Bisakah Cewek dan Cowok Berteman Dekat Tanpa Baper? 

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Pasti kamu sering dengar perdebatan klasik yang umurnya mungkin sudah menahun ini: “Cewek dan cowok itu nggak akan pernah bisa temenan dekat. Pasti ujung-ujungnya bakal ada salah satu yang punya intensi romantis.” Topik pertemanan lawan jenis ini seolah tak ada matinya untuk terus dibahas. Seiring berjalannya waktu, perdebatan ini sering memicu perpecahan pendapat saat lagi asyik mengobrol di tongkrongan.

Mungkin kamu pernah melihat sebuah potongan video podcast viral yang berseliweran di media sosial. Di tayangan tersebut, ada sepasang kekasih yang ditanya dengan pertanyaan serupa soal pertemanan lawan jenis. Respons keduanya ternyata sangat bertolak belakang. Laki-laki dengan nada ngegas, berapi-api, dan penuh emosi bilang kalau pertemanan murni antara lawan jenis itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Di sisi lain, si perempuan dengan gaya santai menjawab kalau hal itu bisa-bisa saja terjadi, asalkan ada boundaries alias batasan yang jelas di antara mereka berdua.

Melihat reaksi si laki-laki yang sampai mencak-mencak dan menolak keras opini pasangannya, kita jadi ikutan mikir: sebenarnya siapa yang benar? Benarkah laki-laki dan perempuan tidak bisa untuk sekadar menjadi teman? Kira-kira, apa kata penelitian dan para ahli psikologi soal perdebatan yang tak pernah usai ini? 

Baca juga: Relationship Weight: Alasan Kenapa Jatuh Cinta Bikin Badan Makin Berisi

Apa Kata Riset?

Berdasarkan sebuah studi pada tahun 2012 yang melibatkan 88 pasang mahasiswa yang berteman beda gender, ditemukan fakta bahwa laki-laki memang memiliki kecenderungan yang jauh lebih besar untuk memandang teman perempuan mereka secara romantis. Riset ini dengan gamblang menjelaskan bahwa dari awal, cara pandang kedua belah pihak di dalam sebuah persahabatan sudah sering tidak sinkron.

Riset tahun 2012 ini menemukan detail yang menjadi validasi nyata kenapa pihak laki-laki di podcast itu sampai emosi dan tidak setuju dengan pernyataan pasangannya. Laki-laki secara umum ternyata sangat sering mengalami overestimasi ketertarikan. Singkatnya, mereka ini lebih mudah kegeeran. Laki-laki berasumsi bahwa segala bentuk kenyamanan yang mereka rasakan pasti berbalas, padahal para perempuan murni cuma menganggap mereka sebagai teman biasa. Temuan ini secara telak menunjukkan kalau perempuan secara natural lebih memiliki kendali sosial dan boundaries yang kuat ketimbang laki-laki. Perempuan bisa bersikap ramah tanpa ada udang di balik batu, sementara laki-laki sering kesusahan mematikan insting romantis mereka. 

Pergeseran Budaya dan Manfaat Emosional

Lalu, bagaimana fenomena ini dilihat dari kacamata sosial hari ini? Berdasarkan ulasan dari ahli psikologi, fenomena pertemanan lintas gender ini sangat dipengaruhi oleh pergeseran budaya patriarki. Zaman dulu, laki-laki dan perempuan sangat jarang bisa berteman karena lingkungan sosial mereka dipisah secara kaku—laki-laki mendominasi tempat kerja, sementara perempuan dibatasi di area domestik. Alhasil, interaksi mereka nyaris selalu diakhiri dengan motif romansa. Sekarang, batasan kaku itu sudah runtuh. Laki-laki dan perempuan bebas bergaul, bekerja dalam satu tim, hingga punya hobi yang sama.

Yang paling menarik dari pergeseran gaya hidup ini, laki-laki justru menjadi pihak yang mendapat manfaat emosional paling besar dari pertemanan lintas gender. Mereka akhirnya punya ruang aman untuk benar-benar curhat, berkeluh kesah, dan membahas perasaan rentan mereka—hal krusial yang sangat jarang mereka dapatkan dari lingkaran pertemanan sesama laki-laki. Biasanya, pertemanan tongkrongan laki-laki cuma berorientasi pada aktivitas fisik seperti main game, nongkrong, atau adu gengsi, nyaris tanpa ada sesi mengupas emosi yang dalam.

Mungkin, hal inilah yang menjadi alasan utama kenapa makhluk yang katanya paling “logis” ini malah gampang baper. Hal ini dikonfirmasi lewat jurnal penelitian dari Linda A. Sapadin terkait pria dan wanita karier. Dalam risetnya, terungkap bahwa perempuan tetap menilai pertemanan sesama perempuan dengan kualitas tertinggi dalam hal keintiman. Tapi sebaliknya, laki-laki justru memberi nilai kepuasan emosional yang jauh lebih tinggi pada pertemanan lintas gender mereka! Berteman dengan perempuan memberi laki-laki ruang aman dan perspektif baru. Walau sisa ketegangan seksual itu kadang masih ada, berteman dengan cewek jelas membawa keuntungan psikologis tersendiri bagi laki-laki.

Baca juga: Ketika Parasocial Relationship Jadi Pedang Bermata Dua

Peluang Berteman dan Pentingnya Boundaries

Pada akhirnya, ulasan psikologi juga menyoroti satu kendala utama yang sering membuat hubungan persahabatan beda gender ini kacau: perbedaan target yang berujung pada jebakan friend zone. Sering kali, apa yang dianggap sebagai keuntungan oleh laki-laki (potensi ke arah asmara) justru dianggap sebagai beban emosional oleh perempuan yang murni hanya mau berteman. Miskomunikasi semacam ini bisa merusak pondasi pertemanan yang mungkin sudah dibangun bertahun-tahun. Kalau ekspektasi ini dibiarkan tabrakan tanpa ada obrolan, persahabatan akan terasa berat sebelah.

Namun, tetap ada peluang laki-laki dan perempuan untuk murni berteman itu sangat bisa terjadi. Syarat utamanya mutlak: batas-batas atau boundaries harus benar-benar dijaga sedari awal. Kalau memang tujuannya murni berteman, komunikasikanlah hal tersebut secara jelas dari awal kedekatan. Dan kalau ternyata perlahan diam-diam kamu mulai punya perasaan lebih sementara temanmu tidak merespons serupa, lebih baik berani ambil sikap tegas untuk menjaga jarak demi kebaikan mental bersama. 

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Tren Tube Girl

Pro dan Kontra, Fenomena Tube Girl 

Sampah Menstruasi Darurat yang Tak Pernah Jadi Prioritas

Sampah Menstruasi: Darurat yang Tak Pernah Jadi Prioritas

Kenapa Kita Jarang Memberikan Bunga Kepada Laki-laki

Kenapa Kita Jarang Memberikan Bunga Kepada Laki-laki?

Leave a Comment