Bincangperempuan.com- “Kan tinggal mandi air hangat aja?”
“Lama nanti, kan direbus dulu airnya”
“Loh, kan tinggal pake water heater?”
“(kesenjangan sosial)”
Belakangan ini, media sosial sempat ramai dengan tren yang menyentil soal “kesenjangan sosial”. Melalui video pendek, menampilkan percakapan sederhana antara dua orang yang tampaknya berjalan biasa saja. Namun, di tengah obrolan, tiba-tiba terungkap bahwa salah satu dari mereka memiliki status sosial yang jauh lebih tinggi. Contoh lainnya seperti dalam percakapan berikut ini.
“Itu suara hujan ya?”
“Bukan, itu suara kipas,”
“kesenjangan sosial”
Percakapan ini menunjukkan kalau salah satu lawan bicara tidak biasa dengan suara kipas yang berisik. Dan ini mencerminkan bahwa salah satu dari mereka memiliki status ekonomi yang lebih tinggi. Selain itu tren ini juga banyak membahas hal-hal sederhana seperti makanan harian, kegiatan sehari-hari, semuanya dikemas dengan nada santai, tetapi menyimpan ironi dalam membicarakan kesenjangan sosial. Namun, apa itu yang dimaksud kesenjangan sosial dalam tren ini?
Baca juga: Yesi Sepriani: Perempuan di Garis Depan Perjuangan Lingkungan
Guyonan atau Kritik Sosial?
Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono, mengatakan kepada Kompas.com bahwa tren ini merupakan ekspresi sindiran dengan menggunakan simbol kesenjangan. Dalam perspektif sosiologi, ini adalah bentuk humor kritis yang tidak langsung mem-bully atau mendiskriminasi, namun tetap menyampaikan pesan yang tajam.
“Jadi memang ini kan guyonan melalui sindiran dalam kondisi ekonomi lemah. Diungkapkan melalui perumpamaan yang tidak langsung mendiskriminasi dan mem-bully,” ujarnya.
Dia juga menilai, tren ini mencerminkan karakter masyarakat Indonesia yang terbiasa menggunakan cara halus, sindiran, atau humor dalam menghadapi realitas pahit.
Memang, ketawa adalah bentuk bertahan hidup. Tapi di saat yang sama, humor juga bisa menjadi pisau: alat untuk membedah kenyataan tanpa terlihat menyerang. Dalam hal ini, tren kesenjangan sosial berhasil menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi bukan hanya angka, tapi terasa sampai ke hal-hal sehari-hari yang selama ini kita anggap remeh.
Realita Ketimpangan: Tak Cukup Sekadar Lucu
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), gini ratio Indonesia per September 2024 tercatat sebesar 0,388. Ini naik dibandingkan Maret 2024 yang berada di angka 0,379. Di wilayah perkotaan, angkanya bahkan lebih tinggi: 0,402. Sementara di pedesaan tercatat 0,308. Gini ratio adalah indikator ketimpangan pendapatan. Semakin tinggi angkanya, semakin besar jurang antara si kaya dan si miskin.
Kita tidak butuh kacamata sosiolog untuk melihat kenyataan ini. Cukup keluar rumah. Di Jakarta, misalnya, gedung pencakar langit berdiri berdampingan dengan permukiman padat yang bahkan tak memiliki akses sanitasi layak. Anak-anak sekolah di satu sisi kota naik mobil listrik, sementara sisi lainnya harus memilih antara beli seragam atau makan siang.
Kesenjangan sosial bukan sekadar “tidak punya water heater”. Tetapi juga menyusup ke banyak aspek hidup seperti kualitas pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, hingga representasi di ruang publik. Ketimpangan ini tidak muncul dari ruang hampa, tapi dari struktur yang menindas secara sistematis dan turun-temurun.
Baca juga: Wenni, Asanya untuk Komunitas Adat di Bengkulu
Miskin Tapi Punya HP? Pertanyaan yang Salah Alamat
Salah satu respons yang sering muncul terhadap tren ini adalah komentar nyinyir seperti, “Katanya miskin tapi main TikTok” atau “Kalau bisa bikin video, berarti nggak susah-susah amat.” Pernyataan seperti ini melewatkan fakta penting: teknologi bukan barang mewah lagi, tapi kebutuhan dasar komunikasi dan hiburan.
Bahkan di kalangan miskin kota, memiliki smartphone sering kali jadi satu-satunya jendela ke dunia luar, ke hiburan, bahkan peluang kerja. Ketimpangan bukan tentang siapa yang punya HP, tapi tentang siapa yang bisa bayar uang sekolah tanpa khawatir tidak makan malam.
Kita perlu berhenti menganggap kemiskinan itu sebagai stigma, seperti compang-camping dan minta-minta. Banyak orang hidup di ambang kemiskinan tanpa terlihat “miskin” secara visual. Mereka berusaha tampil layak demi martabat, bukan karena hidup mereka sudah baik-baik saja.
Saat Humor Menjadi Senjata Kesadaran
Tren ini menyimpan potensi sebagai alat edukasi sosial. Ketika banyak orang tertawa, mereka juga diam-diam berpikir. Mengapa bisa begitu? Siapa yang dimaksud di balik sindiran ini? Dan apakah saya termasuk yang tersindir?
Namun tentu saja, ada risiko besar jika tren ini berhenti di permukaan: ketimpangan hanya jadi bahan hiburan. Kita menertawakan kenyataan, tapi tidak mengupayakan perubahan. Guyonan ini bisa menjadi candu yang membuat kita nyaman dalam absurditas, bukan gelisah untuk bergerak.
Karena itu, penting untuk menjaga kesadaran kritis. Humor harus menjadi pintu masuk, bukan pintu keluar dari pembicaraan serius soal keadilan sosial.
Kita Butuh Lebih dari Sekadar Tertawa
Membicarakan kesenjangan sosial melalui tren kreatif adalah langkah awal. Tapi tidak bisa berhenti di sana, karena pada kenyataannya angka ketimpangan masih naik. Apa yang bisa dilakukan pemerintah, masyarakat sipil, dan kita sendiri untuk menekan jurang ini?
Apakah kita cukup puas dengan membuat video sindiran, atau kita siap memperjuangkan kebijakan yang lebih inklusif? Apakah kita hanya ingin viral, atau ingin masyarakat di mana orang tak perlu merebus air untuk mandi karena punya akses air bersih dan energi yang layak?
Referensi:
- Kompas.com. (2025, April 23). Ramai soal tren kesenjangan sosial, apa artinya?https://amp.kompas.com/tren/read/2025/04/23/204500765/ramai-soal-tren-kesenjangan-sosial-apa-artinya-
- Kontan. (2024, Oktober 30). Tingkat ketimpangan Indonesia makin melebar pada September 2024 mencapai 0,381. https://nasional.kontan.co.id/news/tingkat-ketimpangan-indonesia-makin-melebar-pada-september-2024-mencapai-0381
