“Viral AS Melakukan Pelecehan Seksual”
“Aku ngetik sambil gemeter, jadi aku udah ngumpulin bberapa korban yang speakup,”
Kalimat-kalimat tersebut mungkin sudah pernah kita temui berseliweran di media sosial. Bahkan mungkin kita sendiri pernah menjadi bagian dari yang ikut membagikan, mengomentari, memberi dukungan, atau hanya diam dan bingung harus berbuat apa.
Ketika kasus kekerasan seksual mencuat, dorongan untuk “memviralkan” seringkali dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan keadilan. Memang betul, jalur viral bisa jadi salah satu strategi. Tapi, apakah strategi tersebut selalu efektif? Apakah kita benar-benar membantu penyintas, atau malah memperkeruh situasi dengan menempatkan beban baru di pundak mereka? Apakah dengan strategi viral bisa menjamin keamanan penyintas?
Buku Bertumbuh Bersama, diterjemahkan oleh Pramilla dan diterbitkan Page Against The Machine hadir sebagai bentuk refleksi sekaligus panduan praktis dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit tersebut. Buku ini merupakan kumpulan zine tentang penanganan kekerasan seksual.
Baca juga: Stop Victim Blaming! Kekerasan Seksual Terjadi Karena Relasi Kuasa
Kekerasan yang Sering Tak Disadari
Bab awal buku ini dimulai dari pembahasan mengenai consent atau persetujuan, terutama dalam relasi. Bahkan hal yang mungkin kita anggap remeh seperti melarang pasangan untuk bergaul, atau membatasi mereka dari lingkungan sosial juga tergolong kekerasan.
Selain itu, kekerasan tak selalu hadir dalam bentuk fisik. Kekerasan bisa halus, samar, bahkan terinternalisasi dalam diri penyintas—hingga akhirnya menumpuk menjadi luka yang membisu karena tak tahu ke mana harus meminta tolong. Buku ini membongkar bagaimana kekerasan bisa menyusup dalam hubungan personal yang dianggap “biasa.”
Consent: Bukan Sekadar “Iya atau Tidak”
Sering kali kita memahami consent secara sempit “Kalau dia nggak bilang nggak, berarti setuju, kan?” atau ketika diam disamakan dengan setuju. Terkadang bagi penyintas, mengatakan “tidak” menjadi hal yang sulit. Ada rasa takut, rasa tidak aman, atau bahkan keyakinan bahwa “toh aku nggak akan didengar kalau menolak.”
Buku ini menggarisbawahi bahwa consent harus bersifat aktif, terus-menerus, dan kontekstual. Artinya, dalam situasi apapun baik itu hubungan seksual maupun sekadar pelukan pemberi semangat persetujuan harus tetap diminta dan dihormati kepada orang yang bersangkutan.
Bahkan, pendamping pun harus peka terhadap ini. Menyentuh tangan penyintas dengan maksud memberi dukungan? Bisa jadi memicu trauma penyintas jika tidak didasari atas consent.
Baca juga: Pentingnya Perspektif Korban dalam Kasus Kekerasan Seksual
Untuk Penyintas, Pendamping, hingga Pelaku
Salah satu kekuatan buku ini adalah cakupannya yang luas. Ada semacam panduan untuk pendamping bahkan juga pelaku.
Bagi penyintas, buku ini menyediakan panduan ringan dari cara mengakses layanan bantuan, menghadapi perasaan bingung, hingga ruang untuk mengakui bahwa “tidak tahu harus bagaimana” pun adalah hal yang valid. Tidak ada dorongan untuk segera kuat, tidak ada glorifikasi tentang “penyintas tangguh.” Yang ada hanya penerimaan dan keberpihakan.
Bagi pendamping, buku ini memberikan peringatan yang tajam tapi penting yaitu jangan terburu-buru menghakimi atau menghajar pelaku di tempat. Terkadang, niat untuk membantu justru malah merampas kembali agensi penyintas. Lebih baik beri dukungan melalui mendengarkan dan menghormati batasan mereka. Karena tidak ada yang lebih tahu tentang kebutuhan penyintas selain mereka sendiri.
Bahkan satu satu hal yang menarik dan cukup berani dalam buku ini yaitu menyentuh isu pelaku. Dalam satu kutipan, seorang penyintas berkata:
“Aku tidak ingin dia (pelaku) dikucilkan atau sepenuhnya terisolasi. Tapi aku hanya merasa muak dan tidak dianggap ada, ketika orang-orang bersikap seolah dia tidak pernah berbuat kesalahan apa-apa. Bagiku, jika akhirnya pelaku mau mengakui perbuatannya dan mencoba menjalani terapi untuk mengatasi rasa bersalah atau penyangkalan atas apa yang dia lakukan, aku akan merasa tidak apa-apa jika orang-orang masih berbicara dan nongkrong dengannya.”
Artinya bukan berarti memaafkan pelaku. Tetapi, perlu ruang bagi pelaku untuk bicara dan sejauh mana sanksi yang diberikan. Penyintas juga punya hak menentukan apakah pelaku harus diisolasi dalam jangka waktu lama atau mendapat sanksi secara hukum.
Menuju SOP Komunitas
Buku Bertumbuh Bersama bisa menjadi pemantik bagi komunitas untuk menyusun panduan SOP (Standard Operating Procedure) penanganan kekerasan seksual yang sensitif, sistematis, dan berpihak pada penyintas.
Komunitas, baik itu lembaga bantuan hukum, kolektif seni, komunitas, organisasi, grup diskusi punya potensi menjadi ruang kekerasan seksua. Dan saat kasus mencuat, kita sering tergesa-gesa menanganinya. Buku ini hadir untuk mencegah hal itu, bukan menyarankan tetapi menjadi pemantik bagi kita agar mampu menyusun langkah-langkah praktis mulai dari memahami apa yang harus dilakukan, bagaimana tim pencegahan, pelatihan dasar tentang kekerasan seksual, hingga bagaimana mendokumentasikan laporan secara aman.
Dalam dunia yang sering tergesa-gesa “mengadili” lewat jempol dan komentar, buku ini menjadi ajakan untuk menunda sejenak. Untuk duduk bersama, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan menyusun sistem yang adil dan manusiawi. Karena pada akhirnya, keadilan yang menyembuhkan tidak bisa dibangun dari amarah saja. Keadilan justru tumbuh dari empati, kesadaran, dan keberanian untuk berubah bersama. Semoga buku ini bisa sampai kepada sebanyak mungkin orang yang bersedia belajar dan bertumbuh bersama penyintas.
