Benarkah Pertemanan Perempuan Lebih Toksik?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- B-Pers mungkin pernah mendengar kalimat-kalimat seperti, “pertemanan perempuan itu toksik, suka menjatuhkan satu sama lain,” atau “perempuan kalau bergunjing serem banget.” Ada juga anggapan bahwa pertemanan perempuan penuh kepalsuan—ramah di depan, tetapi saling menikam di belakang.

Narasi-narasi ini begitu sering diulang sampai terdengar seperti kebenaran umum. Padahal, benarkah demikian? Ataukah kita hanya mewarisi stereotip lama yang tidak pernah benar-benar diuji?

Benarkah Pertemanan Perempuan Selalu Toksik?

Selama ini, banyak orang mengira bahwa perasaan benar-benar dilihat, dipahami, dan dicintai hanya dapat hadir dalam hubungan romantis. Padahal, pertemanan platonis juga memiliki daya tarik emosional tersendiri. Hubungan ini dapat memberikan keintiman, koneksi, dan dukungan yang sama kuatnya seperti yang biasa kita harapkan dari pasangan, termasuk dalam masa-masa naik, turun, maupun situasi serba tidak pasti.

Menurut Joy Harden Bradford, PhD, seorang psikolog berlisensi dan penulis Sisterhood Heals: The Transformative Power of Healing in Community, pertemanan perempuan bahkan sering menjadi pusat kehidupan emosional bagi banyak perempuan. 

Dalam wawancaranya dengan SELF Magazine, ia menjelaskan, “Bagi banyak perempuan, hubungan dengan sahabat perempuan sebenarnya adalah pusat kehidupan kami. Ketika kita melihat siapa yang benar-benar hadir saat masa-masa sulit, ketika kita tidak yakin dengan diri kita sendiri, justru para sahabat perempuanlah yang membantu kita menemukan kembali identitas dan kekuatan kita dari tahun ke tahun.”

Lalu, apa yang membuat hubungan pertemanan perempuan terasa berbeda dan sering kali lebih dalam dibandingkan pertemanan laki-laki? Bradford memaparkan beberapa faktor utama sebagai berikut:

Perempuan membangun kedekatan melalui saling bercerita, bukan hanya aktivitas bersama

Sejak kecil, anak perempuan lebih banyak disosialisasikan untuk berinteraksi lewat cerita, berbagi rahasia, dan saling curhat. Dari halaman sekolah sampai kamar kos atau asrama, mereka terbiasa membicarakan banyak hal. Mulai dari ketertarikan pada seseorang, tekanan pekerjaan, konflik keluarga, hingga detail-detail kecil tentang hidup mereka sehari-hari. Alur cerita inilah yang membentuk koneksi emosional yang kuat.

Sebaliknya, anak laki-laki umumnya disosialisasikan untuk berteman melalui aktivitas seperti bermain bola, main game, atau hobi bersama lainnya. Aktivitas itu memang membangun kedekatan, tetapi belum mampu membuka percakapan rentan yang menciptakan keintiman emosional.

Baca juga: Queen Bee Syndrome: Fenomena Sosial di Tengah Dominasi Maskulinitas

Perempuan lebih disosialisasikan untuk menunjukkan kerentanan

Norma maskulinitas toksik telah lama membuat laki-laki merasa tidak wajar atau bahkan memalukan ketika menunjukkan emosi seperti menangis, mengakui sakit hati, atau mengkonfrontasi teman mengenai hal yang mengganggu mereka. Baru belakangan ini ada dorongan untuk menormalkan ekspresi emosi pada laki-laki—suatu hal yang sudah lama diterima dan dipraktikkan oleh perempuan dalam relasi mereka.

Perempuan lebih perhatian pada detail-detail kecil

Bradford juga mencatat bahwa perempuan cenderung ingat hal-hal kecil yang bermakna—presentasi penting yang membuat teman gugup, janji kontrol kesehatan yang terus ditunda, atau tanggal kencan yang sempat disebut. Perhatian pada detail-detail kecil ini membuat seseorang merasa dilihat, didukung, dan dicintai, meskipun tidak selalu disadari saat itu juga. Dalam jangka panjang, inilah yang membangun kepercayaan, kedekatan, dan loyalitas—kualitas yang biasanya kita asosiasikan dengan hubungan romantis, padahal pertemanan perempuan juga bisa mencapainya secara alami.

