Home » News » Mengatasi Standar Kecantikan Disney yang Tak Realistis

Mengatasi Standar Kecantikan Disney yang Tak Realistis

Yuni Camelia Putri

News

Mengatasi Standar Kecantikan Disney Tak Realistis

Bincangperempuan.com-  Disney Princess menjadi tontonan masa kecil bagi seluruh anak di dunia. Banyak anak yang bermimpi jadi Cinderella yang menggunakan sepatu kaca dan hidup bahagia dengan pangeran yang dicintainya. Beberapa anak juga berimajinasi menari di pesta dansa atau menjadi ratu seperti Elsa.

Disney memiliki peran dominan dalam budaya populer yang berkembang hingga saat ini. Film-film animasi Disney turut berperan dalam membentuk persepsi berbagai kalangan usia. Akan tetapi, pernahkan BPer’s menyadari bahwa karakter yang digambarkan justru menciptakan standar kecantikan yang tidak masuk akal?

Yups, BPer’s tidak salah membaca ini. BPer’s tentu menyadari bahwa putri-putri Disney memiliki kecantikan yang luar biasa. Kecantikan putri Disney membentuk citra tubuh yang dipuji dan diidealkan untuk membentuk pandangan yang diakui. Bukankah ini terdengar seperti standar kecantikan adalah penentu segalanya?

Persepsi ini dapat dilihat dalam kisah “Sleeping Beauty” yang menekankan pada penampilan dari karakter utamanya. Aurora yang malang diselamatkan oleh pangeran karena kecantikannya. Bahkan hal ini tergambar jelas di judul ceritanya.

Disney Princess seakan mengkorelasikan kecantikan dengan kualitas karakter seseorang. Kerap kali ditemukan bahwa paras yang cantik memiliki karakter yang baik, sementara sosok buruk rupa digambarkan dengan karakter yang negatif. Penggambaran karakter yang dinilai ‘ideal’ oleh Disney ini justru terdengar tidak adil dikehidupan nyata, kan?

Penggambaran perempuan yang harus ‘cantik’ ini seolah mengobjektifikasikan dan merendahkan perempuan. Hampir keseluruhan film Disney menyebutkan penampilan fisik adalah segalanya. Disney secara khusus menciptakan ekspektasi tubuh yang tidak realistis. Pada akhirnya, standar kecantikan yang dibuat secara tidak langsung mendorong perempuan untuk berpenampilan sama. Lantas, sejauh mana standar kecantikan ini merugikan perempuan?

Yuk, simak pembahasannya sampai habis!

Baca juga: Stop Normalisasi Manel, Saatnya Suarakan Kesetaraan!

Cantik jika memenuhi standar kecantikan Putri Disney?

Standar kecantikan yang dibangun oleh putri-putri Disney dianggap tidak realistis. Secara khusus, standar kecantikan ini terdengar merugikan dan membangun persepsi negatif seorang perempuan terhadap diri sendiri. Loh kok bisa?

Sebuah penelitian yang berjudul “Psychology of Popular Media” yang dilakukan terhadap anak-anak perempuan di dunia menemukan bahwa bentuk tubuh dan standar kecantikan yang disukai anak-anak perempuan memiliki keterlibatan dengan permainan dan tontonan mereka sehingga mempengaruhi perkembangannya. Kebanyakan dari mereka akan berpura-pura menjadi putri kerajaan Disney.

Jika BPer’s mengingatnya, sebagian besar putri Disney digambarkan sebagai seorang gadis yang memiliki bola mata besar, rambut yang indah, kulit bersih, payudara besar, pinggang kecil, dan tubuh yang ramping. BPer’s dapat melihat Cinderella dengan gaun megahnya atau Snow White dengan parasnya yang menawan, citra kecantikan inilah yang seringkali menjadi contoh yang sulit untuk diikuti oleh banyak orang.

