Mastektomi dan Tubuh di Persimpangan Gender dan Kesehatan

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Pada tahun 2013, aktris Angelina Jolie membuat keputusan medis yang mengejutkan publik, yaitu menjalani mastektomi ganda secara preventif—mengangkat kedua payudaranya meski belum pernah didiagnosis kanker. Langkah itu ia ambil setelah mengetahui bahwa dirinya membawa gen BRCA1, yang secara signifikan meningkatkan risiko terkena kanker payudara dan ovarium.

Dalam tulisannya di The New York Times, Jolie mengakui bahwa keputusan tersebut bukan hal mudah. Ia tahu betul bahwa operasi itu akan mengubah tubuhnya secara permanen, dan membuka cerita pribadinya ke publik sama sulitnya dengan menjalani prosedur itu sendiri. Tapi dengan berbagi kisahnya, Jolie berharap perempuan lain bisa lebih memahami risiko genetik dan pilihan medis yang tersedia bagi mereka.

Langkah Jolie kemudian dianggap berani—simbol kendali perempuan atas tubuhnya sendiri. Namun tidak semua orang yang menjalani mastektomi bisa, atau ingin, merayakannya. Karena mastektomi bukan hanya kehilangan bagian tubuh, tetapi juga pergulatan dengan identitas, rasa aman, dan pandangan masyarakat tentang apa itu “tubuh perempuan”.

Baca juga: Penelantaran Bayi: Dosa yang Difasilitasi Negara Secara Sistematis

Apa itu Maksektomi?

Melansir dari National Library of Medicine, mastektomi adalah prosedur pembedahan untuk mengangkat jaringan payudara, baik sebagai bentuk pengobatan kanker payudara maupun langkah pencegahan bagi mereka yang memiliki risiko tinggi secara genetik.

Tindakan ini memiliki beberapa jenis, tergantung kebutuhan dan kondisi pasien. Jenis paling umum adalah simple mastectomy—pengangkatan seluruh jaringan payudara termasuk kulit dan area puting. Ada pula variasi yang mempertahankan sebagian kulit atau puting (skin-sparing dan nipple-sparing mastectomy) untuk memudahkan proses rekonstruksi.

Pada kasus tertentu, dokter juga melakukan modified radical mastectomy yaitu pengangkatan jaringan payudara disertai pengambilan kelenjar getah bening di ketiak. Prosedur ini dilakukan jika kanker sudah menyebar ke area tersebut.

Meskipun teknologi medis kini memungkinkan operasi yang lebih konservatif, mastektomi tetap menjadi pilihan penting bagi banyak orang. Namun, di balik tindakan medis ini, ada lapisan pengalaman emosional dan sosial bagaimana seseorang menegosiasikan rasa kehilangan, identitas, dan makna tubuhnya setelah operasi.

Tubuh dan Simbol Keperempuanan

Di masyarakat, payudara kerap dimaknai bukan sekadar bagian tubuh biologis, melainkan simbol keperempuanan, kesuburan, dan daya tarik. Pandangan ini tertanam begitu dalam lewat budaya populer, iklan, hingga narasi medis yang menempatkan tubuh perempuan dalam kerangka fungsi reproduksi dan estetika.

Bagi perempuan yang menjalani mastektomi akibat kanker payudara, kehilangan bagian tubuh ini seringkali disertai beban sosial seperti dianggap “kurang perempuan”, “tidak utuh”, bahkan “tidak menarik lagi”. Label-label tersebut menunjukkan betapa identitas perempuan masih dilekatkan pada bentuk tubuhnya, bukan pada pengalaman hidup dan keteguhannya bertahan.

Tekanan sosial dan standar tubuh ideal membuat proses pemulihan emosional pasca-mastektomi menjadi jauh lebih kompleks. Perempuan bukan hanya berhadapan dengan rasa sakit fisik dan trauma medis, tetapi juga harus menegosiasikan ulang makna tubuhnya di tengah masyarakat yang menilai “keperempuanan” dari penampilan luar.

Maka, kehilangan payudara menjadi ruang negosiasi baru bagi perempuan, antara tubuh biologis dan tubuh simbolik, antara luka dan penerimaan diri. Dalam ruang ini, banyak perempuan justru menemukan ulang makna keberanian dan keutuhan yang tidak lagi diukur dari seberapa lengkap tubuh mereka, tetapi seberapa dalam mereka berdamai dengan dirinya sendiri.

Baca juga: Kejahatan Seksual di Pesantren: Sedikit Kasus, atau Sedikit yang Berani Bicara?

Antara Kehilangan dan Kendali atas Tubuh

Penelitian yang dimuat dalam Indonesian Journal of Cancer menemukan bahwa penyintas kanker payudara umumnya memiliki kualitas hidup yang baik, dengan rata-rata skor 80,94 dari 158 responden. Namun, penelitian yang sama juga menunjukkan adanya hubungan signifikan antara masalah fisik, gangguan psikososial, dan dukungan sosial terhadap kualitas hidup mereka. Artinya, penyintas memang mampu bertahan—tetapi kesejahteraan mereka sangat bergantung pada dukungan lingkungan dan pemulihan emosional yang tidak selalu mudah.

Kajian lain yang diterbitkan dalam Research, Society and Development Journal memperkuat temuan tersebut. Dari 22 penelitian yang dianalisis, mastektomi sering digambarkan sebagai operasi yang menyelamatkan hidup, tetapi juga membawa konsekuensi emosional perubahan citra diri, penurunan kepercayaan diri, serta gangguan pada hubungan intim. Dalam masyarakat yang masih mengaitkan payudara dengan “kesempurnaan perempuan”, kehilangan bagian tubuh ini sering kali memunculkan rasa kurang atau “tidak utuh”.

Sementara itu, dalam konteks berbeda, pengalaman pasien nonbiner dan transmaskulin justru menunjukkan arah sebaliknya. Studi yang melibatkan 111 individu nonbiner dan transmaskulin menunjukkan bahwa mastektomi—dalam konteks afirmasi gender meningkatkan kesejahteraan psikologis, kepuasan terhadap tubuh, dan kesesuaian identitas. Tingkat depresi dan kecemasan pun menurun secara signifikan. Bagi mereka, operasi ini bukan bentuk kehilangan, melainkan cara untuk mendapatkan kembali kendali atas tubuh dan kehidupan mereka.

Dari tiga konteks ini—perempuan penyintas kanker, individu nonbiner, dan mereka yang memilih mastektomi menjadikan tubuh mereka sebagai ruang negosiasi antara keselamatan, identitas, dan tafsir sosial.

Oleh karena itu mastektomi seharusnya dipahami sebagai keputusan yang kompleks, bukan sekadar tindakan medis atau simbol kehilangan feminin. Bagi sebagian perempuan, ini menjadi bentuk otoritas—cara untuk menyatakan bahwa tubuh ini milik mereka, dan keputusan tentang tubuh itu juga milik mereka sendiri. 

Namun, di balik keputusan itu, selalu ada pergulatan antara rasa aman dan rasa kehilangan, antara otonomi dan pandangan masyarakat, antara tubuh yang ingin dilindungi dan tubuh yang terus didefinisikan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

WAIPA 2024: Perempuan ASEAN, Kekuatan Politik yang Tangguh dan Terhubung

Fanservice Itu Apa Sih Dari Anime Sampai Jebakan Male Gaze

Fanservice Itu Apa Sih? Dari Anime Sampai Jebakan Male Gaze

Perkuat Bisnis Media, Bincang Perempuan Ikuti Advanced Mentoring for Media Sustainability

Leave a Comment