Bagaimana Seharusnya Pertemanan yang Sehat?

Pertemanan yang sehat apa pun gendernya, seharusnya bisa  menjadi ruang aman. Dalam konteks perempuan, hubungan ini biasanya hadir sebagai tempat saling menguatkan, saling mengingatkan, serta saling memberi validasi. Inilah yang membuat sisterhood terasa memulihkan bagi banyak perempuan.

Pada sisi lain, pertemanan laki-laki kerap dibentuk oleh norma maskulinitas yang membuat mereka enggan memperlihatkan kerentanan. Alhasil, percakapan yang terjadi sering kali berhenti pada permukaan. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena budaya sosial jarang memberi ruang bagi mereka untuk jujur mengenai rasa takut, cemas, atau kecewa. 

Konsekuensinya, banyak laki-laki justru menjadi lebih bergantung secara emosional pada pasangan romantis. Ketika hanya pasangan yang dianggap boleh menjadi tempat curhat, wajar jika muncul fenomena yang sering dibahas beberapa tahun belakangan, meningkatnya kesepian kronis pada laki-laki atau male loneliness epidemic.

Karena itu, narasi bahwa “pertemanan perempuan itu toksik” sebenarnya problematis. Narasi ini dipakai untuk meremehkan kedekatan emosional perempuan sambil menutupi kenyataan bahwa banyak laki-laki justru tidak memiliki jaringan sosial yang memberi dukungan emosional memadai.

Baca juga: Rollercoaster Kepemimpinan Perempuan di Media – Mendobrak Stigma, Mendorong Kuasa

Toksik itu Tidak Mengenal Gender

Penting untuk disadari bahwa sikap atau dinamika toksik tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin. Perempuan bisa toksik, laki-laki bisa toksik, dan siapa pun bisa terjebak dalam hubungan yang melelahkan secara emosional. Lingkungan, pola komunikasi, cara menangani konflik, serta pengalaman masa lalu jauh lebih menentukan kualitas pertemanan dibanding gender.

Beberapa sinyal sederhana yang perlu diwaspadai:

  • Selalu membuatmu merasa bersalah meskipun kamu tidak melakukan kesalahan.
  • Kompetisi yang tidak sehat, misalnya meremehkan pencapaianmu atau berusaha “menang” dalam setiap aspek hidup.
  • Mengabaikan batasan pribadi, termasuk memaksa kamu hadir padahal kamu sedang butuh ruang.
  • Gosip berlebihan atau menjatuhkan di belakang, tapi berpura-pura baik di depan.
  • Hanya hadir ketika butuh sesuatu, tetapi menghilang ketika kamu yang membutuhkan dukungan.
  • Meremehkan perasaanmu, menyebutmu lebay, baper, atau terlalu sensitif setiap kali kamu jujur.
  • Menguras energi, membuatmu pulang dari pertemuan merasa lelah, cemas, atau tidak dihargai.

Kalau tanda-tanda ini muncul terus-menerus, besar kemungkinan hubungan itu sudah tidak sehat lagi.

Berani Keluar dari Lingkaran Toksik

Tidak ada pertemanan yang sempurna, tetapi pertemanan yang baik seharusnya membuatmu tumbuh, bukan hancur pelan-pelan. Jika kamu merasa hubungan itu lebih banyak menyakiti daripada menguatkan, tidak ada salahnya mengambil jarak, menetapkan batasan baru, atau bahkan mengakhiri relasi tersebut sama sekali.

Tidak peduli gendernya siapa—kalau dinamika sudah merusak, kamu berhak memilih damai. Kamu berhak berpindah dari lingkaran yang tidak lagi sehat, dan kamu tidak perlu merasa bersalah untuk melindungi kesejahteraan emosionalmu sendiri.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Minim Riset dan Sensitivitas, Aplikasi Pemerintah Jadi Bias Makna

Minim Riset dan Sensitivitas, Aplikasi Pemerintah Jadi Bias Makna

Femvertising dan Greenwashing Ketika Feminisme dan Lingkungan Dijadikan Gimmick

Femvertising dan Greenwashing: Ketika Feminisme dan Lingkungan Dijadikan Gimmick

Perempuan di Kancah Politik, Beragam Bias yang Dihadapi

Perempuan di Kancah Politik, Beragam Bias yang Dihadapi

Leave a Comment