Negosiasi Tubuh dan Cinta dalam Venus: Kronik Cinta Perempuan Urban

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.comVenus: Kronik Cinta Perempuan Urban karya Mayesharieni diterbitkan oleh Alitra Publishing pada 2025. Novel ini berangkat dari isu yang dekat dengan dinamika relasi perempuan urban. Dengan latar apartemen Venus, cerita mempertemukan Kayas, Raiya, Elina, dan Venesa—empat perempuan dengan latar berbeda—serta dua figur laki-laki yang memengaruhi perjalanan emosional Kayas: seorang lelaki mapan yang menjalin relasi transaksional dengannya dan Baruna, lelaki yang kemudian hadir dalam relasi yang lebih emosional.

Novel dibuka dengan bayangan masa lalu Kayas terhadap mantan kekasihnya. Luka tersebut membentuk kehati-hatian sekaligus kegamangan dalam menentukan arah hubungan berikutnya. Ketika sepupunya menyarankan ia pergi ke Bali untuk mengikuti semacam ritual cleansing atau bersih-bersih dari kesialan. Keputusan itu justru mempertemukannya dengan sosok sugar daddy. 

Relasi yang terbangun berlangsung melalui negosiasi: Kayas meminta tempat tinggal yang layak, dan sebagai imbalannya menyepakati kunjungan rutin ke usaha yang dibangun lelaki tersebut serta kewajiban mengirim swafoto senyum setiap hari.

Pada bagian awal, narasi memperlihatkan upaya untuk memetakan bagaimana perempuan menegosiasikan kebutuhan ekonomi, rasa aman, dan otonomi tubuh dalam relasi yang tidak sepenuhnya setara. Tema tubuh dan relasi kuasa mulai diperkenalkan sebagai fondasi, walau pengembangannya masih menyisakan ruang untuk pendalaman lebih lanjut.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Rapi: Membaca Ulang Makna Rumah lewat Mindful Home

Relasi Transaksional: Bukan Untuk Semua Orang

Relasi Kayas dengan sosok sugar daddy menjadi salah satu lapisan paling menarik dalam novel ini. Sejak awal hubungan tersebut dibangun atas dasar kesepakatan yang jelas, yaitu tempat tinggal yang layak ditukar dengan komitmen tertentu. 

Namun, Kayas tetap digambarkan merasa gundah. Dari pergulatan batin Kayas, menunjukkan bahwa kenyamanan material atau kepastian kesepakatan tidak selalu sama dengan ketenangan batin. Narasi berhasil menampilkan pergulatan internal yang halus, memperlihatkan bagaimana perempuan tetap menghadapi ketidaknyamanan emosional meski kondisi luarnya tampak baik-baik saja.

Bagian ini menonjol karena tidak mengandalkan drama eksternal yang berlebihan. Kegundahan Kayas hadir sebagai pengalaman personal yang manusiawi, memperkuat tema novel tentang otonomi, pilihan, dan relasi kuasa perempuan. Dan bagi Kayas hubungan transaksional bukanlah hal yang sesuai dengan dirinya.

Venus: Kronik Cinta Perempuan Urban karya Mayesharieni diterbitkan oleh Alitra Publishing pada 2025. (foto: Ais Fahira/Bincang Perempuan)

Otonomi Tubuh dan Relasi Kuasa

Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada keberaniannya mengangkat isu otonomi tubuh perempuan dan objektifikasi dalam relasi heteroseksual. Di tengah dinamika perempuan urban yang kerap berada dalam persimpangan antara kebutuhan ekonomi, afeksi, dan ekspektasi sosial, novel ini mencoba membuka percakapan tentang siapa yang sebenarnya memiliki kendali atas tubuh dan keputusan seorang perempuan.

