Berdamai dengan Selulit: Karena Kulit Tanpa Tekstur Cuma Ada di Filter Medsos

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Kamu mungkin pernah melihat iklan produk kecantikan di media sosial atau televisi yang mengiklankan sebuah losion, minyak, atau alat pijat yang diklaim bisa menghilangkan selulit secara permanen. Di dalam iklan tersebut, selulit digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan. Selulit sendiri biasanya berbentuk garis gelombang dengan warna yang cenderung lebih gelap atau bertekstur tidak rata di kulit, menyerupai permukaan kulit jeruk atau kasur kapuk, yang umumnya muncul di area paha, bokong, maupun perut.

Gempuran iklan-iklan ini secara tidak sadar membentuk standar baru di kepala kita, membuat kita beranggapan bahwa kulit yang sehat, bersih, dan cantik adalah kulit yang mulus tanpa selulit sedikit pun. Kita dipaksa percaya bahwa tekstur bergelombang adalah akibat tubuh yang kurang dirawat atau tanda bahwa kita malas berolahraga. Padahal, realita biologisnya tidak seperti itu.

Hampir Semua Perempuan Memiliki Selulit

Menurut studi literatur yang ditulis oleh Rawling (2006) dalam International Journal of Cosmetic Science, selulit dialami oleh sekitar 85% hingga 98% perempuan pascapubertas dari semua ras di dunia. Itu artinya, dari 10 perempuan yang kamu temui di jalan, di kantor, atau di tempat tongkrongan, 9 di antaranya dipastikan memiliki selulit di tubuh mereka.

Melihat angka populasinya yang masif, sains menegaskan bahwa selulit sama sekali bukan sebuah kelainan medis, kecacatan, ataupun penyakit. Selulit adalah karakteristik seksual sekunder yang sangat umum dan normal pada anatomi tubuh perempuan. Kehadirannya sama alaminya dengan pertumbuhan payudara atau bentuk pinggul yang melebar setelah beranjak dewasa. Jadi, jika hampir seluruh perempuan di bumi ini memilikinya, mengapa kita masih menganggapnya sebagai sebuah masalah yang harus disembunyikan?

Baca juga: Kenapa Bulu Ketiak Perempuan Dianggap Masalah?

Selulit vs Obesitas: Dua Hal yang Berbeda

Satu salah kaprah yang paling sering terjadi adalah menyamakan selulit dengan obesitas atau kelebihan berat badan. Berdasarkan ulasan ilmiah dalam Journal of Cosmetic and Laser Therapy, selulit adalah kondisi yang sangat berbeda dengan obesitas. Pada kasus obesitas, yang terjadi hanyalah pembesaran ukuran sel lemak dan pertambahan jumlah sel lemak.

Sementara pada selulit, kondisinya jauh lebih kompleks karena melibatkan struktur lapisan kulit dalam dan masalah kemacetan aliran darah kecil di area tersebut. Bayangkan ada penumpukan cairan di sela-sela jaringan kulitmu yang membuat tekanan di dalam kulit meningkat. Gara-gara cairan ini menumpuk, aliran darah yang membawa kehangatan ke area paha atau bokong jadi tersumbat. Itulah alasannya mengapa kalau kamu iseng memegang area kulit yang berselulit, suhunya terasa sedikit lebih dingin dibanding bagian tubuh lainnya.

Karena ini murni masalah struktur kulit dan sumbatan aliran darah, selulit tidak ada hubungannya dengan berat badan. Mau badan sekurus apa pun, mau atlet profesional yang hobi olahraga, atau bahkan supermodel kelas dunia sekalipun, kamu tetap bisa punya selulit. Sebab, sekurus-kurusnya orang, mereka tetap punya lapisan kulit yang bisa mengalami kemacetan cairan.

Mengapa Laki-Laki Jarang Punya Selulit?

Kalau selulit otu alami, lantas mengapa perempuan menjadi target utama selulit, sedangkan laki-laki tampaknya aman-aman saja. Jawabannya berkaitan dengan perbedaan dalam struktur lemak bawah kulit dan jaringan ikat (kolagen) yang memisahkannya.

Untuk membuktikannya, sebuah studi oleh Rosenbaum dan rekan-rekan kerjanya (1998) memeriksa jaringan kulit paha menggunakan bantuan sonografi (USG) dan biopsi. Penelitian ini melibatkan 7 orang dewasa sehat yang terdiri dari 5 perempuan dan 2 laki-laki.

Hasilnya partisipan perempuan secara umum menunjukkan struktur bawah kulit yang tidak teratur dan terputus-putus, yang membuat lemak di bawahnya gampang menyembul ke atas dan menciptakan selulit. Sedangkan, struktur jaringan bawah kulit pada laki-laki tampak sangat mulus, rata, dan terus berkesinambungan tanpa tonjolan.

Jaringan ikat laki-laki yang menyilang seperti jaring gawang mampu menahan lemak di bawahnya dengan kuat, berbeda dengan jaringan ikat perempuan yang tegak lurus seperti tiang pagar. Rosenbaum menyimpulkan bahwa perbedaan struktur bawaan sejak lahir ini bukan karena masalah lemak yang membuat perempuan jauh lebih gampang punya selulit dibanding laki-laki.

Baca juga: Berdamai dengan Lemak Perut: Jangan Cuma Takut Gendut, Takutlah pada Lemak Viseral

Berhenti Insecure 

Menurut studi Avram (2004) belum ada satu pun pengobatan atau produk kecantikan yang terbukti secara ilmiah mampu menghilangkan selulit secara total dan permanen. Memang ada ratusan perangkat canggih, suplemen, hingga obat-obatan di pasaran yang mengklaim bisa menghapus selulit. Namun, sebagian besar bukti yang mendukung efektivitas produk-produk tersebut bersifat subjektif lewat testimoni iklan, atau bahkan tidak ada landasan ilmiahnya sama sekali. Meskipun peluang investigasi lebih lanjut masih Karena realitanya selulit tidak bisa dihilangkan begitu saja karena ia merupakan bagian dari arsitektur tubuh kita sendiri.

Setelah mengetahui fakta bahwa selulit adalah fitur anatomi bawaan yang natural, sudah saatnya kita berhenti merasa tidak aman (insecure). Industri kecantikan sengaja menciptakan standar kulit yang tidak realistis—hanya demi menjual rasa cemas kepada kita, lalu meraup keuntungan dari produk-produk instan yang sebenarnya tidak bekerja. Selulitmu bukanlah tanda bahwa kamu tidak merawat diri. Mulai hari ini, mari berhenti bermusuhan dengan kulit jeruk di tubuh kita sendiri.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Dewan Pers Ingatkan Kode Etik dalam Pemberitaan Kekerasan Seksual

Dewan Pers Ingatkan Kode Etik dalam Pemberitaan Kekerasan Seksual

Centil artinya

“Centil Era”, Memberdayakan Perempuan dengan Cara Positif

Indomiii Rasa Rendang, Sambil Menyelam Minum Plastik: Jeritan Ibu Bumi di Panggung Nan Tumpah

Leave a Comment