Bincangperempuan.com- “Aku suka sleep call karena jadi lebih mudah tidur,” ujar Fajri (26), seorang pekerja yang hampir setiap malam tertidur sambil terhubung lewat video call. Menariknya bukan hanya dengan pasangan, terkadang ia juga sleep call dengan sahabat dekatnya. “Dari kecil aku terbiasa ditemani tidur. Rasanya lebih nyaman kalau ada suara,” lanjutnya.
Bagi Fajri, mengaku sering mengalami insomnia ringan, terutama saat pulang kerja dalam kondisi stres atau cemas. Dalam situasi seperti itu, suara orang terdekat—meski hanya lewat layar ponsel—membantu menenangkan pikirannya. Percakapan ringan, tawa kecil, atau bahkan hanya mendengar napas orang lain di seberang panggilan, mampu menciptakan rasa aman yang membuatnya lebih mudah terlelap.
Fajri hanyalah satu dari banyak anak muda yang rutin melakukan sleep call. Biasanya dilakukan lewat telepon atau video call, sleep call adalah kebiasaan tertidur sambil terhubung dalam percakapan, yang bisa berlangsung berjam-jam hingga tertidur. Beberapa melakukannya karena merasa lebih tenang, sebagian lain karena takut kesepian, atau karena ingin menjaga kedekatan semata.
Tapi apa sebenarnya arti dari fenomena ini? Apakah sleep call mencerminkan rasa kesepian generasi muda yang tak kunjung reda, atau justru menandai bentuk baru dari keintiman digital di era serba daring?
Antara Intimasi dan Kesepian: Apa Kata Penelitian?
Sebuah penelitian dari Universitas Trunojoyo Madura (Chartini, 2021) menunjukkan bahwa sleep call merupakan salah satu bentuk komunikasi digital yang membantu individu dewasa awal mengelola rasa kesepian dan meningkatkan pengungkapan diri. Fase dewasa awal (20–30 tahun) memang merupakan masa ketika individu mencari relasi yang bermakna dan penuh kedekatan emosional.
Penelitian ini melibatkan 196 responden dan menggunakan metode kuantitatif korelasional. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat kesepian dengan pengungkapan diri melalui sleep call. Namun menariknya, hubungan tersebut bersifat negatif. Semakin tinggi rasa kesepian, justru semakin rendah kecenderungan seseorang untuk terbuka saat sleep call. Sebaliknya, individu yang merasa lebih nyaman secara emosional justru lebih terbuka dan mudah menjadikan sleep call sebagai ruang berbagi.
Dengan kata lain, sleep call bukan sekadar pelarian dari kesepian, tetapi justru muncul dari rasa aman yang telah terbangun sebelumnya.
Baca juga: ASN Dilarang Bercerai? Helmi Hasan Lupa Negara Bukan Penjaga Rumah Tangga
Di Antara Kebutuhan dan Ketergantungan
Sleep call biasanya dianggap sebagai tanda perhatian dan kasih sayang. Selain itu, bisa menjadi bentuk intimasi jarak jauh, terutama bagi pasangan yang tidak bisa bertemu langsung setiap hari karena jarak dan kesibukan. Namun, di titik tertentu, sleep call juga berisiko menjadi kebutuhan semu—yang beranjak dari keinginan hadir, menjadi dorongan untuk mengawasi, bahkan bentuk ketergantungan emosional.
Audy Vania dan Theresia (2024) dalam penelitiannya di Universitas Multimedia Nusantara menunjukkan bahwa sleep call dapat mempererat hubungan asmara jika dilakukan dengan komunikasi yang sehat. Namun, ketika sleep call dilakukan karena rasa tidak aman, dorongan posesif, atau sebagai kompensasi kecemasan ditinggalkan, hubungan justru dapat memburuk. Sleep call yang semula hangat bisa berubah menjadi tuntutan yang menekan.
