Bincangperempuan.com- Jurnalis asal Indonesia, Betty Herlina, meraih penghargaan dalam ajang bergengsi SHE & Rights Media Awards 2025 untuk kawasan Asia Pasifik. Penghargaan ini diumumkan dalam rangkaian International Conference on Family Planning (ICFP) 2025 yang berlangsung di Bogota, Kolombia pada 3-6 November lalu.
Ajang penghargaan ini diselenggarakan oleh Global Center for Health Diplomacy and Inclusion (CeHDI) dan Citizen News Service (CNS), bekerja sama dengan ICFP dan sejumlah organisasi mitra lainnya. SHE & Rights Media Awards bertujuan mengapresiasi karya jurnalistik yang mendorong pemenuhan hak dan kesehatan seksual serta reproduksi (HKSR), keadilan gender, dan otonomi tubuh melalui pendekatan berbasis hak asasi manusia dan kesetaraan.
Tahun ini, kompetisi memasuki edisi keduanya dan berhasil menarik 369 aplikasi dari 32 negara di seluruh dunia, dengan lebih dari 90% berasal dari kawasan Asia Pasifik dan Afrika. Â Karya-karya yang masuk mencerminkan keberagaman perspektif dan semangat para jurnalis dalam mengangkat isu-isu HKSR secara mendalam dan berdampak.
Aplikasi datang dari berbagai wilayah dunia, yakni 207 aplikasi dari sembilan negara di Asia Pasifik, 130 dari 17 negara di Afrika, 20 dari dua negara di Amerika, enam dari empat negara di Eropa, serta enam aplikasi tanpa keterangan negara asal. Entri dikirimkan dalam enam bahasa—Inggris, Prancis, Indonesia, Hindi, Nepal, dan Bangla, lengkap dengan terjemahan atau subtitel untuk memastikan aksesibilitas yang lebih luas.
Para pelamar juga merepresentasikan beragam suara diantaranya 327 perempuan, 41 laki-laki, dan satu pelamar yang mengidentifikasi sebagai non-biner. Dari Angola hingga Zimbabwe, serta dari Australia hingga Amerika Serikat, jangkauan partisipasi ini menggambarkan komitmen global untuk memajukan SRHR melalui kekuatan penceritaan di media.

Betty Herlina, pendiri platform media berbasis gender Bincang Perempuan, dikenal luas atas dedikasinya dalam memperjuangkan suara perempuan dan kelompok rentan melalui jurnalisme yang berperspektif GEDSI (Gender, Disability, and Social Inclusion). Karyanya yang memenangkan penghargaan dinilai berhasil mengangkat isu HKSR secara kritis, berbasis data, dan menyentuh akar ketidakadilan struktural yang dihadapi perempuan di Indonesia.
Penjurian dilakukan oleh 28 juri dari 17 negara, termasuk Indonesia, yang terdiri dari 22 perempuan dan 6 laki-laki. Para juri berasal dari berbagai latar belakang profesional di bidang media, kesehatan, dan hak asasi manusia.

SHE & Rights Media Awards merupakan bagian dari inisiatif SHE & Rights (Sexual Health with Equity & Rights) yang diinisiasi oleh CeHDI, IPPF, WGNRR, ARROW, APCAT Media, dan CNS. Inisiatif ini bertujuan memperkuat pemahaman dan keterlibatan media dalam isu-isu HKSR, keadilan gender, dan kesehatan berbasis hak di kawasan Asia Pasifik dan Afrika.
