Bincangperempuan.com– Gelaran International Mask Festival (IMF) 2025 yang berlangsung pada 14–15 November 2025 di Pendopo Balai Kota Surakarta menegaskan semakin menguatnya peran seniman perempuan dalam seni pertunjukan topeng. Di tengah kuatnya tradisi, perempuan tampil sebagai aktor utama yang menjaga keberlanjutan ekspresi seni sekaligus identitas budaya.
Festival ini menghadirkan 21 delegasi kelompok seni, terdiri dari 15 kelompok dalam negeri dan enam delegasi internasional. Delegasi domestik berasal dari Solo, Tegal, Banyumas, Semarang, Yogyakarta, Riau, Bali, Wonosobo, Jakarta, dan Ponorogo. Sementara peserta mancanegara datang dari Korea Selatan, Myanmar, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dan negara lainnya.
Baca juga: Mengapa Perempuan adalah Kelompok Paling Terdampak Saat Bencana Melanda?
Mengusung tema “Awesome Mask”, IMF 2025 menyajikan beragam tari topeng tradisional serta pertunjukan lintas budaya dengan karakter estetika yang beragam. Namun lebih dari sekadar panggung pertunjukan, festival ini juga memperlihatkan dinamika relasi gender dalam kesenian tradisi.
Selama dua hari pelaksanaan, keterlibatan seniman perempuan terlihat menonjol, terutama dalam lini pertunjukan. Mereka hadir sebagai penari utama, pendamping artistik, hingga perias yang menentukan kekuatan visual dan ekspresi topeng di atas panggung. Perempuan menjadi wajah representatif dari banyak kelompok seni yang tampil.




Di sisi lain, pembagian peran berbasis gender masih tampak jelas. Proses pembuatan topeng umumnya dikerjakan oleh perajin laki-laki dengan alasan kebutuhan tenaga fisik, sebuah pandangan yang masih melekat dalam praktik seni tradisi. Sementara perempuan lebih banyak terlibat pada aspek performatif dan estetika. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran perempuan diakui secara kultural, namun belum sepenuhnya merata di seluruh rantai produksi seni.
Baca juga: Gerakan Perempuan Serawai: Dari Perlawanan Menjadi Kemenangan
Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, dalam konferensi pers pada 14 November 2025 di Balai Kota Surakarta, menyatakan bahwa pemerintah kota berkomitmen memberikan akses yang setara bagi seluruh seniman tanpa membedakan gender.
“Kami membuka ruang untuk semua seniman, baik perempuan maupun laki-laki. Semua memiliki kesempatan yang sama. Termasuk di IMF ini, semua dilibatkan. Kami juga menyasar sekolah-sekolah untuk memberdayakan para seniman,” ujarnya.
Pernyataan tersebut tercermin di lapangan. Hasil pemantauan menunjukkan keterlibatan seniman perempuan dalam pertunjukan berlangsung secara aktif dan konsisten. Kehadiran mereka tidak sekadar pelengkap, melainkan menjadi bagian penting dari keseluruhan narasi artistik festival.
Tiga seniman perempuan asal Solo—Tika, Restu, dan Tari—mengaku telah terlibat dalam seni topeng sejak dini.
“Kami sudah diajarkan menari dan memakai topeng sejak kecil. Tantangannya membagi waktu antara sekolah dan latihan, tapi kami senang menjalaninya,” ujar salah satu penari.
Orang tua mereka, Sunarti, yang berasal dari keluarga seniman, menjelaskan bahwa pembagian peran antara laki-laki dan perempuan dalam seni topeng telah berlangsung turun-temurun.
“Pembuatan topeng biasanya dilakukan laki-laki, sementara perempuan fokus menari dan menghias. Sejauh ini peran perempuan sudah diakui dan kami merasa diberi ruang,” kata Sunarti.
Meski para seniman perempuan menyatakan tidak mengalami diskriminasi secara langsung, pembagian peran yang dianggap sebagai “tradisi” tetap menyisakan ruang refleksi. Preferensi peran sering kali dibentuk oleh pola sosial yang telah lama berlangsung, bukan semata pilihan personal.
IMF 2025 menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran signifikan dan terus berkembang dalam seni pertunjukan topeng. Ke depan, penguatan peran perempuan tidak hanya penting di atas panggung, tetapi juga dalam proses produksi, pengambilan keputusan artistik, dan akses ekonomi—agar kesetaraan dalam seni tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjadi praktik yang utuh.
*) Liputan ini diproduksi sebagai tugas dari workshop IMP International Mask Festival (IMF) 2025 bersama ABC ID di Surakarta pada 11–16 November 2025.
