Bincangperempuan.com- Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker dengan beban kesehatan yang sangat besar di Indonesia. Menurut situs Kemenkes Indonesia yang mengutip Data Globocan tahun 2020, jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 68.858 kasus (16,6%) dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia. Sementara itu, untuk jumlah kematiannya mencapai lebih dari 22 ribu jiwa kasus. Angka yang fantastis ini menegaskan bahwa kanker payudara bukan sekadar isu medis semata, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan dan kualitas hidup perempuan Indonesia.
Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat kanker payudara adalah melalui deteksi dini guna menemukan kanker sejak stadium awal. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat fatalitas, menyediakan pengobatan yang lebih mudah, serta mengurangi durasi rawatan dan biaya kesehatan. Upaya deteksi dini ini utamanya digalakkan dengan menggunakan metode SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) oleh tenaga kesehatan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan dasar.
Membaca Ketimpangan Layanan Deteksi Dini di Daerah
Meskipun urgensi skrining sudah amat jelas, pelaksanaan di lapangan menunjukkan tantangan geografis dan ketimpangan yang cukup lebar. Berdasarkan Laporan Deteksi Penyakit Tidak Menular 2023, sasaran deteksi dini kanker payudara di Indonesia untuk wanita usia 30–50 tahun adalah sebanyak 41.162.555 orang, dengan target nasional sebesar 29.513.789 orang. Namun, kenyataannya cakupan deteksi dini skala nasional pada tahun tersebut baru menyentuh angka 19,6% atau sekitar 5,77 juta perempuan.
Ketimpangan antarwilayah terlihat membentang sangat jauh. Pada laporan 2023, Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatatkan cakupan tertinggi yakni 52,1%, disusul Sumatera Barat (47,0%) dan Lampung (46,5%). Sebaliknya, kondisi memprihatinkan terjadi di wilayah timur Indonesia; Papua Pegunungan mencatat angka 0%, Papua Selatan 1,5%, dan Papua Tengah hanya 2%. Di sisi lain, Provinsi Bengkulu saat itu berada di posisi ke-19 nasional dengan capaian 17,5%.
Kabar baiknya, memasuki tahun 2024, terjadi tren pergerakan yang lebih positif secara keseluruhan. Sasaran nasional disesuaikan menjadi 42.422.363 orang dengan target 38.180.127 orang, dan jumlah peserta yang berhasil menjangkau deteksi dini meningkat hingga 10.840.869 orang. Capaian nasional pun naik menjadi 28,4%. Gorontalo melesat ke posisi puncak dengan angka 86,0%, diikuti Lampung (68,3%) dan Kepulauan Riau (65,6%). Sementara daerah seperti Papua Selatan (0,1%), Papua Pegunungan (2,5%), dan Daerah Istimewa Yogyakarta (5,3%) menduduki jajaran terendah.
Baca juga: Benarkah Ukuran Payudara Berubah Jika Sering Disentuh?
Laju Catatan Positif Bengkulu
Di tingkat nasional, cakupan deteksi dini memang masih menghadapi tantangan ketimpangan. Namun, data di Provinsi Bengkulu menunjukkan tren yang cukup menggembirakan dalam dua tahun terakhir.
Setelah sebelumnya tertahan di posisi ke-19 nasional pada tahun 2023 dengan angka 17,5%, Provinsi Bengkulu mencatatkan peningkatan signifikan pada tahun 2024. Capaian deteksi dini di Bengkulu naik tajam menjadi 35,2%, yang membawa provinsi ini melesat ke posisi ke-10 terbesar di Indonesia berdasarkan laporan kinerja Ditjen P2P Kemenkes.
Kenaikan ini tentu mencerminkan adanya perbaikan nyata dalam upaya skrining, baik lewat metode SADANIS maupun program deteksi dini yang terus digalakkan oleh Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan lokal. Ada kesadaran yang mulai tumbuh di tengah masyarakat dan respons fasilitas publik yang semakin aktif melakukan jemput bola.
Meski demikian, kita tidak boleh berpuas diri begitu saja. Angka 35,2% tersebut secara tidak langsung menggarisbawahi bahwa masih ada lebih dari 60% perempuan usia 30–50 tahun di Bengkulu yang belum tersentuh layanan deteksi dini. Kenyataan ini membuktikan bahwa edukasi publik, perluasan jangkauan SADANIS hingga ke tingkat puskesmas pelosok, serta dorongan agar perempuan secara independen melakukan Periksa Payudara Sendiri (SADARI) secara rutin setiap bulan harus terus dipacu tanpa henti.
Membaca Faktor Biologis
Menurut berbagai sumber, ada sejumlah faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengidap penyakit ini. Secara umum, faktor-faktor tersebut terbagi menjadi dua kelompok besar: faktor yang tidak dapat diubah dan faktor pilihan gaya hidup.
