Bincangperempuan.com- Belakangan ini, linimasa media sosial kita lagi ramai dengan meme dan cocoklogi liar seputar hubungan presiden dengan sekretaris kabinetnya. Awalnya, narasi ini mungkin cuma bentuk satire politik receh ala netizen. Tapi, kalau kita perhatikan lebih kritis, betapa cepatnya obrolan ini bermutasi jadi sesuatu yang sangat problematik.
Dari sekadar rumor politik, arah serangannya bergeser ke melabeli pihak-pihak tertentu sebagai boti karena gerak-gerik dan cara bicaranya dianggap terlalu lembut atau feminin untuk ukuran standar maskulinitas seorang pejabat atau publik figur.
Candaan yang sarat homofobia tersebut justru menjadi bahan bakar yang melegitimasi kebencian. Belum lama setelahnya, bermunculan akun-akun provokatif yang secara terang-terangan menyebarkan ajakan persekusi dan kekerasan fisik lewat gerakan “anti-boti”.
Apa yang awalnya berlindung di balik tameng jokes media sosial, kini menjadi ancaman nyata terhadap siapa pun yang berani mendobrak kotak kaku gender masyarakat kita.
Baca juga: Siapa Tempat Curhat Laki-laki? Ketimpangan Dukungan Emosional dalam Relasi
Sebenarnya Apa itu Boti?
Mari kita luruskan dulu. Istilah “boti” sebenarnya berasal dari kata bottom, sebuah slang dalam komunitas gay yang merujuk pada pihak yang dipenetrasi. Jadi, konteks aslinya benar-benar murni soal peran di ranjang saat berhubungan seksual.
Sayangnya, belakangan ini penggunaan kata tersebut melenceng jauh dari makna aslinya. Bahkan diapropriasi oleh kelompok heteroseksual. Istilah ini malah dijadikan kata ganti merendahkan yang dilekatkan pada laki-laki mana pun—tanpa peduli orientasi seksualnya apa—yang punya penampilan, gaya bicara, atau gestur yang dianggap feminin.
Mengapa Kebencian Terhadap Boti adalah Misoginis?
Membenci identitas seseorang (mau dia gay atau laki-laki heteroseksual) hanya karena ia berpenampilan atau bergaya feminin adalah bentuk nyata dari misoginisme yang mengakar kuat pada budaya patriarki.
Bagaimana mungkin kita disuruh secara kolektif membenci seseorang hanya karena gaya atau cara mereka mengekspresikan diri?
Di sinilah letak akar toxic masculinity. Dalam kacamata patriarki, feminitas selalu direduksi sebagai sesuatu yang lemah dan kerdil. Kalau perempuan yang tampil feminin, masyarakat menganggapnya “sudah seharusnya”. Tapi, ketika atribut feminitas itu dipakai oleh laki-laki, malah dianggap merendahkan derajatnya sendiri.
Kontradiksi ini makin telanjang dan ironis kalau kita melihat kasus persekusi yang sempat viral di Jogja belum lama ini. Ada akun perempuan bergaya alt (alternatif) yang secara estetika dan gestur cenderung maskulin, justru ikut-ikutan mengejar dan meneriaki seorang laki-laki dengan sebutan boti.
Peristiwa ini sangat janggal, tapi sekaligus membuktikan standar ganda masyarakat kita secara sempurna. Ketika perempuan berpenampilan atau bergestur maskulin (tomboy), reaksi publik cenderung biasa saja—bahkan kadang dianggap keren, mandiri, atau edgy.
Tapi, giliran laki-laki yang bergaya feminin, responsnya langsung berupa persekusi dan ancaman fisik. Mereka dibenci habis-habisan karena dianggap secara sukarela membuang privilege dan kekuatan sebagai laki-laki demi sesuatu yang dianggap lemah.
Pada akhirnya, narasi “anti-boti” ini membuktikan bahwa masalah utamanya bukan pada orientasi seksual atau siapa yang ada di ranjang siapa. Masalah utamanya adalah masyarakat kita masih sangat takut, jijik, dan merendahkan apa pun yang berbau perempuan.
