Bincangperempuan.com- Di tengah tren resign massal atau “kerja harus sesuai passion”, ada fenomena lain yaitu job hugging. Istilah ini menggambarkan orang yang tetap bertahan di pekerjaan, meski sudah tidak bahagia—bukan karena cinta, tapi karena takut kehilangan pekerjaan. Kalau quiet quitting adalah mundur perlahan dari kerjaan tanpa benar-benar keluar, job hugging justru kebalikannya yaitu tetap memeluk pekerjaan erat-erat, meski dalam hati justru ingin pergi.
Namun, job hugging sebenarnya punya sisi lain terutama bagi banyak orang terutama perempuan. Ia bisa jadi bentuk adaptasi, bahkan strategi bertahan di tengah ekonomi yang makin tak pasti dan budaya kerja yang belum berpihak pada kesejahteraan pekerja.
Baca juga: Penelantaran Bayi: Dosa yang Difasilitasi Negara Secara Sistematis
Kenapa Job Hugging Kini Jadi Tren?
Menurut laporan Monster’s 2025 Job Hugging Report menunjukkan tren ini belum akan mereda. Sebanyak 75% responden berencana bertahan di tempat kerja mereka hingga 2027, dan hampir separuh (48%) mengaku tetap tinggal karena takut pada ketidakpastian ekonomi.
Dalam wawancara dengan Forbes, Dmitrii Anikin—Co-founder SalaryGuide, menilai bahwa bertahan di pekerjaan bukan berarti tidak ambisius. Menurutnya, pekerja yang memilih bertahan dapat memanfaatkan posisi tersebut untuk tumbuh: mengasah keterampilan, memperluas tanggung jawab, atau menyiapkan diri ketika peluang baru datang. “Ini bukan tanda kemalasan,” kata Anikin. “Ini cerminan cara pekerja modern beradaptasi di lanskap kerja yang tidak menentu.”
Pandangan serupa datang dari Prof. Tadjuddin Noer Effendi, Guru Besar FISIP UGM. Ia menilai fenomena ini bukan hal baru, melainkan konsekuensi dari pasar kerja yang sulit. “Mencari pekerjaan baru berisiko tinggi, maka orang cenderung memilih bertahan,” ujarnya kepada Merdeka.com. Menurutnya, keamanan finansial dan stabilitas menjadi alasan dominan, meski pekerjaan saat ini tidak sepenuhnya memuaskan.
Tadjuddin mengibaratkan situasi ini seperti pepatah: “Berharap burung terbang tinggi, punai di tangan dilepaskan.”Lebih baik bertahan dengan pekerjaan yang sudah ada daripada mengambil risiko yang belum pasti. Dengan angka pengangguran Indonesia mencapai 7,4 persen—tertinggi di Asia Tenggara—strategi “main aman” jadi langkah yang masuk akal. Banyak pekerja kini justru menambah pekerjaan sampingan ketimbang melepas pekerjaan utama.
Baca juga: Mastektomi dan Tubuh di Persimpangan Gender dan Kesehatan
Antara Gaji Bulanan dan Peluang Tautan Affiliate
Bagi perempuan, keputusan bertahan sering kali lebih kompleks. Ada beban rumah tangga, tanggungan finansial, dan kebutuhan akan rasa aman dari gaji bulanan. Di sisi lain, banyak perempuan yang sudah jenuh dengan sistem kerja panjang, tekanan produktivitas, dan bias gender di tempat kerja. Dalam konteks ini, job hugging menjadi bentuk negosiasi antara tetap bekerja, tapi sambil menciptakan ruang pribadi di luar.
Menariknya, kini semakin banyak peluang yang membuat perempuan bisa tetap “memeluk pekerjaan” sambil merintis sumber penghasilan baru. Banyak yang akhirnya memutuskan menjalankan usaha kecil-kecilan di luar jam kerja, mulai dari bisnis daring hingga bergabung dalam sistem afiliasi—memanfaatkan tautan produk untuk memperoleh komisi tambahan.
