Bincangperempuan.com– Di tengah gempuran hustle culture, aktivitas harian bisa terasa monoton. Bangun pagi, berangkat kerja lalu pulang. Terkadang kita hidup dalam mode autopilot saking monotonnya. Namun, ada tren meromantisasi hal sederhana yang sudah mulai ramai sejak awal pandemi dan terus relevan hingga hari ini. Mungkin kamu pernah melihat tren ini berseliweran di media sosial: potongan video yang merekam bayangan dari pantulan cahaya matahari, kendaraan yang berlalu-lalang, potret orang-orang yang sama-sama kelelahan sepulang kerja, atau sekadar burung yang bertengger di tiang listrik. Disertai caption sederhana yang mengingatkan kita untuk berhenti sejenak.
Sebenarnya ada berbagai hal kecil yang berharga alam kehidupan sehari-hari, tetapi sebagian besar dari kita terlalu sibuk untuk menyadarinya. Kita terus-menerus terburu-buru dari satu tugas ke tugas berikutnya, mengukur seberapa berharga hari kita hanya dari seberapa produktif kita bekerja atau seberapa panjang daftar to-do list yang berhasil dicoret.
Namun, bagaimana jika hidup sebenarnya tidak dirancang sekadar untuk “dilewati”? Bagaimana jika hidup adalah sesuatu yang seharusnya kita rasakan secara mendalam, bahkan di momen-momen yang paling biasa sekalipun?
Di sinilah konsep romanticizing mundane life atau menikmati hidup yang biasa saja berperan. Ini tentang menyadari bagaimana cahaya matahari menari-nari di lantai saat kamu melipat pakaian. Meromantisasi hidup bisa membawa kegembiraan, keindahan, dan kelembutan ke dalam hari-harimu, bahkan ketika hari itu dipenuhi oleh rentetan pekerjaan rumah, rapat, atau segudang kewajiban.
Baca juga: Baby Face atau Childlike: Apakah Standar Kecantikan Kita Mengarah ke Pedofilia?
Tanda Kamu Sedang Meromantisasi Hidup yang Biasa Saja
Meromantisasi hidup bukan berarti harus selalu estetik atau memaksakan positivity setiap saat. Berikut adalah beberapa cirinya:
1. Fokus pada Momen
Saat menyeduh kopi, kamu tidak sekadar butuh kafeinnya untuk melek, tetapi kamu benar-benar menikmati aroma dan suhu hangat cangkirnya.
2. Main Character Energy
Kamu memposisikan diri sebagai tokoh utama di keseharianmu sendiri. Kamu tidak asal-asalan memilih baju atau piring makan, melainkan sengaja menggunakan barang favoritmu hanya untuk merayakan hari ini.
3. Berhenti Menunggu “Momen Besar”
Kamu tidak lagi menunggu weekend, jadwal liburan healing, atau pencapaian besar hanya untuk merasa hidup dan bahagia. Kamu memilih untuk hidup seutuhnya hari ini—lengkap dengan dapur yang berantakan, daftar belanjaan yang panjang, dan segala kekacauannya.
Kenapa Kita Membutuhkan Ini?
Pola pikir ini tidak serta merta menghapus kenyataan atau beban pekerjaanmu. Tetapi, meromantisasi hal-hal sederhana dalam hidup dapat menjadi pengingat bahwa keindahan tidak harus selalu ditebus dengan pencapaian besar, dan kebahagiaan dapat ditemukan di tempat-tempat yang tidak terduga. Hidup akan terasa lebih ringan, lebih menyenangkan, dan sepenuhnya menjadi milikmu ketika kamu mengizinkan sedikit romansa masuk ke dalam keseharian.
Selain itu, praktik ini memiliki landasan psikologis yang kuat. Melansir dari Formosa Journal of Applied Sciences (2024), praktik meromantisasi kehidupan merupakan bentuk nyata dari self-love (mencintai diri sendiri) sekaligus sebuah mekanisme koping (coping mechanism).
Sebagai manusia yang memiliki kerentanan emosional, menghadapi rutinitas dan masalah sehari-hari dapat memicu kelelahan mental. Jurnal tersebut menjelaskan bahwa kemampuan untuk mengapresiasi hal-hal kecil dapat membantu manusia menyeimbangkan realitas kehidupan yang sering tidak berjalan sesuai ekspektasi. Melalui penerimaan dan romantisasi keseharian ini, kita belajar untuk menghadapi realitas dengan lebih lapang dada dan menghargai diri kita sendiri secara utuh, terlepas dari seberapa “biasa”-nya hidup kita pada hari itu.
Baca juga: Glass Cliff: Ketika Perempuan Diberi Takhta Saat Kapal Mulai Karam
Hati-hati Jebakan Kapitalisme dan Toxic Positivity
Sayangnya, niat murni di balik tren meromantisasi hidup perlahan terdistorsi saat masuk ke pusaran media sosial. Alih-alih mengajak kita mengapresiasi apa yang sudah dimiliki, konsep ini justru dibajak oleh kapitalisme. Berbagai konten secara tersirat mendikte bahwa untuk bisa “meromantisasi hidup”, kamu harus membeli barang-barang tertentu—seperti menyalakan lilin aromaterapi mahal, menggunakan skincare mewah, atau menyesap kopi di kafe yang estetik.Ini menjebak kita dalam siklus konsumerisme yang membuat kita selalu merasa “kurang”.
Akibatnya muncul tekanan untuk selalu mencari makna estetik di setiap hal sepele justru berujung pada toxic positivity. Akibatnya, kita mulai menolak realitas yang kurang menyenangkan. Rasa lelah, kesedihan, atau hari yang buruk dianggap sebagai sebuah kegagalan yang tidak bernilai. Padahal, menyaring realitas agar hanya terlihat indah di mata orang lain bukanlah bentuk meromantisasi kehidupan, melainkan memanipulasinya.
Menerima Masa Kini Apa Adanya
Oleh karena itu, mari kita luruskan kembali makna aslinya. Meromantisasi hidup bukanlah dalih untuk menutupi sisi buruk kehidupanmu, memvalidasi gaya hidup konsumtif, atau memaksa diri untuk selalu tampil ceria. Tren ini pada dasarnya hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem yang menuntut kita untuk selalu produktif dan sibuk tanpa henti.
Pada akhirnya, seni meromantisasi hidup adalah tentang berhenti menunggu hal-hal luar biasa terjadi, dan berani memeluk masa kini seutuhnya, senormal, seberantakan, dan sebosan apa pun itu
Referensi:
- Putri, S. C., Wardhan, N. A., & Erawati, D. (2024). Romanticizing Life and Self Love between Phenomenon and Reality. Formosa Journal of Applied Sciences, 3(8), 3501–3510. https://doi.org/10.55927/fjas.v3i8.10547Â
- Caspi, E. (2025, 18 April). Romanticizing life: Embracing or erasing the mundane? The Plant.https://theplantnews.com/2025/04/18/romanticizing-life-embracing-or-erasing-the-mundane/
