Ospek Calon Menantu? Kenapa Ada Ibu yang Posesif Terhadap Anak Laki-lakinya?

Ais Fahira

News

Ospek Calon Menantu Kenapa Ada Ibu yang Posesif Terhadap Anak Laki-lakinya

Bincangperempuan.com- Belum lama ini viral potongan podcast Raditya Dika bersama Soimah, seorang penyanyi yang dikenal bukan hanya lewat suaranya, tapi juga kejenakaannya saat membawakan acara di televisi. Pada momen yang ramai dibicarakan, Soimah bercerita soal kedekatan putra pertamanya dengan seorang perempuan. Ia terang-terangan mengaku kalau dirinya bersikap ketus kepada perempuan yang menjadi pacar dari putranya.

“Pokoknya aku maki-maki dengan caraku lah. ‘Lu nggak ada laki-laki lain, macarin anak SMA.’ Kan (pacaran) dari SMA kan,” ujar Soimah dalam podcast tersebut.

Lebih jauh, Soimah menambahkan bahwa ia sering melontarkan kata-kata yang cukup tajam kepada pacar anaknya. Sampai-sampai, sang pacar menangis dan akhirnya memilih untuk minta putus.

Soimah melanjutkan ceritanya, bahwa setelah kejadian tersebut, ia dibangunkan tengah malam oleh putranya sepulang mengantar sang pacar. Dengan wajah kebingungan, sang anak bertanya apa yang ibunya katakan, karena pacarnya tiba-tiba ingin mengakhiri hubungan. Soimah pun mengaku, ya, memang pacar putranya sampai menangis karena perlakuannya.

Meski begitu, Soimah berdalih bahwa maksud dari “ospek” tersebut bukanlah untuk membuat sang gadis takut. Menurutnya, ia hanya ingin menunjukkan sisi terburuknya, demi menguji apakah calon menantunya itu siap menerima dirinya apa adanya.

Potongan pernyataan itu langsung memicu perdebatan di media sosial. Banyak netizen menilai tindakan Soimah berlebihan, bahkan cenderung tidak pantas. Sebagian berkomentar, pacar anaknya juga adalah anak orang lain yang punya orang tua, jadi tak semestinya diperlakukan kasar hanya demi “uji coba.” Walaupun hubungan mereka kini disebut sudah baik-baik saja, sikap Soimah yang begitu protektif tetap dianggap terlalu jauh.

Jika ditarik lebih luas, apa yang dilakukan Soimah bisa dibaca dalam bingkai “boy mom”—istilah yang dipakai untuk menggambarkan relasi emosional antara ibu dan anak laki-lakinya. Boy mom sering diromantisasi sebagai bentuk kasih sayang mendalam, di mana ibu merasa sangat dekat dengan anak laki-laki dan menempatkan dirinya sebagai “perempuan utama” dalam hidup sang anak. Dari situ muncul sikap posesif, protektif, bahkan kadang kompetitif terhadap perempuan lain yang masuk dalam lingkaran anaknya.

Baca juga: Mengandung dan Melahirkan: Dua Gambaran Kekuatan Perempuan

Apa Itu Boy Mom?

Istilah boy mom awalnya muncul di media sosial, lalu meluas menjadi identitas bagi para ibu yang mengunggah konten tentang kehidupan mereka bersama anak laki-laki. Menurut laporan USA Today (2024), istilah ini merujuk pada ibu yang sangat dekat, protektif, dan sering kali mengidealkan hubungan dengan anak laki-laki mereka.

Di satu sisi, menjadi boy mom dianggap keren. Ada kebanggaan tertentu bagi ibu yang bisa tampil kompak dengan putranya—mulai dari gaya berpakaian, humor khas laki-laki, sampai kegiatan fisik yang dianggap “anak cowok banget”. Di media sosial, hal ini sering dirayakan dengan tagar #BoyMom, menampilkan narasi seolah-olah anak laki-laki membawa energi unik yang berbeda dari anak perempuan.

Tetapi, di sisi lain, istilah ini juga sering dikritik. Sebab, boy mom bisa melahirkan relasi posesif antara ibu dan anak, bahkan menormalisasi perlakuan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan.

Ibu Lebih Sayang Anak Laki-Laki?

Fenomena ibu yang lebih dekat dengan anak laki-lakinya sebenarnya bukan hal baru. Survei yang dilakukan situs parenting Netmums dan dimuat oleh The Guardian mengungkapkan, hampir 90% ibu di Inggris mengakui bahwa mereka memperlakukan anak laki-laki dan perempuan secara berbeda. Beberapa temuan menarik dari survei tersebut:

  • Lebih dari separuh ibu mengaku merasa lebih dekat dengan anak laki-laki.
  • Anak laki-laki lebih sering “dimaklumi” ketika nakal, sementara anak perempuan lebih mudah ditegur.
  • Anak perempuan justru mendapat lebih banyak kritik, mulai dari perilaku hingga penampilan.

