Bincangperempuan.com- B’Pers, pernahkah kamu merasa aneh karena tidak langsung sedih saat kehilangan seseorang, atau justru baru merasa hancur beberapa hari setelahnya? Kadang, di momen perpisahan yang seharusnya penuh air mata, kita malah kaku. Baru seminggu kemudian, perasaan itu tiba-tiba meledak.
Fenomena ini disebut delayed emotional response atau emotional lag—istilah untuk menggambarkan keterlambatan otak dan tubuh dalam memproses emosi. Menurut Rapid Healing Medical Service, kondisi ini ditandai dengan reaksi emosional yang tertunda atau bahkan tumpul terhadap suatu kejadian.
Orang yang mengalaminya mungkin kesulitan mengekspresikan perasaan secara langsung, sehingga sering disangka dingin, tidak peduli, atau “kurang perasaan.” Padahal, mereka hanya butuh waktu lebih lama untuk benar-benar menyadari apa yang sedang mereka rasakan.
Tanda-Tanda Kamu Mengalami Delayed Emotional Response
Mengidentifikasi kondisi ini memang tidak mudah. Setiap orang bisa menunjukkannya dengan cara berbeda. Tetapi ada beberapa tanda umum yang disebut Rapid Healing Medical Service antara lain:
- Sulit mengekspresikan emosi di saat kejadian berlangsung.
- Terlihat datar atau tidak responsif secara emosional.
- Baru merasakan emosi setelah peristiwa pemicunya berlalu.
- Sulit memahami atau memberi nama pada perasaan sendiri.
- Terhambat dalam berempati terhadap emosi orang lain.
Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua orang dengan reaksi lambat berarti memiliki masalah emosional. Bisa jadi, itu hanya cara otak memproses pengalaman secara lebih perlahan.
Baca juga: Job Hugging: Memeluk Kerja Sambil Mencari Peluang Sampingan
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Peneliti Bernd Dudzik dan Joost Broekens dalam makalah berjudul “A Valid Self-Report is Never Late, Nor is it Early: On Considering the ‘Right’ Temporal Distance for Assessing Emotional Experience” menjelaskan bahwa emosi tidak selalu muncul secara instan setelah suatu peristiwa terjadi. Ada yang disebut temporal distance, yaitu jarak waktu antara peristiwa pemicu dan saat seseorang benar-benar merasakan atau menyadari emosinya.
Menurut mereka, proses emosional di otak dan tubuh manusia tidak berlangsung secepat tombol on-off. Saat kita mengalami sesuatu yang kuat seperti kehilangan, konflik, atau kabar mengejutkan—otak butuh waktu untuk menafsirkan peristiwa itu, menilai maknanya, lalu memunculkan emosi yang sesuai. Dengan kata lain, perasaan sedih, marah, atau takut kadang tidak datang terlambat, tapi justru datang tepat ketika otak sudah siap memprosesnya.
Dudzik dan Broekens menyoroti bahwa dalam penelitian emosi, waktu pengukuran sangat memengaruhi hasil. Jika dilakukan terlalu cepat, seseorang mungkin belum sempat memahami apa yang ia rasakan. Tapi kalau dilakukan terlalu lama, ingatan emosionalnya bisa mulai pudar. Mereka menyebut perlunya mencari “waktu yang tepat” untuk menilai pengalaman emosional karena setiap peristiwa memiliki tempo pemrosesan yang berbeda.
Pandangan ini membantu kita memahami mengapa seseorang baru bisa menangis beberapa hari setelah kehilangan, atau baru merasa bersalah jauh setelah pertengkaran. Emosi yang tertunda bukan berarti seseorang tidak peka, melainkan tubuh dan pikirannya sedang menunggu saat yang aman dan tepat untuk benar-benar merasakan.
