Benarkah Ukuran Payudara Berubah Jika Sering Disentuh?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- B’Pers mungkin pernah mendengar anggapan bahwa payudara akan membesar jika sering disentuh, terutama oleh pasangan. Ada juga mitos lain yang tak kalah problematik, seperti payudara yang kendor dianggap sebagai tanda tidak perawan. Pertanyaannya, benarkah sentuhan atau rangsangan seksual bisa memengaruhi ukuran payudara secara permanen? Mari kita pisahkan mana yang mitos dan mana yang fakta.

Benarkah Sering Mendapat Sentuhan Seksual Bisa Membesarkan Payudara?

Anggapan bahwa payudara akan membesar jika sering dipegang pasangan biasanya dikaitkan dengan adanya hasrat seksual. Secara medis, memang benar bahwa payudara merupakan salah satu bagian penting pada tubuh perempuan. Rangsangan pada area ini dapat menimbulkan respons fisik tertentu, termasuk perubahan sementara pada ukuran dan sensitivitas payudara.

Dr. Paras Shah—seksolog menulis di Lybrate bahwa saat seseorang mengalami rangsangan seksual, aliran darah meningkat ke berbagai bagian tubuh, termasuk payudara dan puting. Kondisi ini dapat membuat payudara tampak lebih penuh dan puting menjadi mengeras. Namun, efek ini bersifat sementara dan sangat bergantung pada fase respons seksual seseorang.

Selama fase gairah hingga orgasme, tubuh mengalami empat tahap respons seksual: excitement, plateau, orgasm, dan resolution. Pada fase plateau, pembuluh darah melebar dan jaringan tubuh mengalami pembengkakan ringan. 

Dalam kondisi ini, payudara bisa membesar sekitar 20–25 persen dari ukuran normal, tetapi hanya berlangsung selama periode rangsangan tersebut. Artinya, pembesaran itu bukan karena sering dipegang, melainkan respon biologis sementara.

Baca juga: Ramai Pembalut Repack di Pasaran, Apakah Aman?

Fakta: Tidak Ada Pembesaran Permanen

Sejumlah sumber medis menegaskan bahwa menyentuh, memijat, atau bahkan mengisap payudara tidak akan meningkatkan ukurannya secara permanen. 

RealSelf dan OnlyMyHealth sama-sama menyebutkan bahwa perubahan ukuran yang terjadi hanyalah akibat pembengkakan sementara karena peningkatan aliran darah, bukan pertumbuhan jaringan baru. Setelah tubuh kembali ke kondisi normal, ukuran payudara pun akan kembali seperti semula.

Lalu, Dari Mana Asal Mitos Ini?

Mitos ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang ikut membentuk dan melanggengkannya:

  1. Pengamatan keliru terhadap respons seksual
    Karena payudara memang terlihat lebih besar saat terangsang, banyak orang mengira perubahan tersebut bersifat permanen.
  2. Tradisi dan kepercayaan budaya
    Di beberapa budaya, pijat payudara dianggap sebagai bagian dari perawatan tubuh atau ritual kecantikan tradisional, meski tidak didukung bukti ilmiah.
  3. Kurangnya edukasi kesehatan reproduksi
    Minimnya pendidikan seks yang komprehensif membuat mitos lebih mudah dipercaya daripada penjelasan medis.
  4. Tren “natural enhancement” di media sosial
    Klaim pembesaran payudara secara alami tanpa operasi sering beredar luas tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Akar Patriarki di Balik Mitos Payudara

Tubuh perempuan termasuk payudara—sering dikaitkan dengan kesuburan, seksualitas, dan fungsi reproduksi. Dalam banyak budaya, payudara besar dianggap sebagai simbol “perempuan ideal” karena diasosiasikan dengan kemampuan melahirkan dan menyusui. Padahal, secara medis, ukuran payudara tidak berkaitan langsung dengan tingkat kesuburan.

Dari sini, muncul narasi bahwa tubuh perempuan “perlu diperbaiki” atau “dioptimalkan” agar sesuai dengan standar tertentu. Mitos bahwa payudara bisa membesar jika sering disentuh pasangan bukan hanya salah kaprah secara ilmiah, tapi juga mencerminkan pandangan patriarki yang menempatkan perempuan sebagai objek hasrat dan validasi laki-laki. Seolah-olah tubuh perempuan membutuhkan intervensi orang lain terutama pasangan untuk menjadi “ideal”.

Mitos yang Melanggengkan Internalized Misogyny 

Selain itu, mitos ini tidak hanya dilanggengkan oleh laki-laki, tetapi juga oleh sesama perempuan. Anggapan bahwa payudara yang besar atau tampak turun menandakan seseorang “tidak perawan” atau “tidak baik-baik” kerap muncul dalam gosip dan penilaian sehari-hari. 

Tanpa kita sadari, inilah bentuk internalized misogyny—ketika perempuan secara spontan mengadopsi dan mereproduksi pandangan yang merugikan dirinya sendiri dan sesamanya. Tubuh perempuan direduksi menjadi penanda moralitas, sementara fakta biologis dan medis diabaikan. 

Baca juga: Perempuan yang Ingin Hamil Sebaiknya Jangan Konsumsi Ganja

Lantas Apa yang Sebenarnya Menentukan Ukuran Payudara?

Mengutip artikel OnlyMyHealth, Dr. Bhumesh Tyagi, Consultant General Medicine di Shardacare Health City, ukuran payudara dipengaruhi oleh beberapa faktor utama:

  • Genetik: Faktor paling dominan dalam menentukan ukuran dan bentuk payudara.
  • Hormon: Estrogen dan progesteron berperan besar, terutama saat pubertas, menstruasi, kehamilan, dan menyusui.
  • Berat badan: Karena payudara sebagian besar terdiri dari jaringan lemak, perubahan berat badan dapat memengaruhi ukurannya.
  • Usia: Seiring bertambahnya usia, elastisitas kulit dan komposisi jaringan payudara ikut berubah.

Pada akhirnya memang bisa tampak membesar saat terangsang secara seksual, tetapi perubahan tersebut bersifat sementara dan tidak bertahan dalam jangka panjang. Klaim bahwa payudara bisa membesar karena sering disentuh pasangan hanyalah mitos yang bertahan akibat pengamatan keliru, tradisi budaya, dan kurangnya literasi kesehatan reproduksi.

Oleh karena itu apa pun bentuk dan ukuran payudaramu, semuanya valid. Tidak ada kewajiban untuk menyesuaikan tubuh dengan standar apa pun, apalagi lewat klaim keliru bahwa payudara bisa membesar karena dipijat atau disentuh pasangan. 

Tubuh perempuan tidak membutuhkan intervensi orang lain untuk menjadi ideal. Yang perlu dihentikan justru narasi yang menilai, mengatur, dan mengaitkan tubuh perempuan dengan moralitas maupun pengalaman seksualnya. Edukasi yang berbasis fakta dan penghormatan atas otonomi tubuh adalah langkah awal untuk memutus siklus mitos yang merugikan ini.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Produk olahan kecombrang

Dukungan Kepala Daerah Agar Bisa Wujudkan Produk Olahan Kecombrang Sebagai Ikon

Gaya Energi Feminin: Keseimbangan Antara Energi Gelap dan Terang

ASN Dilarang Bercerai Helmi Hasan Lupa Negara Bukan Penjaga Rumah Tangga

ASN Dilarang Bercerai? Helmi Hasan Lupa Negara Bukan Penjaga Rumah Tangga

Leave a Comment