Perjuangan Perempuan Uttarakhand Mencari Nafkah

Betty Herlina

News

Bincangperempuan.com- Nasib perempuan di Uttarakhand jadi cermin betapa susahnya kondisi pengangguran dan setengah pengangguran perempuan di India. Padahal jumlah mereka hampir separuh populasi negara bagian, tapi tetap aja banyak hambatan cari nafkah, apalagi ditambah faktor geografis yang bikin makin ribet.

Survei Ekonomi negara bagian 2024-25 juga nunjukkin masalah klasik: ketergantungan berlebihan pada pertanian berpenghasilan rendah, kesempatan kerja formal yang minim, kesenjangan antarwilayah, akses keuangan terbatas, pelatihan kerja yang nggak nyambung sama kebutuhan industri, dan lemahnya akses perempuan ke aset penting kayak tanah.

Peluang ekonomi kebanyakan masih numpuk di wilayah Terai atau dataran, bikin jurang pembangunan makin lebar dengan daerah perbukitan.

Emang ada kebijakan kayak Misi Penghidupan Pedesaan Nasional (NRLM), tapi hasilnya belum terasa. Diversifikasi kerja perempuan nyaris nggak ada.

Sekitar 68 persen perempuan masih kerja di sektor pertanian atau kegiatan serupa dengan penghasilan super rendah. Di daerah perbukitan, gaji mereka bahkan 45 persen lebih kecil dibanding perempuan di dataran.

Dampaknya, banyak perempuan akhirnya ninggalin pertanian. Apalagi, migrasi laki-laki bikin banyak lahan terbengkalai, produktivitas pertanian pun turun drastis.

Memang ada sebagian perempuan yang coba bertahan lewat hortikultura kecil-kecilan, kerajinan tangan, atau usaha informal. Tapi hambatan klasik muncul lagi: akses pasar minim, pelatihan seadanya, dan keterbatasan modal.

Survei Angkatan Kerja Berkala 2023-24 bilang, perempuan wiraswasta di sektor nonpertanian pedesaan rata-rata cuma dapet US $82,7 (sekitar Rs. 6917) per bulan—44 persen lebih rendah dibanding rekan mereka di kota.

Perempuan muda malah lebih susah. Yang lulusan sekolah, minim keterampilan, atau migran di kota, tingkat penganggurannya di atas 30 persen. Migrasi pun nggak otomatis bikin mereka gampang dapat kerja. Data nunjukkin hampir sepertiga perempuan umur 18–35 tahun di Uttarakhand masuk kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training). Potensi ekonominya gede banget, tapi masih kebuang sia-sia.

Masalah lain: “kemiskinan waktu.” Perempuan sering ketiban beban ganda: kerja rumah tangga seabrek plus cari nafkah buat rumah tangga. Walau tingkat pendidikan mereka udah lumayan tinggi, partisipasi kerja tetap rendah karena minim keterampilan teknis yang nyambung sama dunia industri.

Penelitian terbaru nunjukkin program pelatihan kayak NRLM dan Deen Dayal Upadhyaya Grameen Kaushalya Yojana memang sedikit bantu, tapi hasilnya setengah-setengah. Hanya 26 persen perempuan yang udah ikut pelatihan berhasil dapet kerja stabil. Artinya, masih ada gap gede antara pelatihan dan serapan industri.

Baca juga: Panas Ekstrem, Ancaman Serius buat Lansia India

Butuh skill baru, butuh cara kerja baru

Pelatihan vokasional jelas penting buat ningkatin daya kerja perempuan. Bidangnya bisa macem-macem: kewirausahaan pertanian, IT, pariwisata, layanan kesehatan, sampai keuangan.

Kalau soal pertanian, perlu ada diversifikasi produk, pemanfaatan teknologi, manajemen rantai pasok, dan bisnis yang proper. Di sektor lain, perempuan bisa didorong ke wisata petualangan (kayak arung jeram, trekking, pendakian), perhotelan, kuliner, sampai digital marketing buat promosi wisata lokal.

Dengan naiknya kebutuhan infrastruktur, skill kayak machine learning, desain proyek, konstruksi ramah lingkungan, pemeliharaan alat, pasang panel surya, sampai bangunan hijau bakal makin dibutuhin.