Ironinya, standar ini berdampak buruk bagi anak-anak perempuan yang menjadi audiens utama dari film-film Disney. Representasi karakter yang dianggap ‘ideal’ oleh Disney menjadi tekanan psikologis bagi anak-anak yang ingin mengejarnya. Sekali lagi, standar kecantikan Disney tidak masuk akal.

Ada banyak studi yang menunjukkan bahwa film Disney Princess yang terus ditonton oleh anak-anak akan membentuk keyakinan bahwa kecantikan menjadi hal utama. Akibatnya, mereka hanya berfokus pada tampilan fisik yang harus mengikuti ‘standar kecantikan disney’ saja. Padahal, anak-anak yang membangun identitas dengan memaksakan dirinya untuk mengikuti apa yang ditontonnya akan menimbulkan dampak negatif secara mental dan sosialnya.

Pada akhirnya, citra tubuh yang diperlihatkan dan berusaha dikembangkan oleh Disney justru tidak mencerminkan keberagaman. Akibatnya, anak akan tumbuh sebagai sosok yang tidak percaya diri dan sulit menerima keberagaman.

Baca juga: Tiga Periode Pemilihan, Afirmasi Politik Perempuan di Bengkulu Tak Kunjung Terpenuhi

Apa yang dapat kita lakukan?

Standar kecantikan Disney yang berlebihan telah mempengaruhi representasi tubuh yang tidak realistis. Meskipun Disney mencoba memberikan gambar yang beragam, standar yang dibuat tetap dianggap tidak realistis di kehidupan sehari-hari. Akibatnya, standar yang diberikan justru membuat anak tidak percaya diri dan sulit menerima keberagaman. Lantas, apa yang dapat dilakukan?

Permasalahan ‘standar kecantikan tidak realistis’ yang diciptakan oleh Disney menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat. Masyarakat bertanggung jawab untuk meluruskan persepsi ‘kecantikan ideal’ dan mempromosikan keragaman kepada seluruh anak di dunia. Langkah ini dilakukan agar anak dapat menerima dirinya tanpa harus memenuhi standar putri Disney yang ditontonnya.

Tentu saja, orang tua menjadi orang pertama yang dapat meluruskan standar kecantikan yang tidak masuk akal tersebut. Orang tua dapat mengajarkan anak tentang standar kecantikan yang realistis dan pentingnya memiliki sikap yang positif. Cara terbaik adalah melakukan obrolan dengan anak tentang citra tubuh yang baik dan keberagaman dalam standar kecantikan di dunia.

Mengedukasi anak tentang keragaman tubuh dan nilai-nilai karakter yang positid dapat membantu anak lebih percaya diri dan menjauhi anak dari tekanan untuk standar yang tidak realistis.

Selain itu, masyarakata juga dapat memberikan kritik dan saran kepada Disney untuk bertanggung jawab terhadap standar kecantikan yang dibuatnya. Hal ini diperlukan agar Disney memberikan perubahan dengan menggambarkan keragaman dan menghindari standar yang tidak realistis sehingga anak mendapatkan dukungan yang baik dan terciptanya lingkungan media yang lebih mengedukasi.

Sumber:

  • Emerson L. Giese, 2023. “Disney Princesses and Body Image: Is This What Little Girls Should Be Looking Up To?”, dalam The Harvard Crimson
  • Silalahi, R., Wibowo, K. A., & Fuady, I. (2023). Comparison of Beauty Standards and Body Images on Disney Princesses and Female Villains. The Journal of Society and Media, 7(1), 174-192.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Lenny N. Rosalin, Wakil Menteri untuk Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak;

Perempuan Indonesia Masih Diharuskan Meninggalkan Pekerjaan yang Berbayar untuk Memenuhi Kebutuhan Perawatan

perempuan lokal merawat tradisi

Perempuan Lokal, Tak Surut Merawat Tradisi Seklang Putung

Standar Kecantikan

Rekonstruksi Perempuan dalam Kontes Kecantikan

Leave a Comment