Bincangperempuan.com– Sekarang ini, ngomongin soal aktivisme atau kegiatan menyuarakan isu-isu penting nggak terbatas pada aksi turun ke jalan aja. Media sosial memberi ruang buat siapa pun untuk ikut bersuara. Lewat membagikan informasi, menggalang dukungan, hingga mengatur kampanye daring. Fenomena ini dikenal sebagai digital activism, yaitu penggunaan teknologi dan platform digital untuk mengadvokasi isu sosial, politik, atau lingkungan.
But, dari digital activism ini, lahir pula bentuk partisipasi yang lebih mudah dan minim risiko. Istilah kerennya, slacktivism. Gabungan dari kata slacker (pemalas) dan activism (aktivisme), yang merujuk pada bentuk dukungan terhadap suatu isu dengan upaya yang sangat minimal.Seperti menyukai unggahan, membagikan tagar, menandatangani petisi daring, atau mengganti bingkai foto profil sebagai tanda solidaritas. Dan pastinya hal-hal kayak gini pasti pernah kalian lalukan dong ya?!
Slacktivism: Aktivisme atau Ilusi Kepedulian?
Mengutip dari Go Vocal, slacktivism adalah cara menyuarakan opini tanpa harus turun ke jalan atau menghadapi risiko langsung. Bentuknya bisa berupa tagar viral yang di-retweet, pita berwarna di pakaian, hingga bingkai pelangi di foto profil Facebook.
Salah satu contoh slacktivism yang menuai kritik datang dari video “Imagine” oleh Gal Gadot dan sejumlah selebritas dunia saat pandemi COVID-19. Dalam video itu, mereka menyanyikan lagu John Lennon dari kenyamanan rumah mewah mereka. Di tengah pandemi yang menghantam komunitas rentan dan berpenghasilan rendah, video ini dianggap sebagai bentuk solidaritas yang tidak menyentuh realitas. New York Times bahkan menyebut aksi tersebut sebagai simbol slacktivism terburuk—penuh kepuasan diri tanpa kontribusi nyata seperti donasi atau advokasi kebijakan.
Contoh lain adalah aksi tepuk tangan untuk tenaga medis dari balkon rumah selama masa lockdown. Awalnya hangat dan penuh haru, namun lama-kelamaan memunculkan pertanyaan bahwa mengapa mereka yang kini dielu-elukan sebagai “pekerja esensial” selama ini justru diabaikan—dibayar rendah, dan minim perlindungan? Narasi pahlawan tanpa perlindungan dan kompensasi malah menjadi glorifikasi penderitaan, ketimbang mencari solusi.
Tidak Selalu Buruk: Saat Slacktivism Berdampak
Meski banyak kritik, slacktivism tidak sepenuhnya sia-sia. Contohnya aja selama pandemi, kampanye Instagram seperti #StayHome dan #IStayHomeFor membantu mengedukasi generasi muda soal pentingnya jaga jarak. Sticker kecil di stories bisa menyebarkan pesan ke jutaan orang dalam waktu singkat. Ini menjadi sebuah langkah kecil dengan efek besar.
Gerakan #BlackLivesMatter juga awalnya muncul dari tagar di media sosial. Namun, gelombang kemarahan publik kemudian meluber ke jalan-jalan, menciptakan tekanan besar terhadap sistem hukum dan institusi negara. Meski tidak semua bentuk partisipasi daring berdampak langsung, banyak di antaranya yang menjadi titik tolak dari aksi nyata.
Baca juga: Sleep Call: Antara Rasa Sepi atau Bentuk Intimasi Digital?
Mengapa Slacktivism Digemari?
Slacktivism digemari karena sifatnya yang mudah dan cepat. Tidak perlu modal besar, waktu panjang, atau tenaga ekstra, cukup satu klik untuk membagikan tagar, atau menandatangani petisi. Aktivitas ini memberikan rasa bahwa kita sudah ikut berpartisipasi tanpa harus keluar rumah atau menghadapi risiko langsung.
