Bincangperempuan.com- B’Pers, pernahkah kamu dengar atau tanpa sadar ikut percaya kalau perempuan itu “memang dari sananya” cerewet? Dari obrolan tongkrongan sampai komentar netizen, label cerewet sering kali disematkan kepada perempuan. “Cerewet banget kayak cewek,” atau “ih kayak mulut cewek aja,” ungkapan semacam ini menunjukkan seakan-akan perempuan itu cerewet dan lebih suka menggosip. Tapi pernahkah kamu bertanya apakah ini memang betul fakta, mitos sosial, atau hanya cara malas untuk mendiskreditkan suara perempuan?
Masalahnya, anggapan ini jarang benar-benar dipertanyakan. Kita seolah menerima begitu saja bahwa cerewet adalah sifat alami perempuan, bukan konstruksi sosial yang dibentuk dan dipelihara terus-menerus. Padahal, dalam banyak situasi, yang disebut “cerewet” itu sering kali cuma perempuan yang berani menyampaikan pendapat, menolak, atau bersuara atas hal-hal yang mengganggunya.
Menariknya, standar ini tidak berlaku universal. Ketika laki-laki berbicara panjang lebar, memberi instruksi, atau mendominasi diskusi, mereka cenderung dilihat sebagai sosok yang tegas, rasional, bahkan berwibawa. Sebaliknya, perempuan dengan perilaku yang sama justru dicap berisik atau terlalu banyak omong. Jadi, benarkah persoalannya soal jumlah kata?
Baca juga: Teal Wand: Skrining Kanker Serviks Bisa di Rumah, Indonesia Kapan?
Apa Kata Fakta Ilmiah?
Faktanya tidak sesederhana itu. Salah satu penelitian paling sering dikutip soal topik ini terbit pada tahun 2007. Penelitian tersebut melibatkan 396 mahasiswa Universitas Texas di Austin. Para partisipan diminta mengenakan alat perekam suara kecil yang secara acak merekam percakapan mereka selama beberapa hari. Dari rekaman itu, peneliti menghitung perkiraan jumlah kata yang diucapkan setiap hari.
Hasilnya perempuan dan laki-laki sama-sama mengucapkan sekitar 16.000 kata per hari. Hampir tidak ada perbedaan berarti. Temuan ini langsung mematahkan stereotip lama bahwa perempuan lebih banyak omong atau cerewet.
Namun, penelitian ini juga menuai kritik. Sampelnya dinilai terlalu sempit karena hanya melibatkan mahasiswa—usia muda, latar sosial relatif serupa, dan konteks hidup yang terbatas. Artinya, hasilnya belum tentu bisa mewakili populasi yang lebih luas.
Penelitian Terbaru: Seberapa Cerewet Orang Tidak Bisa Dinilai Berdasarkan Gendernya
Untuk menjawab kritik tersebut, penelitian lanjutan yang dipublikasikan pada 2025 melibatkan 2.197 partisipan dengan rentang usia jauh lebih luas, dari 10 hingga 92 tahun. Total ada lebih dari 600 ribu rekaman suara yang dianalisis dari berbagai konteks kehidupan sehari-hari.
Hasilnya menunjukkan rata-rata perempuan memang berbicara lebih banyak dibanding laki-laki. Perempuan mengucapkan sekitar 13.349 kata per hari, sementara laki-laki sekitar 11.950 kata per hari. Selisihnya sekitar seribuan kata angka yang sekilas tampak signifikan.
Tetapi perbedaan antarindividu jauh lebih besar daripada perbedaan antar gender. Ada orang yang sehari hanya bicara kurang dari 100 kata, ada juga yang bisa lebih dari 120.000 kata per hari, baik perempuan maupun laki-laki. Jadi, faktor siapa orangnya jauh lebih menentukan dibanding apa gendernya.
Penelitian ini juga menemukan bahwa perbedaan jumlah kata berubah-ubah tergantung usia.
