Bincangperempuan.com- B’Pers, ketika kita membuka media sosial, kita melihat video dance, wajah-wajah rupawan, tubuh ideal yang terus menghiasi FYP (for your page). Akibatnya kita secara perlahan mulai percaya bahwa itulah standar yang harus dicapai. Dan akhirnya membandingkan diri dengan mereka yang tampil sempurna. Lama-kelamaan, rasa tidak puas terhadap diri sendiri tumbuh, hingga memengaruhi pola pikir, kebiasaan makan, dan pada akhirnya, kesehatan mental.
Media sosial sekarang menciptakan ekspektasi tak realistis tentang tubuh dan penampilan. Banyak orang yang terjebak dalam pola makan tidak sehat, atau bahkan gangguan makan, yang sebagian besar dipicu oleh paparan konten-konten Hal ini diungkap peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kencana Sari.
Melansir dari Liputan6, ia mengungkap bahwa berdasarkan data Global Burden of Disease (GBD) dari WHO (2022), pada tahun 2019, satu dari delapan orang di dunia menderita gangguan kesehatan mental. Sekitar 14 juta kasus gangguan makan secara global, 20 persen di antaranya terjadi pada anak dan remaja.
Penyebab Gangguan Makan yang Dipicu Media Sosial
Kencana melanjutkan bahwa berdasarkan temuannya, variabel yang terbukti berhubungan secara signifikan padalah status gizi, citra tubuh (body image), jumlah akun media sosial, serta perilaku sebagai pengguna pasif media sosial. Selain itu, sebuah tinjauan pada tahun 2021 mengidentifikasi empat faktor utama yang mendorong gangguan makan akibat media sosial:
- Visual Appeal: Perusahaan banyak memanfaatkan estetika visual untuk mempromosikan produk mereka di media sosial yang akibatnya bisa memicu pola makan yang tidak sehat.
- Content Dissemination: Resep makanan ekstrem atau gaya hidup diet menyebar luas dan memengaruhi pengguna media sosial.
- Socialized Digital Connections: Komunitas online dan tekanan sosial memperkuat kebiasaan makan yang menyimpang.
- Adolescent Influencers: Influencer yang menjadi panutan, mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau mempromosikan gaya diet ketat.
Baca juga: Gandeng AMSI, TikTok Perkuat Kampanye Digital #LawanJudol
Jenis Gangguan Makan
Gangguan makan ada berbagai macam, melansir dari American Psychiatric berikut ini adalah beberapa jenis gangguan makan yang paling umum dan dampaknya:
Anoreksia Nervosa
Anoreksia adalah gangguan makan yang ditandai dengan ketakutan ekstrem terhadap kenaikan berat badan. Penderitanya sangat membatasi asupan makanan meski tubuh sudah sangat kurus secara medis.
Terdapat dua subtipe penderita anoreksia:
- Restricting type: Menghindari makanan secara ekstrem dan berolahraga berlebihan.
- Binge-eating/purging type: Sesekali mengalami episode makan dalam jumlah besar, yang kemudian diikuti dengan perilaku memuntahkan makanan atau penggunaan obat pencahar.
Tanda-tanda fisik dan psikologis:
- Penurunan berat badan drastis
- Kulit kering, rambut rontok, kuku rapuh
- Tidak mengalami menstruasi (amenorea)
- Rasa dingin berlebihan, tekanan darah rendah
- Gangguan konsentrasi, depresi, dan isolasi sosial
Anoreksia memiliki tingkat kematian tertinggi di antara gangguan mental. Selain komplikasi medis (gagal jantung, osteoporosis, anemia), gangguan ini juga berkaitan erat dengan risiko bunuh diri.
Bulimia Nervosa
Penderita bulimia mengalami siklus berulang dari makan dalam jumlah besar, lalu diikuti perilaku kompensasi tidak sehat seperti muntah paksa, penggunaan obat pencahar, puasa ekstrem, atau olahraga berlebihan. Meski berat badan penderita mungkin masih dalam kisaran normal, gangguan ini tetap membahayakan tubuh dan jiwa mereka.
