Bincangperempuan.com- Buat kamu yang tidak bekerja di lingkungan korporat, istilah-istilah yang sering berseliweran di media sosial seperti “as long as mentioned before”, “BRB”, atau “izin jump in” mungkin terdengar asing. Bahkan, kadang terkesan seperti bahasa alien yang sengaja diciptakan untuk membuat bingung.
Namun, bagi para pekerja kantoran, terutama kelompok Gen Z yang mulai mendominasi dunia kerja, istilah ini bukan sekadar gaya-gayaan bahasa Inggris. Ini adalah alat bertahan hidup harian.
Di balik susunan kata yang sekilas terlihat profesional, sopan, dan penuh diplomasi, sebenarnya tersimpan makna asli yang sarat rasa lelah, sikap pasif-agresif, hingga upaya menetapkan batasan (boundaries). Kenapa kita tidak bicara jujur saja? Di dunia profesional yang kaku, berkata “saya tidak mau mengerjakan ini karena bukan tanggung jawab saya” bisa jadi tiket instan menuju pemecatan dari HRD.
Oleh karena itu, pekerja meracik bahasa yang diperhalus. Gen Z, yang amat menghargai keseimbangan hidup, menggunakan kamus korporat ini untuk menolak eksploitasi tanpa terlihat emosional. Mari bedah arti sebenarnya dari frasa andalan di ruang lingkup pekerjaan.
Baca juga: Kerja Secukupnya, Waras Selamanya: Membedah Tren Lazy Girl Jobs
Email dan Chat: Membaca Makna Tersirat
“As per my last email…” (Sesuai dengan email sebelumnya…)
Kalimat ini dengan mutlak menduduki kasta tertinggi dalam hierarki bahasa pasif-agresif dunia korporat. Terjemahan aslinya padahal jujur dan sangat menohok: “Tolong biasakan membaca dengan benar. Kan sudah saya jelaskan dengan sangat panjang lebar di pesan sebelumnya, kenapa informasi tersebut masih ditanyakan lagi?” Kalimat sakti ini sering dikeluarkan saat seseorang sudah sangat malas mengulang rentetan instruksi karena lawan bicaranya minim literasi atau memang malas membaca tuntas.
“Noted with thanks.” (Baik, terima kasih.)
Secara tekstual, ini adalah balasan konfirmasi yang terdengar manis dan sopan. Namun, bagi para pekerja masa kini, balasan singkat ini sering kali bermakna: “Saya sebenarnya sama sekali tidak setuju, sangat kesal, atau menganggap ide ini sangat konyol. Tapi saya sudah terlalu lelah secara mental untuk berdebat panjang lebar, jadi saya iyakan saja supaya obrolan ini cepat selesai dan saya bisa kembali bekerja.” Ini murni merupakan coping mechanism mutakhir dari rasa muak.
“BRB” (Be Right Back)
Secara harfiah artinya tentu merujuk pada akan segera kembali. Tapi kenyataannya dalam jam kerja yang padat dan penuh tekanan, ketika seseorang mengetik “BRB”, artinya bisa jadi l”Otak saya sudah mendidih. Saya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk menjauh dari layar laptop, menatap tembok kosong, atau keluar sebentar agar kewarasan saya bisa kembali. Tolong jangan cari saya.”
Sopan Santun yang Menikam di Ruang Rapat
“Izin jump in ya…”
Sebuah kalimat andalan yang amat sering diucapkan di tengah diskusi tatap muka atau meeting virtual yang berlarut-larut. Arti sebenarnya: “Kalian berdua dari tadi melakukan debat kusir yang tidak jelas juntrungannya, materinya hanya berputar di situ saja. Sini saya potong pembicaraannya dan kasih solusi yang benar supaya sesi meeting ini bisa segera diakhiri.”
“Let’s take this offline” (Kita bahas di luar rapat saja.)
Kalimat ini murni merupakan taktik penyelamatan reputasi tingkat tinggi. Makna aslinya: “Argumenmu mulai terdengar tidak masuk akal dan akan sangat memalukan jika terus dilanjutkan di hadapan forum ini. Daripada kita berdua terlihat sangat tidak kompeten di depan para pimpinan, jauh lebih baik kita berdebat keras lewat jalur pesan pribadi saja.”
“As long as mentioned before…” (Seperti yang sudah disebutkan…)
Kadar pasif-agresifnya setara dengan versi tulisan email, namun kalimat ini digunakan secara verbal untuk melakukan validasi diri. Artinya kurang lebih seperti ini: “Saya sungguh sudah pernah bilang soal risiko ini, tapi kalian tidak mau dengar. Sekarang terbukti kan apa yang saya bilang itu benar terjadi?”
Ilusi Manis di Lowongan Pekerjaan
Tidak hanya berseliweran di obrolan harian atau ruang rapat, bahasa korporat yang dibalut kehalusan ini juga sangat sering dipakai HRD saat proses rekrutmen berlangsung.
“Lingkungan kerja fast-paced“
Terjemahan paling jujur dari deskripsi lowongan ini adalah sebuah peringatan bahaya (red flag). “Sistem manajemen internal kami sebetulnya sangat berantakan. Kami terbiasa mempekerjakan satu orang untuk melakukan beban kerja tiga divisi. Kamu harus senantiasa siap menghadapi budaya hustle culture, bekerja keras hingga kelelahan, dan bakalan diganggu atasan di saat akhir pekan.”
“Di sini sistemnya kekeluargaan”
Ini adalah bentuk ilusi korporat paling manipulatif. Arti sebenarnya di lapangan: “Kami akan sering meminta kamu melakukan kerja lembur yang tidak dibayar dengan dalih asas loyalitas dan sungkan antarteman. Batasan profesional antara pimpinan dan bawahan dibuat sangat kabur, sehingga nantinya kamu tidak akan pernah berani menuntut hak normatifmu sebagai seorang pekerja.”
Baca juga: Job Hugging: Memeluk Kerja Sambil Mencari Peluang Sampingan
Menolak Eksploitasi Melalui Batasan Kata
Fenomena ini membuktikan bahwa Gen Z adalah generasi yang lembek, melulu mengeluh, atau selalu anti terhadap kritik. Justru sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah generasi pekerja yang sangat melek mengenai pentingnya batasan ruang profesional. Mereka sadar penuh bahwa relasi antara seorang karyawan dan instansi perusahaan murni bersifat transaksional, sehingga segala hal berhak diselesaikan secara proporsional.
Oleh karena itu, ketika kamu menyadari teman di sebelah mejamu membalas rentetan revisi panjang dengan senyuman tipis sembari mengetik “Noted,” atau “izin follow-up” biarkan saja dia menikmati momennya. Bisa jadi, rentetan kata-kata halus itulah satu-satunya benteng terakhir yang menopang sisa-sisa kewarasannya pada hari yang melelahkan itu.