Melalui pengalaman Kayas dan perempuan-perempuan lain di apartemen Venus, pembaca diperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja dalam bentuk yang tidak selalu kasar atau terang-terangan. Ada negosiasi, ada kesepakatan, ada kompromi—tapi di balik itu semua tetap tersimpan pertanyaan mendasar tentang posisi tawar dan kebebasan memilih. Relasi transaksional, kohabitasi, hingga dinamika seksual dalam pernikahan menjadi medium untuk membicarakan isu tersebut secara kontekstual dan dekat dengan realitas keseharian.

Banyak dialog yanh secara eksplisit menyuarakan refleksi tentang tubuh, pilihan, dan batasan. Pendekatan ini menunjukkan keseriusan penulis dalam memastikan pesan yang ingin disampaikan tidak terlewat. Namun, dalam fiksi, kekuatan pesan justru muncul ketika gagasan disampaikan melalui situasi, tindakan, gestur, dan konflik yang terjadi dalam cerita. 

Ketika pembaca diberi ruang untuk menyimpulkan sendiri, pengalaman membaca akan terasa lebih kuat. Sebenarnya, novel ini sudah memiliki situasi dan konflik yang cukup untuk membuat pembaca memahami pesan tentang tubuh dan relasi kuasa tanpa harus ditegaskan berulang kali. Dalam banyak bagian, dialog terasa terlalu menjelaskan, padahal peristiwanya sendiri sudah berbicara. 

Baca juga: Rahasia di Balik Senyuman: Ketika Keluarga dan Kuasa Menentukan Hidup Perempuan

Karakter dengan Potensi Pendalaman

Karakter Baruna dideskripsikan relatif stabil dan suportif. Ia sabar menghadapi kecenderungan overthinking Kayas dan konsisten dalam memberi afeksi. Kehadirannya menjadi penyeimbang kecemasan Kayas, meski kompleksitas batinnya sendiri tidak banyak dieksplorasi. Dalam struktur cerita, ia berfungsi sebagai figur yang menghadirkan rasa aman yang kontras terhadap kegelisahan internal Kayas.

Kayas sendiri memikul lapisan kerentanan paling kuat. Ia cemas, gamang, dan sering kali terjebak dalam pikirannya sendiri. Kerentanan ini selaras dengan tema besar tentang otonomi dan pilihan—bahwa kebebasan memilih tidak selalu hadir bersama kepastian.

Karakter pendukung menghadirkan spektrum pengalaman perempuan yang beragam. Raiya tampil progresif dan mandiri melalui usaha yang ia bangun, meski perjalanan karakternya menyisakan ruang eksplorasi yang lebih luas. Venesa hadir dengan keberanian dalam mengekspresikan seksualitas, menjadi representasi perempuan yang nyaman dengan tubuhnya sendiri, walau kedalaman emosionalnya belum sepenuhnya diperlihatkan.

Elina, sebenarnya, memiliki konflik yang menarik. Sebagai penyokong ekonomi keluarga yang menghadapi polemik dalam kehidupan seksualnya, ia merepresentasikan persoalan negosiasi kuasa dalam hubungan kohabitasi dengan lebih detail. Dinamika ini membuka ruang pembacaan tentang bagaimana relasi kuasa tidak harus hadir dalam bentuk dominasi terang-terangan, tetapi juga dalam komunikasi yang tersendat atau kebutuhan yang enggan diutarakan. 

Secara keseluruhan, Venus: Kronik Cinta Perempuan Urban telah membuka percakapan penting tentang tubuh, pilihan, dan relasi kuasa dalam kehidupan perempuan urban. Keberanian mengangkat isu-isu ini patut diapresiasi. Dengan pendalaman karakter dan penyampaian pesan yang lebih mengandalkan situasi serta tindakan tokoh, kekuatan cerita ini berpotensi terasa lebih kuat dan membekas pada pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Konstruksi Sosial dan Tantangan Kebijakan Pekerjaan Perawatan di Indonesia

Obsesi Sensual pada Bra dan Payudara

Obsesi Sensual pada Bra dan Payudara

Memberdayakan Anak Berarti Melindungi Mereka Sendiri (1)

Memberdayakan Anak Berarti Melindungi Mereka Sendiri

Leave a Comment