Gejala umum:
- Pergi ke kamar mandi segera setelah makan
- Bau mulut, kerusakan gigi akibat asam lambung
- Pembengkakan pipi atau rahang akibat kelenjar ludah yang meradang
- Rasa malu dan kehilangan kontrol setelah makan
Bulimia juga berdampak pada sistem pencernaan, keseimbangan elektrolit tubuh, dan kesehatan jantung. Penanganan biasanya berupa terapi perilaku kognitif dan dikombinasikan dengan obat antidepresan.
Baca juga: Digital Footprint: Jadi Kenangan Manis atau Aib yang Tak Bisa Dihapus?
Binge Eating Disorder (BED)
Berbeda dengan bulimia, penderita BED mengalami episode makan berlebihan tanpa perilaku kompensasi seperti muntah atau olahraga ekstrem. Gangguan ini sering dikaitkan dengan emosi negatif seperti rasa bersalah, jijik terhadap diri sendiri, dan depresi. BED merupakan gangguan makan paling umum di Amerika Serikat dan bisa berdampak jangka panjang terhadap kesehatan fisik, terutama obesitas.
Tanda-tanda utama:
- Makan sangat cepat sampai merasa tidak nyaman
- Makan saat tidak lapar
- Makan sendirian karena malu
- Perasaan jijik dan putus asa setelah makan
BED dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, serta gangguan metabolik. Terapi psikologis dan obat seperti lisdexamfetamine atas resep ahli dapat membantu mengurangi gejala tersebut.
Other Specified Feeding and Eating Disorder (OSFED)
OSFED mencakup berbagai gangguan makan yang tidak memenuhi semua kriteria diagnosis dari anoreksia, bulimia, atau BED, namun tetap memiliki dampak serius. Misalnya:
- Anoreksia atipikal: Berat badan masih dalam kisaran normal, tapi mengalami gejala anoreksia seperti pembatasan makan ekstrem dan ketakutan akan gemuk.
- Bulimia atau BED frekuensi rendah: Terjadi lebih jarang tapi tetap mengganggu fungsi sehari-hari.
- Night Eating Syndrome: Konsumsi kalori dalam jumlah besar di malam hari yang disertai gangguan tidur.
Regulasi Penggunaan Media Sosial
Gangguan makan merupakan masalah serius yang semakin diperparah oleh pengaruh media sosial. Oleh karena itu, penting bagi platform media sosial untuk mengatur konten yang beredar agar dapat melindungi remaja dari paparan citra tubuh tidak realistis dan perilaku makan yang merugikan. Kebijakan yang kuat, termasuk perlindungan data pengguna dan mekanisme pelaporan konten negatif, harus segera diterapkan dengan pengawasan oleh para ahli kesehatan mental.
Peran orang tua dan pengasuh juga tidak kalah penting. Dengan komunikasi terbuka dan keterlibatan aktif, mereka bisa membantu mengatur penggunaan media sosial anak, mencegah risiko yang merugikan kesehatan mental remaja, serta mendukung pemulihan gangguan makan.
Selain itu perlu adanya kampanye kesadaran dan edukasi melalui media sosial. Melalui inisiatif seperti kampanye tagar dan materi pembelajaran, stigma terhadap gangguan makan dapat dikurangi dan deteksi dini dapat dilakukan. Upaya anti-bullying dan pelatihan influencer kesehatan mental juga bisa menciptakan ruang digital yang lebih aman dan mendukung citra tubuh positif.
Referensi:
- Chung, A., Vieira, D., Donley, T., Tan, N., Jean-Louis, G., Gouley, K. K., et al. (2021). Adolescent peer influence on eating behaviors via social media: Scoping review. Journal of Medical Internet Research, 23(6), e19697. https://doi.org/10.2196/19697
- Liputan6.com. (2024, Mei 13). Peneliti ungkap kaitan erat antara penggunaan media sosial dengan gangguan makan pada remaja. https://www.liputan6.com/health/read/6035041/peneliti-ungkap-kaitan-erat-antara-penggunaan-media-sosial-dengan-gangguan-makan-pada-remaja
- National Institutes of Health. (2024). Social media use and eating disorders among adolescents: A systematic review. PubMed Central. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC10884122/
- American Psychiatric Association. (n.d.). What are eating disorders? https://www.psychiatry.org/patients-families/eating-disorders/what-are-eating-disorders#section_7