Dengan kata lain, ada bias yang membuat anak laki-laki sering kali menjadi pusat kasih sayang dan perhatian. Sedangkan anak perempuan, justru sebaliknya, mereka lebih dituntut untuk disiplin dan serius.

Jika ditarik ke konteks Indonesia, hal ini juga terasa familiar. Memang ada beberapa kelompok masyarakat yang menganut sistem matrilineal—misalnya Minangkabau, di mana garis keturunan ditarik dari pihak ibu dan harta pusaka diwariskan kepada anak perempuan. Namun, secara umum mayoritas budaya di Indonesia justru patrilineal, menempatkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga.

Sistem patrilineal memposisikan anak laki-laki sebagai pewaris marga, penjaga nama baik keluarga, sekaligus penopang utama di masa depan. Karena itu, posisi mereka seringkali ditempatkan lebih istimewa dibanding anak perempuan. Banyak orang tua, terutama ibu, merasa memiliki tanggung jawab ekstra untuk “mengawal” putranya agar kelak bisa memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga tersebut. Di sinilah pola posesif itu muncul—bukan sekadar karena rasa sayang, tetapi juga karena adanya konstruksi sosial yang menempatkan anak laki-laki sebagai generasi penerus suku atau keturunan.

Baca juga: Kerja Domestik Tak Terlihat, Tetapi Lelahnya Nyata

Patriarki yang Dibungkus Kasih Sayang

Kalau ditelusuri lebih jauh, sikap ibu yang posesif terhadap anak laki-laki tidak bisa dilepaskan dari budaya patriarki. Dalam konstruksi sosial kita, anak laki-laki sering diposisikan sebagai sosok istimewa seperti pewaris, pemimpin, atau tumpuan keluarga di masa depan.

Ibu yang terlalu dekat dengan anak laki-lakinya kadang tidak sekadar menunjukkan kasih sayang. Ada dimensi kepemilikan di sana. Seakan-akan sang anak adalah perpanjangan diri si ibu—dan oleh karena itu, siapa pun yang ingin mendekati harus melewati semacam uji kelayakan.

Sementara itu, anak perempuan tidak memperoleh perlakuan serupa. Mereka justru dididik untuk serba bisa, bahkan kadang diabaikan karena dianggap pada akhirnya akan ikut suami. Kontras ini menunjukkan bagaimana patriarki bekerja diam-diam lewat relasi ibu dan anak.

Dampak pada Anak dan Keluarga

Sekilas, hubungan dekat antara ibu dan anak laki-laki mungkin terlihat manis. Namun, dalam jangka panjang, dampaknya bisa buruk.

  1. Pada Anak Laki-Laki
    Anak bisa tumbuh dengan keterikatan emosional berlebihan pada ibunya. Mereka sulit mengambil keputusan mandiri, selalu merasa harus mendapat restu ibu, bahkan dalam urusan pribadi seperti pasangan hidup. Fenomena “anak mama” atau mama’s boy muncul dari pola ini.
  2. Pada Pasangan Anak
    Banyak konflik rumah tangga bermula dari campur tangan ibu mertua yang terlalu besar. Pasangan akan merasa dibandingkan, tidak cukup baik, karena ibu mertua yang terlau ikut campur.
  3. Pada Budaya Masyarakat
    Jika terus dinormalisasi, budaya ini memperkuat bias gender bahwa anak laki-laki selalu diprioritaskan, sementara anak perempuan dibebani tuntutan lebih besar. Akibatnya, ketidaksetaraan semakin dalam, dari rumah hingga ruang publik.

Pada akhirnya kedekatan ibu dengan anak laki-laki tentu tidak salah. Yang menjadi masalah adalah ketika kedekatan itu berubah menjadi kepemilikan, bahkan memengaruhi relasi anak dengan orang lain. Relasi yang seharusnya setara dan sehat rentan terganggu karena ada “bayangan” ibu yang terlalu dominan. Alih-alih belajar membangun kemandirian emosional, anak laki-laki bisa tumbuh terbiasa dilayani dan dilindungi, sehingga sulit benar-benar dewasa dalam mengelola relasi.

Sebab kasih sayang tidak harus diwujudkan dengan kontrol penuh. Sebaliknya, mendampingi anak agar mampu berdiri di atas keputusan dan hidupnya sendiri justru jauh lebih berarti. Menjadi orang tua bukan tentang memiliki, melainkan membimbing.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Minim Laporan atas Kasus Pemberitaan Kekerasan Seksual

Minim Laporan atas Kasus Pemberitaan Kekerasan Seksual

Komitmen AMSI Dorong Ekosistem Informasi yang Ramah Disabilitas di Bengkulu  

Komitmen AMSI Dorong Ekosistem Informasi yang Ramah Disabilitas di Bengkulu  

Lisa Black Pink dan boneka Labubu

FOMO: Tren Baru Boneka Labubu Digemari Para Kidult

Leave a Comment