Di sisi lain, ada faktor sosial yang membuat slacktivism semakin populer. Di era media sosial, citra diri menjadi bagian penting dari interaksi publik. Menunjukkan kepedulian pada isu tertentu meski hanya lewat unggahan sering dianggap sebagai tanda bahwa kita peduli dan tidak apatis. Ada dorongan untuk tampil sebagai “warga digital yang sadar isu” demi menjaga reputasi atau mendapatkan validasi sosial.
Meski minim usaha, slacktivism juga bisa menjadi pintu masuk menuju keterlibatan yang lebih nyata. Bagi sebagian orang, langkah awal seperti ini membuka jalan untuk mencari informasi lebih dalam, mengikuti diskusi, atau bahkan ikut terlibat dalam aksi di dunia nyata. Dengan kata lain, meski berawal dari klik sederhana, slacktivism bisa menjadi pemantik yang menuntun pada aktivisme yang lebih berkelanjutan jika ada niat untuk melangkah lebih jauh.
Efektivitas Slacktivism: Antara Tekanan Publik dan Ilusi Aksi
Menurut studi Tufts University, partisipasi daring oleh anak muda justru sering melengkapi, bukan menggantikan, aksi di dunia nyata. Sementara studi Change.org terhadap lebih dari 1.500 petisi daring yang ditujukan ke perusahaan besar menemukan bahwa perusahaan lebih responsif terhadap petisi yang cepat viral dan mendapat sorotan media. Ini menunjukkan bahwa tekanan publik secara daring tetap punya daya pengaruh, terutama jika diperkuat oleh strategi komunikasi yang tepat.
Namun, menurut survei Pew Research tahun 2023 terhadap 5.000 warga Amerika Serikat, 76% responden menilai bahwa aktivisme di media sosial sering membuat orang merasa sudah berkontribusi, padahal kenyataannya belum tentu ada dampak nyata. Fenomena ini ibarat membagikan foto dan tagar “#PrayFor…” lalu merasa misi telah selesai, tanpa memastikan apakah dukungan itu benar-benar membantu korban atau mendorong perubahan kebijakan.
Sering kali, orang membagikan postingan hanya karena viral atau selaras dengan citra diri, tanpa memahami konteks atau memeriksa kebenaran informasinya. Alhasil, yang tersebar bukan hanya solidaritas, tapi kadang juga misinformasi atau narasi setengah matang. Inilah sisi rapuh dari slacktivism—memberi rasa puas instan, tanpa diikuti langkah konkret yang menuntut waktu, tenaga, dan pemahaman mendalam.
Baca juga: Dari Jejak Digital ke Gangguan Makan: Ketika Layar Memengaruhi Nafsu Makan
Slacktivism, Awal Bukan Akhir
Slacktivism mungkin lahir dari kenyamanan zaman digital, tapi ia tidak harus berhenti di sana. Satu klik, satu unggahan, atau satu tanda tangan petisi bisa jadi titik awal yang memantik rasa ingin tahu dan kesadaran publik. Namun, tanpa langkah lanjutan baik itu advokasi, donasi, atau aksi nyata di lapangan dukungan itu akan menguap bersama tren yang berganti.
Di tengah derasnya arus informasi dan simbol solidaritas di media sosial, dunia tidak berubah hanya karena tagar viral, tapi dari gabungan suara di layar dan tindakan nyata.
Referensi:
- Go Vocal. (n.d.). Slacktivism: A formal introduction. Go Vocal. Diakses dari https://www.govocal.com/blog/civic-engagement-slacktivism#:~:text=Slacktivism:%20A%20Formal%20Introduction,petition%20you%20signed%20last%20week
- Change.org. (n.d.). What is slacktivism?. Change.org. Diakses dari https://www.change.org/l/us/what-is-slacktivism#