- Pada remaja dan dewasa muda, selisihnya kecil.
- Pada usia dewasa awal hingga paruh baya, perempuan memang berbicara lebih banyak.
- Namun pada usia lanjut, justru laki-laki yang cenderung lebih banyak bicara.
Karena variasinya sangat besar, para peneliti sendiri menyimpulkan bahwa belum ada bukti kuat bahwa perempuan dan laki-laki benar-benar berbeda secara signifikan dalam hal jumlah kata yang diucapkan setiap hari.
Jadi, Perempuan Lebih Cerewet?
Berdasarkan temuan dari dua penelitian tersebut, anggapan bahwa perempuan lebih cerewet bukanlah fakta mutlak, melainkan bias sosial yang dibungkus seolah-olah ilmiah. Selisih jumlah kata bisa berubah-ubah, dan tidak bisa dijadikan dasar untuk melabeli satu gender sebagai “lebih cerewet” atau “ribet”. Label cerewet lebih sering muncul bukan karena perempuan bicara lebih banyak, tetapi karena perempuan bicara di ruang yang selama ini tidak sepenuhnya ramah terhadap suara mereka.
Baca juga: Ramai Pembalut Repack di Pasaran, Apakah Aman?
Ketika Perempuan Diberi Ruang untuk Bicara
Menariknya, sebuah penelitian linguistik menunjukkan bahwa perempuan justru cenderung lebih berhati-hati dalam memilih cara berbicara. Mereka sering menggunakan bahasa yang dianggap “lebih sopan”, “lebih baku”, atau “lebih berkelas”. Bukan untuk jaga image atau pamer, tapi sebagai strategi bertahan hidup.
Sebuah studi di Selandia Baru menemukan bahwa perempuan kelas menengah menghindari gaya bicara tertentu karena takut dikaitkan dengan stereotip negatif termasuk anggapan soal moral dan seksualitas. Dalam masyarakat patriarki dengan standar ganda terhadap perempuan, cara berbicara bisa menjadi alat untuk melindungi diri dari stigma.
Karena itu, perempuan sering harus memilih kata dengan ekstra hati-hati. Agar tidak dianggap kasar, galak, atau tidak pantas, mereka kerap berbicara lebih panjang, tidak langsung, dan penuh penjelasan. Bukan karena ingin bertele-tele, melainkan sebagai strategi agar aman dari penilaian.
Di sinilah label “perempuan cerewet” jadi bias. Yang dipermasalahkan bukan jumlah kata, tapi siapa yang berbicara. Ketika perempuan lebih ekspresif, itu bukan soal cerewet, melainkan upaya mengklaim ruang dan bertahan dalam sistem yang sejak awal lebih longgar pada suara laki-laki.
Referensi:
- Mehl, M. R., Vazire, S., Ramírez-Esparza, N., Slatcher, R. B., & Pennebaker, J. W. (2007). Are women really more talkative than men?. Science (New York, N.Y.), 317(5834), 82. https://doi.org/10.1126/science.1139940
- Tidwell, C. A., Danvers, A. F., Pfeifer, V. A., Abel, D. B., Alisic, E., Beer, A., Bierstetel, S. J., Bollich-Ziegler, K. L., Bruni, M., Calabrese, W. R., Chiarello, C., Demiray, B., Dimidjian, S., Fingerman, K. L., Haas, M., Kaplan, D. M., Kim, Y. K., Knezevic, G., Lazarevic, L. B., . . . Mehl, M. R. (2025). Are women really (not) more talkative than men? A registered report of binary gender similarities/differences in daily word use. Journal of Personality and Social Psychology, 128(2), 367–391. https://doi.org/10.1037/pspp0000534
- Gordon, E. (1997). Sex, speech, and stereotypes: Why women use prestige speech forms more than men. Language in Society, 26(1), 47–63. https://doi.org/10.1017/S0047404500019400
