Bincangperempuan.com- B’Pers pernah dengar atau menemukan kata incel di media sosial? Istilah incel merujuk kepada sekelompok orang laki-laki heteroseksual yang membenci perempuan karena merasa tidak mendapatkan pasangan. Melansir dari CNN, incel merupakan singkatan dari “involuntary celibate” atau “selibat tanpa kehendak sendiri.” Artinya, mereka merasa frustrasi karena tidak memiliki pengalaman seksual meskipun menginginkannya.
Anti-Defamation League, organisasi yang menangani kebencian dan ekstremisme, mendefinisikan incel sebagai “laki-laki heteroseksual yang menyalahkan perempuan dan masyarakat atas kegagalan mereka dalam urusan asmara.” Istilah ini juga sering digunakan sebagai julukan negatif bagi mereka yang memiliki pandangan atau perilaku misoginis.
Selain itu kelompok incel terbagi menjadi beberapa aspek, yang beberapa di antaranya dianggap berbahaya bagi masyarakat dan bahkan bagi para pelaku itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk memahami kompleksitas penggunaan istilah ini, asal-usulnya, dan keterkaitannya dengan ideologi tertentu.
Baca juga: Hipogami, Benarkah Perempuan Merendah Demi Suami?
Sejarah dan Asal-usul Incel
Sesuai namanya, “involuntary celibates” mengacu pada individu yang mengalami kesulitan mendapatkan pasangan seksual. Istilah ini pertama kali muncul pada 1997 ketika seorang mahasiswi bernama Alana membuat situs web untuk mendokumentasikan perjuangannya dalam dunia kencan.
Alana segera menyadari bahwa ia tidak sendiri dalam frustrasinya. Situs tersebut, yang dikenal sebagai Involuntary Celibacy Project, menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dengan pengalaman serupa, menyediakan forum diskusi, artikel, dan daftar surat elektronik. Komunitas ini awalnya bersifat inklusif, mencakup berbagai usia, gender, dan orientasi seksual.
Namun, setelah insiden penyerangan yang dilakukan Elliot Rodger pada tahun 2014 yang menewaskan 6 orang, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi kelompok laki-laki saja. Terutama mereka yang frustrasi secara seksual terhadap perempuan yang menolak mereka.
Ciri-ciri Incel
Budaya incel berkembang pada forum-forum online. Dahulu, terdapat subreddit terkenal bernama r/incels, tempat orang-orang yang merasa “incel” berkumpul dan berinteraksi. Tapi forum itu ditutup Reddit tahun 2017 karena isinya semakin sering mengarah ke kekerasan. Beberapa peneliti sampai tertarik membedah forum incel karena banyak komentar di dalamnya yang misoginis (benci perempuan) dan bahkan sampai mendukung kekerasan. Berikut ini beberapa pola pikir yang sering muncul di komunitas incel:
Terobsesi dengan penampilan
Mereka percaya bahwa penampilan fisik adalah faktor utama dalam mendapatkan pasangan, dihargai, dan dianggap punya nilai. Maka semakin mereka merasa penampilan fisik mereka buruk, mereka semakin merasa tertinggal.
Keyakinan soal hipergami
Mereka percaya perempuan hanya menginginkan laki-laki yang tampan, kaya atau punya status tinggi. Jadi, perempuan dianggap terlalu pemilih dan hanya berusaha naik kelas melalui hubungan romantis (hipergami). Dalam pandangan mereka, perempuan untung dari hubungan.
Anti-feminisme
Karena feminisme mendukung kebebasan perempuan buat milih (termasuk dalam urusan seks dan pasangan), banyak incel merasa sistem ini tidak adil bagi mereka. Ada yang sampai mengusulkan hal ekstrem, seperti pemaksaan pernikahan bahkan mengembalikan peran gender tradisional yang ketat.
Rasa berhak atas seks
Di balik semua keluhannya, banyak incel punya pola pikir bahwa mereka berhak mendapatkan pasangan atau seks.Dan ketika mereka tidak mendapatkannya, mereka menyalahkan perempuan.
Baca juga: Surrogate Mother? Praktik Meminjam Rahim di Tengah Dilema Moral dan Hukum
Mengapa Incel Berbahaya?
Walaupun awalnya hanyalah komunitas untuk berbagi pengalaman, incel modern sering terjebak dalam siklus kebencian dan radikalisasi gender. Mereka yang masuk ke ranah ekstrem mulai menyalahkan perempuan dan menganggap mereka pantas “dibalas” karena penolakan yang mereka alami.
Banyak kasus kekerasan yang dilatarbelakangi oleh ideologi incel, termasuk penyerangan dan penembakan massal di beberapa negara. Radikalisasi ini juga memperkuat sikap misoginis dan toxic masculinity yang berbahaya bagi hubungan antar gender dan sosial secara umum.
Akar dari Kekerasan Terhadap Perempuan Tidak Muncul Begitu Saja
Selama ini, kekerasan terhadap perempuan sering dipandang sebagai persoalan privat, sekadar urusan rumah tangga atau relasi personal, sementara kekerasan massal dianggap sebagai isu publik dan politis. Namun, kenyataannya, kedua bentuk kekerasan tersebut sebenarnya berakar pada narasi kebencian yang sama terhadap perempuan (misogini).
Emilia Lounela, peneliti dari Universitas Helsinki, menyatakan bahwa misogini sejatinya bersifat politis. Hal ini terlihat dari reaksi global terhadap hak-hak perempuan dan munculnya gerakan politik “anti-gender.” Perempuan dan kelompok minoritas yang bersuara kerap menjadi sasaran pelecehan dan kekerasan, baik secara daring maupun fisik. Dalam banyak kasus, kekerasan terhadap perempuan, pemikiran misogini menjadi pendahulu dari kekerasan ekstrem yang lebih luas. Sayangnya, dimensi gender seperti ini masih sering diabaikan dalam kebijakan pencegahan kekerasan. Padahal penting untuk menyadari bahwa ideologi misogini seperti incel, tumbuh dalam struktur masyarakat yang sejak awal telah menyuburkan patriarki.
Kekerasan terhadap perempuan tidak dapat dipisahkan dari ideologi misogini seperti yang berkembang dalam komunitas incel. Memahami hal ini akan membuka ruang bagi kerja sama lintas sektor termasuk dengan organisasi yang bergerak di bidang perlindungan perempuan untuk mengatasi kekerasan berbasis gender. Karena jika dibiarkan, ideologi seperti ini hanya akan memperkuat sistem yang membenarkan kekerasan terhadap perempuan.
Referensi:
- CNN. (2023, March 16). What does the term ‘incel’ mean? CNN. https://edition.cnn.com/2023/03/16/us/incel-involuntary-celibate-explained-cec
- Lounela, E. (2024, April). Gendered dimensions of violent extremism and prevention. Europol. https://www.europol.europa.eu/cms/sites/default/files/documents/ECTC_AN_2024_conference_Emilia_Lounela.PDF
- Moses, M., & Bridgeman, D. (2022). Involuntary celibacy: A review of Incels’ motivations and mental health outcomes. Frontiers in Psychology, 13, 9780135. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.9780135
