Belajar dari Sore: Mengubah Sifat Pasangan Bukan Tanggung Jawab Kita

Ais Fahira

News, Hubungan

Belajar dari Sore Mengubah Sifat Pasangan Bukan Tanggung Jawab Kita

Bincangperempuan.com– Film Sore: Istri dari Masa Depan tengah tayang dan menuai beragam reaksi. Ceritanya berpusat pada tokoh bernama Sore istri dari masa depan yang melakukan perjalanan waktu untuk menyelamatkan suaminya, Jonathan, dari kematian akibat gaya hidup yang tidak sehat. Sore datang dari masa depan dengan niat mulia mencegah Jonathan merokok, begadang, dan makan sembarangan. Pokoknya, segala hal yang berpotensi memperpendek usia Jonathan.

Sekilas niat Sore terlihat mulia? Tapi di sisi lain juga problematik. Karena di balik kisah cinta bernuansa fiksi ilmiah ini, tersimpan satu pertanyaan yang jauh lebih dekat, Benarkah gaya hidup (atau sifat) pasangan kita adalah tanggung jawab kita?

Cinta Bukan Proyek Perbaikan

Banyak dari kita terutama perempuan tumbuh dengan narasi bahwa cinta itu menyelamatkan. Bahwa mencintai seseorang artinya menerima mereka apa adanya dan membantu mereka menjadi lebih baik. Dalam dosis yang sehat hubungan seperti ini bisa bermakna suportif. Tapi sering kali, konsep ini bergeser jadi cinta sebagai proyek perbaikan manusia. Dan perempuan lagi-lagi didorong untuk mengambil peran penyelamatnya.

Padahal, sesungguhnya, tidak ada satu manusia pun yang bertanggung jawab atas pertumbuhan orang lain. Apalagi jika perubahan itu didorong bukan oleh kemauan dari dalam diri, tapi oleh desakan pasangan.

Sore, dengan segala ketulusan dan kecemasan akan masa depan suaminya, merepresentasikan sosok yang banyak dari kita kenal atau bahkan kita sendiri pernah jadi pasangan yang ingin “menyelamatkan” seseorang dari dirinya sendiri. Namun, seberapa besar kuasa kita untuk mengubah orang yang bahkan belum siap untuk berubah?

Baca juga: It Ends With Us: Perjuangan Melawan KDRT dan Memutus Trauma

Cinta Bukan Soal Menyelamatkan, Tapi Mengenali Batas

Sering kali, dalam relasi romantis, kita dibutakan oleh ide bahwa cinta harus berkorban bertahan dan mengalah. Bahkan harus mengubah orang lain agar “relasinya tetap utuh”. Tapi, logikanya jadi terbalik. Kita justru terjebak pada dinamika yang membuat kita tidak berkembang—karena terus berusaha memperbaiki orang lain sambil mengabaikan diri sendiri.

Padahal sebelum mencintai orang lain kita seharusnya mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri bukan berarti egois atau tidak mau berjuang. Tetapi memahami diri sendiri, menyayangi diri sendiri

Bukan sekadar memanjakan diri dengan me-time, tapi benar-benar mengenal diri sendiri secara jujur.
Memahami apa yang kita mau, apa yang kita butuhkan, dan yang paling sulit apa yang tidak kita sanggupi lagi.

Mencintai diri sendiri bukan soal menutup diri dari orang lain, bukan pula tentang egoisme. Justru sebaliknya, itu bentuk keberanian untuk melihat kenyataan bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. Termasuk pasangan yang terus-terusan merusak dirinya sendiri, dan ikut menarik kita ke dalam lingkaran yang sama.

Cinta pada diri sendiri juga bukan eskapisme. Bukan tentang lari ke pelukan orang lain setiap kali merasa kosong, kesepian, atau kehilangan arah. Kadang kita terjebak dalam hubungan bukan karena benar-benar cinta, tapi karena kita takut menghadapi hidup sendirian. Kita berharap kehadiran orang lain bisa menambal lubang di dalam diri kita. Padahal lubang itu tidak akan pernah benar-benar tertutup kalau kita sendiri tidak menghadapinya.

Dalam film Sore, jika satu-satunya cara agar Jonathan bertahan hidup adalah dengan Sore terus datang dari masa depan dan memperbaiki hidupnya, kapan Jonathan belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri? Dan kapan Sore bisa hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk menyelamatkan orang lain?