Baca juga: Mastektomi dan Tubuh di Persimpangan Gender dan Kesehatan
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan reaksi emosional bisa berkaitan dengan faktor neurologis, psikologis, maupun pengalaman hidup seseorang. Menurut Mava Medical (2024), beberapa faktor umum antara lain:
- Faktor Neurologis
Kondisi seperti ADHD dan autisme sering dikaitkan dengan keterlambatan pemrosesan emosi. Fungsi otak yang berbeda bisa memengaruhi bagaimana seseorang memahami dan merespons perasaannya sendiri. - Trauma dan PTSD
Orang yang pernah mengalami kekerasan, kecelakaan, atau kehilangan besar sering kali mengembangkan mekanisme perlindungan diri berupa penundaan emosi. Dengan “menunda” rasa sakit, tubuh memberi waktu bagi diri sendiri untuk bertahan. - Dissociation
Ini adalah strategi pertahanan psikologis di mana seseorang secara tidak sadar “memutus” diri dari perasaan intens agar tidak kewalahan. Akibatnya, emosi terasa tumpul atau datang belakangan. - Faktor Perkembangan
Pada anak-anak, delayed emotional response bisa terjadi karena keterampilan regulasi emosi yang belum terbentuk. Mereka mungkin tidak langsung menangis ketika terluka, tapi akan menangis sesenggukan beberapa menit kemudian setelah paham apa yang terjadi.
Cara Menghadapinya
Mengalami keterlambatan emosi bukanlah hal yang memalukan. Tetapi kalau mulai mengganggu keseharian, ada beberapa langkah yang bisa membantu:
- Meditasi dan Mindfulness.
Dengan melatih kesadaran diri, kita bisa lebih peka terhadap sinyal tubuh dan perasaan. Belajar hadir di saat ini membantu mengenali emosi tanpa harus langsung menilainya. - Menulis Jurnal.
Menuliskan perasaan bisa menjadi cara aman untuk mengurai apa yang sulit diucapkan. Kadang, lewat tulisan, kita baru sadar dengan perasaan kita seperti “Oh, ternyata aku lagi sedih, ya.” - Mencari Dukungan.
Cerita kepada teman, keluarga, atau kelompok dukungan bisa memberi ruang untuk memahami diri tanpa dihakimi. Mendengar pengalaman orang lain yang serupa sering membuat kita merasa tidak sendirian. - Merawat Diri.
Istirahat cukup, makan dengan baik, dan melakukan kegiatan yang menenangkan pikiran juga bagian dari proses penyembuhan. Emosi yang tertunda sering kali muncul ketika tubuh akhirnya merasa aman.
Menemukan “Waktu yang Tepat” untuk Merasakan
Pada akhirnya, tidak ada jadwal baku untuk bersedih, marah, atau bahagia. Sama seperti penelitian Dudzik dan Broekens tadi, mungkin setiap emosi memang punya “waktu yang tepat” untuk muncul. Ada yang datang segera, ada pula yang menunggu tenang dulu baru berani mengetuk pintu hati.
Jangan terburu-buru menilai diri sendiri “aneh” hanya karena tidak langsung menangis atau marah. Perasaan datang dengan caranya sendiri dan itu valid. Tapi jika keterlambatan emosi membuatmu kesulitan berfungsi atau merasa terputus dari diri sendiri, jangan ragu mencari bantuan profesional.
Karena memahami emosi bukan soal seberapa cepat kita merasakannya, tapi seberapa jujur kita mau mengakuinya. Kadang, justru ketika perasaan datang terlambat, di situlah kita benar-benar tahu kita pernah peduli.
Referensi:
- Rapid Healing Medical Service. (2024). Delayed Emotional Response: Causes, Symptoms, and Treatment.https://rapidhms.com/delayed-emotional-response-causes-symptoms-and-treatment/
- Dudzik, B., & Broekens, J. (2023). A Valid Self-Report is Never Late, Nor is it Early: On Considering the “Right” Temporal Distance for Assessing Emotional Experience. https://arxiv.org/pdf/2302.02821
- Mava Medical. (2024). Delayed Emotional Response.https://mavamedical.com/delayed-emotional-response/
