Home » Event » Remaja Bengkulu Kampanye KBGO dan KSBE Lewat Media Sosial

Remaja Bengkulu Kampanye KBGO dan KSBE Lewat Media Sosial

Bincang Perempuan

Event

Remaja Bengkulu kampanye KBGO

MENGANTISIPASI bertambahnya jumlah korban KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online) dan KSBE (Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik), sebanyak 40 peserta Jambore Remaja yang digelar Yayasan PUPA (Pusat Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak) dengan dukungan Asean Community Trust (ACT), sepakat melakukan kampanye bersama. Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial.

Antusias tersebut ditunjukan dengan pengumpulan karya tentang KBGO dan KSBE yang berisikan penguat informasi baik untuk personal maupun kolektif. Ada 22 karya yang masuk dalam penilaian tim juri hingga hari pelaksanaan Jambore Remaja, Sabtu (15/10). Bentuknya mulai dari format konten video TikTok hingga reels instagram, dengan durasi 1 hingga 3 menit.

“Secara subtansi khususnya isi materi, anak-anak ini sudah mampu menyampaikan dan mengerti apa itu KBGO dan KSBE. Artinya mereka sudah tahu. Kesadaran inilah yang perlu dibangun sejak dini, untuk mengantisipasi jangan sampai ada korban, karena anak-anak merupakan kelompok rentan terhadap kekerasan seksual,” Direktur Yayasan PUPA, Susi Handayani.

Tidak hanya pengiriman konten kampanye media sosial, jambore remaja anti KBGO/KSBE, juga dimeriahkan dengan beragam games menarik, serta penyampaian materi tentang bentuk-bentuk kekerasan. Susi berharap jambore tersebut bisa menjadi wadah kampanye offline bagi anak/remaja/pemuda/pemudi dalam urgensi kasus KBGO/KSBE.

“Nantinya mereka (peserta jambore, red) dengan menggunakan media sosial diharapkan dapat mengedukasi teman sebaya dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak, sesuai dengan umur mereka,” imbuh Susi.

Baca juga: Segera Daftarkan Diri Kamu!

Sementara itu, narasumber lainnya, Pemimpin Redaksi Bincang Perempuan, Betty Herlina, mengatakan kampanye melalui media sosial menjadi yang ditujukan pada pengguna media sosial dapat menjadi salah satu sarana efektif untuk menjaga diri dari tindakan pelecehan seksual sehingga dapat menekan jumlah korban. Mengingat jumlah pengguna sosial media usia anak cukup banyak.

“Umumnya anak-anak saat ini menggunakan instagram dan TikTok, jadi materi kampanyenya bisa dipost di insta story, atau reels. Bentuknya, dapat berupa poster atau question box yang mengajak para audien untuk bercerita dengan interaksi yang aman. Yang penting dilakukan sebelum membuat materi kampanye, adalah memastikan siapa yang ingin disasar sehingga dapat ditentukan konsep visual dan medianya,” pungkas Betty. (**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

kekerasan seksual

Artikel Lainnya

Perempuan dan Anak Kelompok Paling Rentan Terdampak Buruknya Kualitas Udara

Her Voice 2024: Dorong Keterlibatan Perempuan untuk Kebijakan yang Berkelanjutan

Sunat Perempuan di Indonesia

Kontroversi Sunat Perempuan di Indonesia

Leave a Comment