Bincangperempuan.com- Jakarta jadi tuan rumah Konferensi Regional Asia Pasifik tentang Resistensi Antimikroba (AMR) 2025. Event ini digelar bareng Kementerian Kesehatan RI dan ReAct Asia Pacific, dan jadi momen penting buat bahas salah satu ancaman kesehatan global paling serius: AMR.
“Resistensi antimikroba itu masuk daftar 10 ancaman kesehatan global terbesar,” kata Shobha Shukla, Ketua Global AMR Media Alliance (GAMA), yang juga baru aja dapet penghargaan Pemimpin Emergen dan Talenta Unggul AMR & One Health 2024.
Apa Itu AMR dan Kenapa Penting Banget?
AMR (Antimicrobial Resistance) bikin obat-obatan kayak antibiotik jadi nggak mempan lawan infeksi. Tahun 2019 aja, AMR bakteri diperkirakan langsung menyebabkan 1,27 juta kematian dan berkontribusi pada 4,95 juta kematian global. Separuh beban itu ada di Asia Pasifik—wilayah yang juga jadi rumah buat separuh populasi dunia.
“Penyalahgunaan dan penggunaan berlebihan antimikroba di manusia, hewan, dan tumbuhan jadi penyebab utama munculnya patogen yang kebal obat,” jelas Dr SS Lal, Direktur ReAct Asia Pacific.
AMR berdampak ke semua negara, dari yang berpenghasilan tinggi sampai rendah. Tapi negara berkembang paling rentan karena faktor kayak kemiskinan dan ketimpangan akses kesehatan. “Kalau kita bisa pastikan semua orang dapet diagnosis yang cepat dan akurat, itu jadi pintu masuk buat pengobatan yang tepat. Dan itu bisa bantu stop penyalahgunaan obat,” lanjut Shobha Shukla.
Baca juga: Mengenal lendir Serviks, Kalender Kesuburan Alami Perempuan
Indonesia Tunjukkan Kepemimpinan dalam Isu AMR
“Pemerintah Indonesia sadar banget soal ancaman AMR dan mendukung penuh konferensi ini,” kata Dr Yuli Astuti Saripawan dari Kemenkes RI.
Indonesia udah punya Strategi Nasional AMR 2025–2029 dan Rencana Aksi Nasional AMR berbasis pendekatan One Health—yang nyambungin kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
“Kami juga punya regulasi soal penggunaan antibiotik dan pedoman bikin antibiogram,” tambah Dr Amy Rahmadanti dari Kemenkes RI.
FYI, antibiogram itu semacam laporan yang nunjukin seberapa efektif obat-obatan antimikroba terhadap berbagai jenis bakteri. Ini bantu dokter milih obat yang paling cocok buat pasien. Kemenkes lagi gencar evaluasi rumah sakit yang paling banyak pakai antibiotik, terutama yang pakai kelompok cadangan. Tahun ini, fokusnya ke penguatan kapasitas RS di bawah Kemenkes, termasuk pelatihan dan pengadaan alat diagnostik.
“Kami juga bangun jaringan diagnostik rujukan antara RS publik dan lab rujukan,” jelas Dr Amy.
Harapan dari Konferensi AMR Asia Pasifik 2025
Dr SS Lal menyampaikan harapan besar terhadap Konferensi AMR Asia Pasifik 2025 sebagai momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi regional dalam menghadapi resistensi antimikroba. Ia menekankan pentingnya menyusun peta jalan aksi yang konkret dan bisa langsung diterapkan di berbagai konteks lokal.
Selain itu, konferensi ini diharapkan mampu menyelaraskan prioritas jangka panjang antar negara, mempercepat implementasi rencana aksi nasional yang sudah dirancang, serta membuka ruang partisipasi aktif bagi masyarakat sipil, pemuda, dan komunitas. Tak kalah penting, Lal juga menyoroti perlunya memperkuat akses terhadap antimikroba yang tepat dan sistem pengelolaannya agar respons terhadap AMR menjadi lebih adil, efektif, dan berkelanjutan.
Aksi Lokal, Dampak Global
Asia Pasifik punya tantangan unik yang butuh solusi lokal. “Kita butuh rencana aksi yang relevan buat konteks Asia Pasifik. Sistem kesehatan di sini beda banget dari wilayah lain,” kata Dr Lal.
Contohnya, di beberapa negara, sektor kesehatan swasta layani 70–80% populasi dan kadang nggak diatur. Meski 90% negara di kawasan ini punya rencana aksi AMR, banyak yang belum revisi atau belum optimal implementasinya.
“Kita nggak bisa cuma kerja di level nasional. Harus ada aksi nyata di level lokal juga,” tegas Dr Lal. Ia juga dorong keterlibatan anak muda dan komunitas dalam gerakan AMR.
Ia menambahkan, diagnosis multi-penyakit yang cepat dan akurat harus bisa diakses semua orang. Ini bukan cuma soal pengobatan, tapi juga mencegah penyebaran infeksi. “Semua fasilitas kesehatan harus punya mekanisme pengelolaan antimikroba. Terutama fasilitas primer yang tiap hari ngeresepin obat,” kata Dr Lal.
Baca juga: PMS Bukan Alasan Ngambek: Stop Menyalahkan Hormon
Dari Komitmen ke Aksi Nyata
Tahun lalu, PBB adakan Pertemuan Tingkat Tinggi soal AMR dan hasilnya adalah Deklarasi Politik. “Sekarang saatnya ubah komitmen itu jadi aksi nyata,” kata Anna Sjöblom dari ReAct Europe.
Anna juga bilang, negara-negara di Asia Pasifik dan Eropa bisa saling belajar. Di Eropa, udah ada audit negara buat cek penggunaan antibiotik. Tapi mereka juga bisa belajar dari gerakan masyarakat sipil di Asia Pasifik. “Kalau masyarakat sehat, infeksi berkurang, dan kebutuhan antimikroba juga turun,” kata Anna dengan tegas.
Karena itu, langkah-langkah pencegahan dan penanganan harus dilakukan secara menyeluruh dan inklusif. Kita butuh sistem diagnostik multi-penyakit yang standar agar deteksi dini bisa dilakukan dengan akurat dan merata. Pengobatan pun harus cepat dan tepat, tanpa penundaan yang bisa memperburuk kondisi pasien.
Selain itu, pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas kesehatan maupun lingkungan sekitar jadi kunci utama. Vaksinasi, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa, harus diperluas agar daya tahan tubuh masyarakat meningkat. Dan yang nggak kalah penting: akses terhadap air bersih, sanitasi yang layak, dan kebersihan harus dijamin untuk semua orang, karena kesehatan dimulai dari lingkungan yang aman dan bersih.(**)