Fenomena ini mencerminkan kebutuhan akan keintiman digital. Era digital memberikan kemudahan bagi kita untuk hadir, oleh karena itu, ketidakhadiran menjadi sesuatu yang menakutkan. Kita merasa bersalah saat tidak bisa menjawab telepon. Kita cemas ketika pasangan tidak ingin sleep call malam ini. Perlahan, batas antara kasih sayang dan keterpaksaan menjadi kabur.
Ketika Privasi Menyempit
Bagi sebagian orang, sleep call adalah zona nyaman. Tapi bagi yang lain, ini bisa menjadi bentuk tekanan psikologis. Terutama ketika sleep call berubah menjadi keharusan setiap malam. Rasa bersalah muncul ketika salah satu pihak butuh ruang sendiri, merasa lelah, atau hanya ingin tidur dalam keheningan.
“Awalnya seru, tapi lama-lama jadi kewajiban. Kalau nggak, takutnya dia ngambek,” ujar Miftah seorang mahasiswa berusia 24 tahun. Ia mengaku mulai merasa kelelahan karena harus menelepon berjam-jam setiap malam, bahkan saat dirinya dan pasangannya sama-sama lelah setelah seharian bekerja. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini justru membuat Miftah merasa kehilangan ruang privatnya sendiri.
Kini, ia dan pasangannya sedang bersepakat untuk mengurangi kebiasaan sleep call tersebut, demi menjaga kenyamanan masing-masing. Pengalaman Miftah menunjukkan bahwa bentuk kasih sayang, jika dijalani tanpa kesepahaman yang sehat, bisa bergeser menjadi kontrol emosional, terutama dalam relasi yang tidak seimbang.
Baca juga: Nemenin dari Nol, Benarkah Bukti Ketulusan?
Risiko Kesehatan yang Kerap Diabaikan
Dari sisi kesehatan, sleep call yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda juga menyimpan risiko. Dilansir dari HelloSehat, cahaya biru dari ponsel dapat mengganggu produksi hormon melatonin yang penting untuk tidur. Akibatnya, kualitas tidur justru menurun karena tubuh mengira masih dalam kondisi siang.
Selain itu, sleep call sering dilakukan sambil mengisi daya ponsel yang diletakkan dekat tempat tidur. Hal ini berpotensi membuat perangkat cepat panas, terlebih ketika tertutup bantal atau selimut. Dalam kondisi tertentu, ini bisa memicu risiko kebakaran jika terjadi kerusakan pada smartphone atau charger.
Sleep Call: Medium Keintiman atau Ilusi Koneksi?
Sleep call adalah cara anak muda membentuk cara baru dalam membangun relasi emosional di era digital. Di satu sisi, sleep call memberi rasa aman, dukungan emosional, dan kedekatan yang bisa menyehatkan. Namun di sisi lain, ia bisa menjadi bentuk ketergantungan, meluruhkan batas privasi, dan bahkan memperkuat relasi yang timpang.
Pada akhirnya, sleep call dapat menjadi bentuk keintiman yang indah, selama tidak menjadi kewajiban yang merampas ruang personal dan tidak berlebihan. Karena hubungan yang sehat seharusnya tetap memberi ruang, saling percaya, dan mampu berdiri sendiri.
Referensi:
- Chartini, N. D. (2021). Hubungan antara kesepian dengan pengungkapan diri melalui aktivitas sleep call pada individu dewasa awal (Skripsi Sarjana, Universitas Trunojoyo Madura). Diakses dari https://library.trunojoyo.ac.id/elib/detil.php?id=36003
- Vania, A., & Theresia. (2024). Analisis komunikasi interpersonal dalam hubungan asmara: Studi kasus sleep call di kalangan Generasi Z (Skripsi Sarjana, Universitas Multimedia Nusantara). Diakses dari https://kc.umn.ac.id/id/eprint/34144/
- HelloSehat. (2023). Apa itu sleep call dan apakah bermanfaat untuk hubungan? Diakses dari https://hellosehat.com/mental/hubungan-harmonis/sleep-call/