Di Indonesia, sistem afiliasi seperti Shopee Affiliate dan TikTok Shop Affiliate berkembang pesat karena dianggap ringan dan fleksibel. Survei Jakpat “Indonesia E-commerce Trends 1st Semester of 2023” menunjukkan bahwa 83% Gen Z pernah membuka tautan afiliasi—menandakan sistem ini makin populer dan menjadi bentuk baru dari side income. Data dari Antara bahkan mencatat bahwa hanya dalam satu bulan, tiga kreator afiliasi di TikTok Shop mampu membukukan total penjualan hingga Rp107 miliar, menunjukkan besarnya potensi pasar bagi kreator maupun pekerja sambilan.
Peluang ini terasa relevan bagi banyak perempuan pekerja karena tidak butuh modal besar, tak perlu stok barang, dan bisa dilakukan dari rumah atau bahkan di sela jam kerja. Cukup dengan membuat konten rekomendasi produk atau membagikan tautan di media sosial, mereka bisa mendapatkan komisi tanpa meninggalkan pekerjaan utama. Bagi sebagian perempuan, ini bukan sekadar tambahan uang saku, tapi juga latihan manajemen waktu, pemasaran digital, dan membangun audiens yang kelak bisa menjadi fondasi usaha sendiri.
Fenomena serupa juga terlihat secara global. Studi Hiscox Side Hustle to Small Business™ (2019) menemukan bahwa sebagian besar pelaku side hustle tetap memiliki pekerjaan utama, dengan rata-rata menghabiskan hingga 20 jam per minggu di luar jam kerja. Artikel CNBC bahkan menampilkan kisah pekerja muda yang mampu meraih penghasilan tambahan hingga $8.600 per bulan dari affiliate marketing sambil tetap bekerja penuh waktu.
Sementara jurnal International Journal of Scientific Development and Research (2023) menilai bahwa affiliate marketing menjadi bentuk side hustle yang “low risk, low cost,” dan semakin dipilih pekerja yang ingin menambah pendapatan tanpa mengambil risiko tinggi.
Namun, di balik kemudahannya, sistem afiliasi juga bersifat untung-untungan. Pendapatan bergantung pada algoritma, tren yang cepat berganti, dan kemampuan membangun audiens. Komisi kadang tidak sebanding dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan untuk membuat konten.
Meski begitu, bagi banyak perempuan, pengalaman ini tetap berarti, mereka belajar strategi pemasaran, memahami perilaku konsumen, dan membangun kepercayaan diri untuk kelak memiliki brand sendiri.
Dengan cara ini, job hugging dan usaha kecil lewat bisnis atau affiliate bisa menjadi jalan tengah antara stabilitas dan eksplorasi. Perempuan tidak sekadar bertahan, tapi memanfaatkan peluang baru untuk tumbuh, meski dalam sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada mereka.
Maka, job hugging bukan sekadar takut kehilangan status, tapi cara bertahan dengan kepala tegak. Kadang, justru dari ruang kecil dari waktu di sela rapat, dari gaji yang disisihkan sedikit demi sedikit lahir langkah awal menuju kemandirian.
Referensi:
- Forbes. (2025, 25 Oktober). Job Hugging: 75% of Workers Staying Put Through 2027, Study Shows. https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2025/10/25/job-hugging-75-of-workers-staying-put-through-2027-study-shows/
- CNBC. (2022, 19 Januari). This 24-year-old makes $8,600 per month in passive income and works just 2 hours a day. https://www.cnbc.com/2022/01/19/this-24-year-old-makes-8600-per-month-in-passive-income-and-works-just-2-hours-a-day.html
- International Journal of Scientific Development and Research (IJSDR). (2023). A Study on Social Media Affiliate Marketing and Its Impact on Consumer Purchase Decisions. https://www.ijsdr.org/papers/IJSDR2303032.pdf
- Antara News. (2024). Tiga kreator affiliate tembus rekor total Rp107 miliar di live TikTok Shop. https://m.antaranews.com/berita/3724692/tiga-kreator-affiliate-tembus-rekor-total-rp107-miliar-di-live-tiktok-shop
- Merdeka.com. (2024). Mengenal Job Hugging, Fenomena Baru Pekerja di Tengah Ketidakpastian Ekonomi. https://www.merdeka.com/uang/mengenal-job-hugging-fenomena-baru-pekerja-di-tengah-ketidakpastian-ekonomi-469828-mvk.html?page=2#