Hubungan yang Sehat Tidak Butuh Penyelamat

Relasi yang sehat dibangun bukan dari satu pihak yang selalu memberi dan satu lagi yang selalu dibimbing. Tapi dari dua individu yang bertumbuh bersama dengan kesadaran masing-masing.

Mengubah kebiasaan buruk, memperbaiki komunikasi, belajar bertanggung jawab—semua itu harus bermula dari kemauan pribadi, bukan paksaan pasangan. Sebab begitu hubungan bergeser jadi upaya memperbaiki orang lain, cinta itu akan terasa lebih seperti pekerjaan, bukan koneksi.

Mengubah kebiasaan buruk, memperbaiki komunikasi, dan belajar bertanggung jawab semuanya harus berangkat dari kesadaran pribadi, bukan dari paksaan pasangan. Sebab ketika cinta menjelma menjadi proyek perbaikan satu arah, ia kehilangan substansi. Yang tersisa hanyalah kelelahan, perasaan terhisap dalam dinamika yang terus-menerus menuntut.

Dalam film Sore: Istri dari Masa Depan, penonton perlahan turut merasakan letih yang Sore rasakan. Berkali-kali ia terbangun di masa lalu dengan tekad menyelamatkan Jonathan mencegah kebiasaan buruknya, memperbaiki gaya hidupnya, menunda ajal yang diramalkan. Namun Jonathan tetap sama. 

Dan di titik tertentu, yang menyakitkan bukan lagi kematian yang menanti Jonathan, melainkan hidup yang perlahan-lahan mengikis Sore.

Penonton ikut lelah karena kita tahu persis bagaimana rasanya memberi tanpa benar-benar diterima. Kita mengenali Sore dalam diri kita sendiri dalam upaya diam-diam memperbaiki orang lain, dalam harapan bahwa cinta cukup untuk mengubah segalanya.

Baca juga: Misandri Bukan Lawan dari Misogini, dan Feminisme Bukan Balas Dendam

Perempuan Bukan Penebus Dosa Laki-Laki

Selain itu di banyak kisah cinta yang kita konsumsi, ada satu narasi usang yang terus diulang seperti “di belakang laki-laki yang sukses selalu ada perempuan yang sabar, kuat, dan penuh pengorbanan”. Bahwa perempuan hebat adalah dia yang bisa menjinakkan amarah, mengubah kebiasaan buruk, menyelamatkan laki-laki dari kehancuran dirinya sendiri.

Narasi ini terdengar heroik, tetapi justru menempatkan perempuan bukan sebagai manusia utuh, melainkan sebagai penebus dosa laki-laki. Si pemarah jadi tenang karena perempuan yang lembut. Si playboy jadi setia karena perempuan yang setia lebih dulu. 

Seolah tanggung jawab laki-laki untuk tumbuh dan berubah adalah beban kolektif perempuan sebagai pacar, istri, dan ibu. Terapi jika gagal, perempuan juga disalahkan karena kurang sabar, atau kurang memberi waktu.

Padahal yang kurang bukan pada perempuan, tapi pada sistem yang membiarkan laki-laki lolos dari tanggung jawab atas dirinya sendiri. Sistem yang merayakan “perempuan kuat” sambil diam-diam terus menuntutnya untuk bertahan, untuk menyelamatkan, untuk tetap tinggal meski hatinya terkikis.

Narasi semacam inilah yang menghidupkan tokoh seperti Sore—perempuan yang melintasi waktu demi menyelamatkan suaminya, berulang-ulang.

Kamu Tidak Bertanggung Jawab Atas Sifat Buruk Orang Lain

Jika kamu sedang menjalin hubungan dan merasa lelah karena harus terus “mengarahkan” pasangan, tidak apa-apa untuk menyerah atau berpisah.

Sebab kamu bukan Sore, kamu tidak datang dari masa depan untuk menyelamatkan siapa pun. Kamu hadir di masa kini, untuk membangun hidup yang sehat dan penuh makna bersama seseorang yang juga bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Karena cinta, seharusnya bukan membuat kita kehilangan diri sendiri demi menyelamatkan orang lain.
Tapi membuat kita tumbuh, bersama-sama. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Terjadi Lagi Kasus Cacingan di Bengkulu: Bukan Sekadar Medis, Tapi Struktural

Green Jobs: Peluang Kerjanya Anak Muda untuk Indonesia Lebih Bersih

Lemea, Alternatif Pendapatan Perempuan Selama Pandemi

Leave a Comment