of Psychology. Mereka menyebut bahwa ketika seseorang terus-menerus menerima rangsangan visual yang sama, intensitas respons sensoriknya akan menurun seiring waktu.

Penelitian terbaru berjudul Visual Aesthetic Fatigue: The Impacts of Beauty, Novelty and Type of Landscape (2025), Jingwei Zhao dari China University of Mining and Technology juga menjelaskan bahwa manusia mengalami penurunan apresiasi terhadap keindahan yang diulang terus-menerus. Ia menyebutnya sebagai visual aesthetic fatigue—fenomena di mana seseorang semakin kurang tertarik terhadap rangsangan visual karena tampilannya monoton.

Zhao melakukan eksperimen dengan memperlihatkan 15 foto lanskap yang berbeda, mulai dari ruang hijau kota hingga pemandangan alam. Setelah ditampilkan berulang kali selama beberapa minggu, peserta penelitian melaporkan penurunan minat dan kepuasan visual. Yang menarik, ruang hijau kota justru menimbulkan aesthetic fatigue paling tinggi karena tampilannya terlalu seragam dan terprediksi. Sementara itu, pemandangan alam yang lebih acak dan alami justru paling sedikit menimbulkan kejenuhan.

Baca juga: Delayed Emotional Response, Ketika Perasaan Datang Terlambat

Dari Lanskap ke Interior: Jenuhnya Dunia yang Terlalu Seragam

Fenomena ini kini terlihat jelas dalam gaya desain interior dan kafe kekinian di Indonesia. Hampir setiap tempat nongkrong menampilkan nuansa putih gading, atau cokelat muda ala Pinterest. Lampu hangat, meja kayu berwarna cerah, dan rak minimalis jadi pakem estetika yang diikuti banyak tempat. Awalnya menenangkan dan tampak rapi, tetapi lama-lama terasa membosankan karena semuanya tampak seragam.

Dari tren ini, kita bisa lihat bahwa keindahan yang dulunya dimaksudkan untuk memberi kenyamanan justru berubah jadi tuntutan visual. Ruang tidak lagi diciptakan untuk dihuni, tetapi untuk difoto. Estetika menjadi performatif, bukan pengalaman. Mungkin itulah yang membuat sebagian orang kini justru rindu pada suasana yang sedikit berantakan—ruang yang benar-benar hidup, bukan sekadar “instagrammable.”

Dari Ruang Hingga Tubuh: Kelelahan dalam Pencarian Kesempurnaan

Fenomena kelelahan terhadap keindahan tidak hanya terjadi di ruang fisik, tapi juga pada tubuh dan wajah manusia. Wioleta Martusewicz, seorang konsultan estetika dan kecantikan, menyebut klien-kliennya kini mulai kehilangan antusiasme terhadap hasil perubahan mereka sendiri.

 “Mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan—kulit lebih cerah, wajah lebih tirus—tapi rasa puasnya hanya sebentar,” tulisnya dalam blog bisnis miliknya.

Menurutnya fenomena ini dijelaskan lewat konsep hedonic adaptation—kecenderungan otak manusia untuk cepat terbiasa terhadap perubahan positif. Setelah tubuh atau wajah kita membaik, kepuasan emosionalnya tidak bertahan lama. 

Wioleta mencontohkan ketika seseorang sudah berhasil menurunkan berat badan 10 kilogram, tapi kini merasa lengannya kurang ideal. Kulit sudah mulus, tapi pipi dianggap terlalu datar. Standar kecantikan terus bergerak, sementara rasa cukup makin menjauh.

Ketika “glow-up” tak lagi terasa menyenangkan, orang mulai mencari cara baru untuk merasakan sesuatu lagi. Maka muncullah siklus tanpa akhir di mana semakin banyak perawatan, semakin tinggi standar, tapi kepuasan justru semakin menurun.

Peran Media Sosial: Ketika Perbandingan Jadi Kebiasaan

Media sosial juga berperan dalam mempercepat siklus ini. Instagram, TikTok, dan YouTube menampilkan wajah dan tubuh yang diedit, difilter, atau dioperasi tanpa henti. Di antara teman sendiri pun muncul semacam kompetisi terselubung, siapa yang paling ideal bentuk tubuhnya. paling glowing, atau paling awet muda.

Di ruang gema visual ini, kecantikan tak lagi dirayakan, melainkan dijadikan standar ukur. Setiap orang berlomba menjadi “lebih sempurna”, bahkan ketika hasilnya sudah baik. Dalam banyak kasus, Wioleta menyebut fenomena ini sebagai tweakment creep—kecenderungan untuk terus menambah prosedur kosmetik kecil hingga akhirnya menghapus keunikan alami wajah seseorang.

Hasilnya tubuh dan wajah justru kehilangan karakter. Semuanya menjadi versi seragam dari “Instagram beauty” sepertu bibir penuh, hidung mancung, kulit cerah tanpa pori. Menurutnya ini ironis karenan keindahan yang dikejar dengan keras justru berakhir datar, tanpa keunikan dan kehilangan jiwa.

Ini sejalan dengan aesthetic fatigue yang dijelaskan Zhao ketika keindahan dipaksakan untuk berulang dan ditampilkan terus-menerus, manusia akan kehilangan respon emosional terhadapnya. Akhirnya, keindahan kehilangan tujuannya bukan lagi untuk dinikmati, melainkan untuk sebatas diunggah.

Baca juga:  Mastektomi dan Tubuh di Persimpangan Gender dan Kesehatan

Saatnya Sedikit Berantakan, Sedikit Jujur

Ini artinya aesthetic fatigue bukan sekadar kelelahan visual, tapi juga kelelahan emosional terhadap keseragaman. Mungkin ini sinyal bahwa kita butuh keindahan yang lebih jujur bukan yang sempurna di kamera, tapi yang hidup di mata dan hati.

Kita bisa mulai dengan hal kecil membiarkan meja kerja berantakan sedikit, menata ruang tanpa takut warna saling bertabrakan, atau tampil tanpa filter di kamera. Karena keindahan yang sebenarnya tidak selalu rapi, tidak selalu putih, dan tidak selalu seirama. Mungkin, justru di tengah ketidakteraturan itulah keindahan terasa nyata dan lebih otentik. 

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Pilihan Resolusi Tahun Baru yang Berpihak pada Perempuan

Kekerasan Berbasis Gender Mandek Dua Dekade, Pakar: “Tak Ada Alasan untuk Tidak Zero Tolerance”

Bagaimana India Memberikan Kompensasi atas Pemenjaraan yang Salah

Leave a Comment