Pada kelompok pertama, menjadi seorang perempuan adalah faktor risiko tertinggi secara alami. Paparan hormon estrogen dan progesteron sepanjang hayat membuat tubuh perempuan jauh lebih rentan. Meski begitu, penting untuk diingat bahwa payudara bukan milik perempuan saja—sekitar 1% kasus kanker payudara global juga ditemukan pada pria.
Selain faktor jenis kelamin, pertambahan usia juga memegang peranan besar, di mana risiko melonjak tajam setelah seseorang memasuki usia 50 tahun. Kerentanan ini makin berlipat jika ada faktor genetik, seperti riwayat keluarga inti (ibu, saudara kandung, atau anak perempuan) yang pernah mengidap kanker serupa, atau adanya mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2.
Jejak reproduksi kita pun ikut mengintai. Menstruasi pertama yang datang terlalu dini (di bawah usia 12 tahun), menopause yang terlambat (di atas usia 55 tahun), keputusan untuk tidak hamil atau baru hamil pertama di atas usia 30 tahun, serta tidak menyusui, semuanya berkontribusi memperpanjang paparan hormon estrogen dalam tubuh. Semua hal ini adalah cetak biru biologis yang berada di luar kendali manusia.
Baca juga: No Bra Day, Sejenak Lepas Bra untk Solidaritas Kanker Payudara
Memegang Kendali atas Pilihan Gaya Hidup
Selain faktor biologis, ada kelompok faktor risiko lain yang justru sepenuhnya berada di jemari kita: pilihan gaya hidup sehari-hari.
Penumpukan lemak atau obesitas, terutama setelah menopause, mampu mendongkrak risiko kanker payudara hingga 20–40%. Sebab jaringan lemak ekstra dalam tubuh bertindak layaknya pabrik yang memproduksi hormon estrogen berlebih.
Risiko ini kian terakumulasi jika kita jarang bergerak, gemar mengonsumsi alkohol, atau terbiasa terpapar asap rokok—baik sebagai perokok aktif maupun pasif. Pola makan yang didominasi makanan tinggi lemak jenuh serta minim serat juga ikut memperkeruh kondisi internal tubuh. Ditambah lagi, riwayat paparan radiasi di area dada pada usia muda serta penggunaan terapi sulih hormon jangka panjang turut menjadi sinyal bahaya yang patut diwaspadai.
Artinya, walau kita tidak bisa memilih genetik atau menghentikan penuaan, kita punya kuasa penuh atas apa yang kita konsumsi dan bagaimana kita memperlakukan tubuh. Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga minimal 150 menit seminggu, menjauhi rokok dan alkohol, serta memperbanyak asupan serat bukanlah sekadar jargon sehat biasa. Itu adalah aksi nyata untuk mengambil alih kendali atas kesehatan diri sendiri demi menekan risiko kanker secara signifikan.
Jangan Abaikan, Sebab Ini Urusan Nyawa
Pada akhirnya, memahami faktor risiko dan konsisten melakukan deteksi dini bukanlah bentuk paranoia. Kanker payudara sama sekali tidak bisa dianggap sepele atau sekadar dibiarkan, lalu berharap semuanya akan baik-baik saja tanpa ada tindakan nyata.
Ia bukan penyakit yang menyapa dengan halus, melainkan salah satu pembunuh paling mematikan bagi perempuan di seluruh dunia. Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya bergantung pada program deteksi dini dan layanan kesehatan yang digalakkan pemerintah. Langkah pemerintah dalam menyediakan sarana skrining seperti SADANIS harus kita imbangi dari sisi personal: dengan membiasakan diri melakukan Periksa Payudara Sendiri (SADARI) secara rutin setiap bulan. Mengenali perubahan kecil pada tubuh sendiri adalah garis pertahanan pertama kita.
Referensi:
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024, July 23). What are the risk factors for breast cancer? U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/breast-cancer/risk-factors/index.html
- Indonesian Cancer Care Community. (n.d.). Faktor risiko kanker payudara. https://iccc.id/faktor-risiko-kanker-payudara?lang=en_
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022, Februari 3). Kanker payudara paling banyak di Indonesia, Kemenkes targetkan pemerataan layanan kesehatan. https://kemkes.go.id/id/kanker-payudaya-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan kinerja Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2023. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. https://p2p.kemkes.go.id/
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Laporan kinerja Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2024. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. https://p2p.kemkes.go.id/
- Siloam Hospitals. (2026, Juli 9). Wajib tahu! 5 faktor risiko kanker payudara yang perlu diwaspadai. https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/wajib-tahu-5-faktor-risiko-kanker-payudara-yang-perlu-diwaspadai