Baca juga: Bromance, Lelaki Juga Butuh Ruang Aman
Mengapa Ada Standar Ganda? Mengenal Femmephobia
Sebenarnya, apa yang kita saksikan di linimasa—serangan terhadap laki-laki yang dianggap boti—adalah manifestasi dari femmephobia. Secara definisi, femmephobia adalah devaluasi, ketakutan, dan regulasi sistemik terhadap segala bentuk feminitas. Tidak seperti misogini yang target utamanya adalah perempuan, femmephobia menyerang feminitas itu sendiri, tidak peduli siapa pemilik tubuhnya.
Dalam kacamata masyarakat kita, maskulinitas selalu ditempatkan pada kasta tertinggi. Oleh karena itu feminitas hanya bisa diterima jika ia menempel pada perempuan (cisgender heteroseksual). Begitu ekspresi feminin ini berani dipakai oleh identitas lain—seperti laki-laki—masyarakat langsung meradang karena dianggap sebuah penyimpangan yang fatal.
Inilah alasan sosiologis mengapa perempuan yang maskulin atau tomboy lebih bisa diterima. Secara bawah sadar, masyarakat melihat mereka sedang “naik kelas” dengan mengadopsi simbol kekuatan dan superioritas, yaitu maskulinitas. Sebaliknya, laki-laki feminin dihujat habis-habisan karena mereka dituduh secara sukarela membuang kekuatan dan hak istimewanya demi sesuatu yang dikonstruksikan lemah.
Selain itu femmephobia juga berdampak kepada diskriminasi Sebuah studi komprehensif terbaru dari Hoskin dkk. (2024) membuktikan realita yang cukup menampar. Para peneliti mensurvei lebih dari 400 laki-laki heteroseksual untuk mencari tahu apa sebenarnya pemicu utama di balik perilaku diskriminatif dan kekerasan anti-gay.
Hasilnya ketika peneliti membandingkan femmephobia dengan lima faktor prasangka tradisional lainnya (seperti konservatisme atau dorongan mendominasi kelompok lain), kebencian terhadap feminitas muncul sebagai prediktor atau pemicu paling mutlak dari sentimen anti-gay. Artinya, kekerasan terhadap laki-laki gay sering kali tidak berakar pada orientasi seksualnya itu sendiri. Melainkan pada kebencian masyarakat melihat laki-laki yang berani tampil feminin.
Temuan ini sekaligus menjawab sebuah paradoks besar di zaman modern. Saat ini, kampanye inklusivitas dan penerimaan terhadap orientasi seksual minoritas rasanya makin gencar dan secara prinsip mulai membaik.
Namun ironisnya, persekusi dan kekerasan di lapangan tetap saja langgeng. Karena masyarakat masih mewariskan standar kaku tentang ekspresi gender. Kita masih sibuk menghukum siapa saja yang berani mendobrak aturan bahwa laki-laki itu mutlak harus kaku dan tangguh.
Pada akhirnya, femmephobia telah menjadi hal yang melegitimasi persekusi terhadap laki-laki yang berekspresi feminin di ruang publik. Padahal, apa yang salah dengan menjadi feminin? Suka merawat diri, tampil rapi, bersikap lembut, dan memiliki empati jelas merupakan kualitas yang sangat positif. Memiliki sifat-sifat ini sama sekali tidak membuat seorang laki-laki menjadi rendah derajatnya.
Lagi pula, fashion dan cara kita mengekspresikan diri itu pada dasarnya tidak punya gender. Kalau seorang laki-laki mau tampil maskulin biar kelihatan macho dan keren, silakan, itu oke. Tapi kalau dia lebih nyaman tampil lembut, flamboyant, itu juga sama okenya. Tidak ada satu gaya yang lebih hina dari yang lain.
Jadi, kalau kita benar-benar mau memutus rantai diskriminasi, ejekan “boti”, dan persekusi yang belakangan sering viral ini, sekadar teriak-teriak soal hak saja. Kita harus mulai membongkar alam bawah sadar yang terpengaruh patriarki yang menganggap maskulinitas selalu lebih superior dari feminitas.
Referensi:
- Hoskin, R. A., Blair, K. L., & Holmberg, D. (2024). Femmephobia Is a Uniquely Powerful Predictor of Anti-Gay Behavior. Archives of sexual behavior, 53(1), 127–140. https://doi.org/10.1007/s10508-023-02704-5
- Trent University. (2023, 23 Maret). Femmephobia: What’s the impact? https://www.trentarthur.ca/news/femmephobia-whats-the-impact
