Bincangperempuan.com- Baru-baru ini, Luna Maya mengungkap bahwa dirinya telah menjalani prosedur egg freezing atau pembekuan sel telur sejak tahun 2021. Keputusan itu diambil karena Luna menyadari belum menemukan pasangan yang cocok, sementara di sisi lain, ia tetap ingin memberi dirinya peluang untuk menjadi seorang ibu di masa depan.
Luna bukan satu-satunya. Meningkatnya usia harapan hidup, tekanan karier, hingga ketidakpastian dalam relasi romantis membuat semakin banyak perempuan mempertimbangkan untuk “menunda” kehamilan—tanpa harus kehilangan kesempatan untuk menjadi ibu secara biologis.
Ditingkat global permintaan untuk pembekuan sel telur meningkat pesat, dengan peningkatan siklus sebesar 30% dari tahun ke tahun. Hal ini mencerminkan perubahan prioritas dan penerimaan yang lebih besar terhadap prosedur ini. Meskipun begitu, di Indonesia jumlahnya masih relatif rendah.
Tapi sebenarnya, apa itu egg freezing?
Memahami Egg Freezing
Secara medis, egg freezing dikenal sebagai kriopreservasi oosit matang. Ini adalah proses menyimpan sel telur tanpa pembuahan dalam suhu sangat rendah (dibekukan) agar dapat digunakan di masa depan. Biasanya, prosedur ini dilakukan oleh perempuan yang ingin menjaga kesuburannya karena alasan medis atau pribadi.
Tahapannya dimulai dengan merangsang ovarium melalui terapi hormon agar menghasilkan lebih banyak sel telur. Sel telur yang dipanen kemudian dibekukan menggunakan teknologi canggih (vitrification), dan disimpan hingga nantinya siap digunakan dalam proses bayi tabung (IVF).
Berapa Lama Prosesnya?
Merangkum dari Healthline, durasi prosedur egg freezing biasanya memakan waktu antara 2 hingga 3 minggu. Proses ini meliputi:
- Stimulasi ovarium menggunakan hormon selama 8–14 hari.
- Pemantauan melalui USG dan tes darah untuk memastikan perkembangan sel telur.
- Pengambilan sel telur (egg retrieval) melalui prosedur kecil.
- Pembekuan sel telur menggunakan metode pembekuan cepat.
Waktu terbaik untuk melakukan egg freezing secara biologis adalah ketika perempuan berada di usia 20-an akhir hingga awal 30-an, karena kualitas dan kuantitas sel telur masih relatif optimal.
Baca juga: Kenapa Angka Kelahiran Menurun Belakangan Ini?
Biaya di Indonesia
Di Indonesia, biaya egg freezing belum sepenuhnya terjangkau untuk semua kalangan. Estimasinya bisa mencapai Rp50–100 juta, tergantung pada rumah sakit, jumlah siklus, dan biaya penyimpanan tahunan yang berkisar antara Rp2–5 juta per tahun.
Manfaat dan Risiko
Ada banyak alasan mengapa seseorang mempertimbangkan egg freezing. Umumnya terbagi dalam dua kategori besar medis dan elektif.
Alasan Elektif:
Banyak perempuan yang ingin menunda kehamilan karena ingin fokus pada karier, pendidikan, atau belum menemukan pasangan yang cocok. Dalam konteks ini, egg freezing menjadi semacam “cadangan biologis” agar kesempatan menjadi ibu tidak sepenuhnya bergantung pada waktu.
Alasan Medis:
Perempuan dengan kondisi medis tertentu seperti kanker (yang akan menjalani kemoterapi), endometriosis, atau PCOS kadang disarankan untuk membekukan sel telur sebelum pengobatan agar tetap memiliki peluang hamil di masa depan.
Namun, meskipun teknologi egg freezing semakin maju, prosedur ini tetap tidak menjamin keberhasilan kehamilan. Peluang berhasilnya tergantung pada usia saat pembekuan dan kualitas sel telurnya.
Menurut dr. Yassin Yanuar Mohammad, SpOG, Subspesialis Fertilitas dari RSPI Pondok Indah dalam wawancaranya bersama Kompas.com, risiko dalam prosedur ini umumnya berkaitan dengan proses stimulasi ovarium. Stimulasi ini dilakukan lewat pemberian obat untuk merangsang produksi sel telur dalam jumlah banyak sekaligus. Obat yang diberikan bisa berdosis tinggi untuk hasil maksimal, atau sedang jika ingin jumlah yang lebih sedikit.
Nah, efek samping dari stimulasi ini bisa berupa kondisi yang disebut Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS). Ini terjadi karena tubuh memproduksi zat-zat tertentu yang membuat cairan bocor dari pembuluh darah dan menumpuk di rongga tubuh, khususnya di perut. Akibatnya, bisa muncul gejala seperti perut kembung, nyeri, dan rasa tidak nyaman. Tapi tenang saja, kasus OHSS yang parah sangat jarang terjadi—kurang dari 1%. Dan selama pasien dipantau dokter, risikonya bisa ditekan seminimal mungkin.
Biasanya, jika gejalanya ringan, akan mereda sendiri setelah obat dihentikan. Tak perlu penanganan khusus. Selain itu, prosedur pengambilan sel telur (ovum pickup) mungkin sedikit terasa nyeri, tapi umumnya bisa ditangani dengan mudah.
Baca juga: Perempuan Pembela HAM: Kerja Pro Bono Hingga Dicemooh
Keputusan atas Tubuh Perempuan
Di balik proses medis ini, egg freezing menyentuh satu isu penting soal otonomi tubuh perempuan. Siapa yang punya kuasa atas tubuh perempuan? Teknologi reproduksi ini memberi kontrol lebih besar kepada perempuan atas narasi kesuburannya. Tapi pada saat yang sama, kita juga harus waspada—jangan sampai teknologi ini dimaknai sebagai beban baru bahwa perempuan harus tetap “siap punya anak” kapan pun sistem menginginkannya, bahkan jika tak lagi muda, sibuk kerja, atau tanpa pasangan.
Dalam masyarakat yang masih menuntut perempuan untuk menjadi ibu, egg freezing bisa dimaknai sebagai perlawanan kecil—bahwa perempuan bisa merancang hidupnya dengan ritmenya sendiri.
Egg freezing bukan sekadar prosedur medis. Ini adalah bagian dari pilihan besar tentang tubuh, waktu, pilihan, dan kontrol. Keputusan Luna Maya mencerminkan keresahan yang juga dialami banyak perempuan lainnya antara menjadi ibu, realitas relasi, dan tuntutan zaman.
Teknologi ini bisa menjadi harapan, tetapi juga perlu dibaca kritis, jangan sampai kontrol atas tubuh perempuan hanya bergeser dari norma sosial ke tekanan teknologi. Yang terpenting, setiap perempuan berhak menentukan langkahnya sendiri—baik menjadi ibu sekarang, nanti, atau bahkan tidak sama sekali.
Referensi:
- Kompas.com. (2025, Mei 8). Seperti yang dilakukan Luna Maya, apa risiko egg freezing? Diakses dari https://lifestyle.kompas.com/read/2025/05/08/120500720/seperti-yang-dilakukan-luna-maya-apa-risiko-egg-freezing-
- Healthline. (2022). Egg Freezing: What to Expect. Diakses dari https://www.healthline.com/health/egg-freezing-process#timeline