Laporan Pembangunan Manusia Uttarakhand 2019 bilang, program kayak Pradhan Mantri Kaushal Vikas Yojana perlu dirombak biar lebih gampang diakses, lebih dikenal, dan sesuai kebutuhan sektor. Dukungan kesehatan mental juga kudu masuk, entah lewat konseling sekolah, layanan lansia, atau pelatihan konselor jadi pilihan kerja.

Inklusi keuangan = kunci keberlanjutan

Laporan pemerintah negara bagian juga bilang: usaha mikro dan kecil (UMK) adalah tulang punggung buat bikin penghidupan perempuan lebih berkelanjutan.

Strateginya harus all-in: akses ke teknologi, kredit, skill, dan pasar. Investasi perlu fokus di hortikultura, pariwisata, layanan kesehatan, dan skill-based service, terutama buat daerah terpencil.

Kalau infrastruktur kayak jalan, listrik, dan internet dikuatkan, bisnis bakal lebih gampang jalan. Otoritas Pembangunan Pedesaan di tingkat blok juga bisa jadi motor penggerak pertumbuhan lintas sektor.

Akses finansial buat wirausaha perempuan harus lebih mudah: pinjaman tepat sasaran, bunga lunak, proses simpel, insentif pajak, dan literasi finansial. Biar makin kuat, perempuan juga perlu dibekali skill bisnis, branding, digital trade, dan marketing biar bisa perbesar basis pelanggan.

Kolaborasi multipihak—pemerintah, LSM, sektor swasta, dan organisasi akar rumput—penting buat perkuat rantai pasok, model koperasi, dan akses e-commerce. CSR bisa dipakai buat scale up inisiatif ini, sementara koperasi berbasis komunitas bikin daya tahan kolektif lebih kokoh.

Support ke organisasi akar rumput di bidang usaha, teknologi, dan skill training bakal bikin wirausaha perempuan makin percaya diri, sekaligus dorong pertumbuhan inklusif.

Pariwisata berbasis komunitas juga bisa jadi jalan. Homestay, trekking, yoga retreat, sampai tur musim dingin bisa nyiptain kerja berkelanjutan. Tapi perlu sinergi dengan lembaga lokal biar produk bisa dikembangin, dipromosiin, dan masuk pasar.

Baca juga:  India dan Perjuangan Menuju Kesetaraan Menstruasi

Migrasi + integrasi kerja = PR penting

Kebijakan harus peka sama hubungan antara migrasi dan peran ekonomi perempuan di perbukitan.

Riset baru nunjukkin dua model: SMM (Symbiotic Migration Model) buat manfaatin migrasi musiman dan permanen, serta DPD (Dual Pathway Development) yang gabungin kerja upahan dengan wirausaha. Intinya, bikin jembatan ekonomi antara desa dan kota biar pedesaan lebih tahan banting, sekaligus buka peluang buat perempuan urban atau yang pulang kampung.

Sayangnya, koordinasi antar-departemen masih lemah. Banyak kebijakan bagus jadi nggak maksimal di lapangan gara-gara miskomunikasi.

Saatnya rebut peluang, bangun ulang hidup

Kalau mau serius, strategi penghidupan perempuan Uttarakhand harus fokus pada sektor hortikultura, perikanan, tanaman herbal, UMKM, kerajinan, mikrohidro, energi hijau, jasa lingkungan, dan kehutanan.

Kesenjangan regional bisa ditekan lewat klaster ekonomi berbasis ekologi lokal. Pertanian pun bisa diarahkan ke produk bernilai tinggi kayak hortikultura, florikultura, peternakan, herba, atau milet.

Tapi semua ini butuh investasi publik yang lebih gede: infrastruktur, lahan kolektif, pertanian koperasi, akses input murah, teknologi tepat guna, rantai nilai yang berkelanjutan, plus asuransi tanaman yang komplit biar aman dari risiko iklim, bencana, atau serangan hewan liar.

Diadaptasi dari Rebuilding women’s jobs in the Himalayan hinterland yang sudah tayang terlebih dahulu di 360info.org

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Voices of Tomorrow

Teras

Artikel Lainnya

Komitmen AMSI Dorong Ekosistem Informasi yang Ramah Disabilitas di Bengkulu  

Komitmen AMSI Dorong Ekosistem Informasi yang Ramah Disabilitas di Bengkulu  

Tumbuh Bersama “Inner Circle” di Bincang Perempuan Circle

Tubuh Mulus Tanpa Bulu: Ekspektasi Tak Masuk Akal pada Penampilan

Leave a Comment