Bincangperempuan.com- Sepatu hak tinggi berujung runcing kini identik dengan perempuan. Biasanya digunakan pada acara resmi hingga aktivitas sehari-hari. Banyak orang menganggapnya simbol keanggunan, kedewasaan, bahkan kelas sosial tertentu. Namun, tahukah kamu B-Pers, ternyata sejarah sepatu hak tinggi justru berangkat dari dunia laki-laki.
Walau tampak anggun saat dikenakan, sepatu hak tinggi sering dianggap “menyiksa” perempuan, lalu mengapa bentuknya justru bertahan selama ratusan tahun? Siapa sebenarnya yang pertama kali menciptakannya, dan untuk tujuan apa?
Awalnya Dipakai Laki-Laki Kelas Atas
Melansir dari She The People, sebelum menjadi bagian dari busana perempuan, sepatu berujung runcing merupakan tren di kalangan laki-laki Eropa pada abad ke-14 hingga ke-15. Sepatu ini dikenal dengan nama poulaines atau cracows, yang diyakini berasal dari Kraków, Polandia. Panjang ujung sepatunya tidak main-main—bisa mencapai 30 sentimeter.
Agar bentuk runcingnya tetap kokoh, bagian ujung sepatu biasanya diisi lumut atau wol. Sepatu tidak dirancang untuk kenyamanan. Justru sebaliknya, semakin sulit dipakai, semakin tinggi pula status sosial pemakainya.
Pada masa itu, pakaian dan alas kaki bukan sekadar kebutuhan, melainkan penanda kelas. Semakin mahal, rumit dibuat, dan menyulitkan penggunanya untuk bergerak bebas maka semakin tinggi kelasnya.
Karena busana yang menyulitkan bergerak menunjukkan kalau mereka tidak perlu bekerja secara fisik, terutama kaum bangsawan dan orang kaya. Singkatnya, sepatu runcing adalah salah satu cara halus (tapi menyakitkan) untuk berkata “Saya punya kuasa.”
Baca juga: Aurelie dan Broken Strings: Alarm untuk Stop Romantisasi Gap Usia
Ketika Negara Ikut Mengatur Bentuk Sepatu
Popularitas sepatu runcing akhirnya dianggap berlebihan. Pada tahun 1463, Raja Edward IV dari Inggris mengeluarkan aturan yang membatasi panjang ujung sepatu maksimal dua inci bagi siapa pun yang bukan bangsawan.
Secara sosial, pembatasan ini menjaga jarak visual antara kelas atas dan kelas bawah. Sepatu kembali dijadikan alat untuk “mengetahui posisi diri” dalam struktur masyarakat. Secara politik, kebijakan ini juga melindungi industri tekstil Inggris dengan membatasi bahan dan hiasan yang sering diimpor. Sementara dari sisi agama, pemimpin gereja kala itu menilai sepatu berujung panjang sebagai simbol kesombongan dan dianggap mengganggu sikap tubuh saat berdoa.
Dari Simbol Kuasa ke Standar Kecantikan
Namun, seiring perubahan zaman, citra maskulinitas bergeser ke arah yang lebih sederhana dan fungsional. Hal-hal yang dulu jadi simbol kuasa laki-laki seperti warna mencolok, termasuk sepatu berujung runcing—mulai dianggap tidak maskulin lagi.
Pada saat yang sama, dunia mode memindahkan elemen tersebut ke tubuh perempuan dan memberinya makna baru. Sepatu berujung runcing lalu diposisikan sebagai simbol keanggunan, feminitas, dan profesionalisme.
Sepatu hak tinggi kerap menjadi standar tak tertulis dalam dunia kerja, acara formal, atau representasi perempuan “ideal”, banyak orang mengenakannya bukan karena nyaman, melainkan karena dianggap pantas atau terlihat anggun.
Selain tuntutan tersebut, ada pula pengaruh visual yang kuat. Sepatu hak tinggi berujung runcing menciptakan ilusi kaki yang lebih panjang dan tubuh yang tampak lebih ramping. Di sinilah iklan dan propaganda mode bekerja bukan hanya pada tubuh, tetapi juga pada pikiran. Para ilmuwan menyebutnya sebagai pengaruh pakaian terhadap cara kita memandang diri sendiri dan orang lain. Efeknya pun tak hanya dirasakan oleh orang yang melihat tetapi juga oleh pemakainya sebagai rasa percaya diri, kuasa, dan keanggunan.
Dampak Kesehatan dari Pemakaian Sepatu Hak Tinggi
Namun, di balik kesan tersebut, sepatu hak tinggi berujung runcing menyimpan risiko kesehatan. Jika digunakan dalam waktu lama, tekanan berlebih pada bagian depan kaki dapat memicu rasa nyeri yang berkepanjangan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menyebabkan kelainan seperti jari kaki bengkok (hammertoes), nyeri pada telapak kaki bagian depan (metatarsalgia), hingga peradangan saraf di sela-sela jari kaki yang dapat berkembang menjadi neuroma. Pada kasus tertentu, gangguan ini bahkan memerlukan penanganan medis hingga tindakan operasi.
Baca juga: Apa Benar Perempuan Lebih Cerewet dari Laki-laki?
Masa Depan Mode: Cantik Masih Perlu Sakit?
Dengan berkembangnya teknologi dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan, perlahan muncul tuntutan baru dalam dunia mode yaitu rasa nyaman. Sepatu berujung runcing mungkin belum sepenuhnya ditinggalkan, tetapi desainnya mulai beradaptasi agar tidak lagi menyiksa seperti di masa lalu.
Pada akhirnya, sepatu hak tinggi berujung runcing bukan sekadar soal gaya atau selera pribadi. Tetapi juga membawa sejarah panjang tentang kuasa, status, dan bagaimana tubuh diposisikan dalam norma sosial. Dari simbol kelas elit hingga standar kecantikan modern, maknanya terus berubah, tetapi tubuh sering diminta menyesuaikan diri.
Memahami asal-usul sepatu ini bukan berarti kita harus menolaknya sepenuhnya. Justru dari sana kita bisa menciptakan kesadaran untuk lebih jujur pada diri sendiri—kapan ingin tampil anggun, dan kapan tubuh butuh jeda. Karena kenyamanan dan kesehatan seharusnya tidak bertentangan dengan kecantikan.
Referensi:
- Watson, M. (2026, January 10). Why are women’s shoes so pointy? SheThePeople.https://www.shethepeople.tv/lifestyle/women-pointy-shoes-10987744
- Buddhadev, H. H., Suprak, D. N., Jordan, K. H., & Hynds, A. (2023). Walking in high-heel shoes induces redistribution of joint power and work. International Biomechanics, 10(1), 10–17.https://doi.org/10.1080/23335432.2023.2228362
