Bincangperempuan.com- Apa yang dibutuhkan anak perempuan agar bisa tumbuh dengan kesetaraan, kesempatan, dan rasa aman yang lebih baik? Setiap kali berita kekerasan berbasis gender, pelecehan, atau ketimpangan relasi mencuat ke publik, refleks sosial yang paling sering terdengar adalah perintah bagi perempuan untuk selalu jaga diri dan berhati-hati.
Namun, jika dibedah lebih dalam, narasi “protect your daughter” ini secara tidak sadar menempatkan seluruh beban keselamatan pada bahu korban. Seolah-olah bahaya dan kekerasan adalah takdir alamiah yang tak bisa diubah seperti hujan dan perempuan wajib membawa payung serta berwaspada sepanjang hidupnya.
Melihat ketimpangan cara pandang ini, filantropis Rohini Nilekani mengajukan pertanyaan krusial yang sudah lama terabaikan: apa yang sebenarnya sedang terjadi pada anak laki-laki kita?
Baca juga: Kurikulum Anti-Misogini: Cara UK Melawan ‘Manosphere’ dari Ruang Kelas
Sisi Gelap Patriarki yang Menjerat Anak Laki-Laki
Dalam perbincangannya bersama Shaili Chopra yang dimuat dalam She The People, Nilekani menyoroti situasi anak laki-laki usia remaja, akses pendidikan, pemahaman seksualitas, hingga tekanan sosial untuk menjadi tulang punggung keluarga. Argumen Nilekani bukan bentuk negasi terhadap gerakan perempuan. Ia secara tegas menyatakan bahwa pemberdayaan perempuan belum selesai dan harus terus berjalan dengan dukungan finansial maupun kebijakan.
Namun, ia mempertanyakan apakah kesetaraan gender yang hakiki bisa dicapai jika kita menutup mata dari kebutuhan separuh populasi lainnya.
Selama berdekad-dekad, gagasan patriarki mendoktrin anak laki-laki sejak dini bahwa mereka harus selalu kuat dan menanggung beban ekonomi penuh. Di saat yang sama, ruang bagi mereka untuk memahami perubahan emosi, kecemasan masa depan, dan pertumbuhan seksualitas sangat minim. Ketika lapangan kerja menyempit dan perempuan makin berdaya, anak laki-laki yang tumbuh dalam ilusi dominasi patriarki rentan mengalami frustrasi. Tanpa kecerdasan emosional, tekanan ini rentan berbalik menjadi *backlash* atau sikap resisten yang justru membahayakan perempuan.
Selain itu, tantangan membesarkan anak laki-laki makin kompleks akibat eksosistem digital yang masif. Anak muda kini sangat mudah terpapar paparan konten kekerasan, ujaran kebencian, hingga narasi misoginis. Penyelesaiannya tidak cukup sekadar melarang atau mengontrol mereka dengan ketat, melainkan memberi fondasi emosional dan dukungan sistemik agar mereka tumbuh menjadi individu yang merasa aman dengan dirinya sendiri.
Apa Saja yang Perlu Ditanamkan dalam Mengasuh Anak Laki-Laki
Di sinilah pentingnya menerjemahkan narasi “educate your son” ke dalam pola pengasuhan nyata. Pakar pengasuhan Dr. Meg Meeker melalui situs iMom menekankan bahwa saat mendidik anak laki-laki, orang tua harus memiliki gambaran jelas tentang sosok seperti apa yang ingin mereka lihat ketika anak tersebut berusia 25 tahun kelak.
Anak laki-laki tidak lahir dengan tabiat toksik; mereka menyerapnya dari lingkungan. Untuk membongkar norma patriarki, berikut beberapa hal yang perlu ditanamkan sejak dini:
1. Mengolah Emosi dan Komunikasi
Patriarki mengajarkan laki-laki untuk memendam perasaan karena menangis dianggap “lemah”. Padahal, emosi yang tersumbat meluap menjadi amarah. Mengajari anak mengenali perasaannya dan membuang kebiasaan merespons dengan diam seakan masih tegar, agar ia tidak menyelesaikan konflik lewat kekerasan.
2. Kemandirian Domestik dan Merawat Diri
Menghapus stigma bahwa pekerjaan rumah tangga adalah tugas perempuan. Anak laki-laki yang terbiasa memasak, mencuci, dan merawat diri sendiri akan tumbuh menjadi pribadi mandiri yang menghargai kesetaraan peran dalam rumah tangga.
3. Mengendalikan Amarah dan Menolak Mitos Boys Will Be Boys
Mitos “boys will be boys” sering dipakai untuk memaklumi tindakan impulsif anak laki-laki. Anak harus diajarkan bahwa amarah itu manusiawi, namun tindakan merusak atau kasar adalah pilihan yang harus ia kendalikan sepenuhnya.
4. Bertanggung Jawab atas Akibat Perbuatan
Budaya patriarki kerap memberi ruang permakluman bagi kesalahan pria. Sejak kecil, anak laki-laki perlu paham bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi, dan keberanian mengakui kesalahan tanpa menyalahkan orang lain adalah tanda kedewasaan.
5. Menghargai Batasan dan Empati Digital
Di tengah gempuran cyberbullying di media sosial, anak laki-laki harus dididik untuk peka terhadap konsensus (consent) dan batasan orang lain. Mereka harus tahu kapan sebuah guyonan sudah berubah menjadi pelecehan.
6 Keberanian Menolak Tekanan Kelompok
Dorongan untuk diakui oleh sesama laki-laki (peer pressure) sering kali menjebak anak laki-laki. Mendidik mereka berarti memberi keberanian untuk berpegang pada prinsip dan berani berkata “tidak” saat kelompoknya melakukan tindakan yang merendahkan orang lain.
Baca juga: Bukan Sekadar Kelemahan Individu: Mengapa Kekerasan Berbasis Gender Berujung Bunuh Diri?
Langkah Aktif Menuju Kesetaraan
Pada akhirnya, “protect your daughter” dan “educate your son” bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan langkah yang saling melengkapi. Membekali anak perempuan dengan kesadaran menjaga diri tetaplah penting sebagai bentuk perlindungan diri. Namun, upaya itu akan sia-sia jika tidak diimbangi dengan edukasi mendasar bagi anak laki-laki.
Mendidik anak laki-laki bukan cuma soal melatih kemandirian atau mengelola amarah, tetapi juga memberanikan mereka untuk belajar menerima penolakan (rejection) dengan lapang dada dan dewasa. Ketika anak laki-laki paham bahwa penolakan adalah hal yang wajar dan bukan ancaman bagi harga dirinya—kita sedang mengikis salah satu akar utama kekerasan relasional.
Membesarkan anak laki-laki yang aman dengan dirinya sendiri, paham akan batasan, dan mampu menghargai keputusan orang lain adalah investasi terbesar kita untuk menciptakan ruang yang benar-benar aman bagi semua orang.
Referensi:
- Jergins, N. (n.d.). 13 things to teach your son before 13. iMom. https://www.imom.com/13-things-to-teach-your-son-before-13/
- SheThePeople. (2026, September 26). Rohini Nilekani on raising boys, gender equity and the challenges young men face. SheThePeople. https://www.shethepeople.tv/interviews/rohini-nilekani-on-raising-boys-12582017
