Bincangperempuan.com- Dunia tengah menghadapi ancaman kemunduran dua dekade dalam perjuangan melawan HIV/AIDS akibat krisis pendanaan global. Eamonn Murphy, Direktur Regional UNAIDS untuk Asia-Pasifik dan Eropa Timur/Asia Tengah, memperingatkan bahwa tanpa langkah radikal dalam pendanaan dan pendekatan program, dunia bisa kalah dalam menghadapi penyebaran penyakit yang menyerang imunitas tubuh tersebut.
“Ini bukan lagi soal satu penyakit. Ini soal keadilan sosial, hak asasi manusia, dan keberlanjutan sistem kesehatan,” ujar Murphy, seraya menunjukkan grafik prediksi infeksi dan kematian terkait AIDS yang mengerikan jika tren pemotongan anggaran terus berlanjut.
Baca juga: Ibu Rumah Tangga, Kelompok Rentan Risiko HIV/AIDS
Ketimpangan Akses dan Ketergantungan Dana Asing
Murphy menyoroti ketimpangan tajam antara populasi umum dan populasi kunci, seperti pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), pengguna narkoba suntik, transgender, dan narapidana, yang menyumbang lebih dari 80 persen infeksi baru di Asia-Pasifik.
“Ini bukan soal siapa yang sakit, tapi siapa yang dijauhkan dari layanan. Stigma, kriminalisasi, dan diskriminasi membuat banyak orang menunda atau menghindari akses kesehatan,” Eamonn dalam seminar Connecting the dots: HIV, sexual and reproductive health, rights and justice, and SDGs yang digelar secara online, Jumat (25/07/2025).
Sementara donor internasional memang menurunkan kontribusi, Murphy juga mengkritik minimnya pendanaan domestik yang semestinya mengisi kekosongan tersebut. “Tanpa kepemilikan lokal terhadap isu ini, kita hanya menunggu bom waktu epidemi baru.”
Perempuan dan Anak, Korban yang Tak Terlihat
Murphy mengangkat dua kisah nyata yang menggugah yakni, sosok Ava Deva dari Indonesia dan Takmina Haidarova dari Tajikistan. Keduanya tertular HIV dari pasangan mereka, tidak mendapatkan dukungan layanan kesehatan yang layak, dan menjadi korban kekerasan domestik serta stigma.
“Kita bicara tentang integrasi layanan. Jangan pisahkan klinik HIV dari layanan kesehatan perempuan. Jangan jadikan status HIV sebagai label yang membuka pintu diskriminasi,” tegas Murphy.
Baca juga: Mengapa Pendidikan Seks Inklusif Itu Penting?
Rekomendasi: Fokus, Komunitas, dan Keberlanjutan
Menghadapi kondisi saat ini, Murphy menekankan lima rekomendasi UNAIDS, yakni fokus pada populasi kunci, bukan pendekatan ‘satu untuk semua’. Kemudian, memperkuat kepemimpinan komunitas, dari pelaksanaan hingga pengawasan program. Serta menggunakan data untuk alokasi anggaran, dimana lebih memprioritaskan pencegahan, bukan hanya pengobatan. Termasuk memperluas akses pengobatan, terutama di wilayah dengan kesenjangan geografis dan ekonomi. Serta keberlanjutan, melalui mobilisasi dana domestik dan kemitraan sektor swasta.
Ia memuji langkah Malaysia yang berhasil menggandeng sektor swasta dalam pendanaan HIV hingga sepertiga dari total anggaran nasional.
“Kita bukan kekurangan ide, kita kekurangan kemauan politik,” ujar Murphy.
“Waktu kita semakin sedikit. Jika ingin mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030, investasi harus berpihak pada orang, bukan struktur,” pungkasnya.
