Bincangperempuan.com– Sebuah unggahan promosi kelas pranikah lewat di linimasa. Kalimat pembukanya mencolok “Dalam pelukan wanita pintar, pria miskin bisa jadi kaya.” Sekilas terdengar seperti motivasi, seolah ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam kesuksesan pasangan. Tapi setelah jempol digeser, konteksnya ternyata adalah ajakan bagi perempuan untuk ikut kelas pranikah agar bisa menjadi perempuan pintar yang mendukung suaminya kelak.
Namun justru di situ letak persoalannya. Narasi itu, dengan halus tapi kuat, menegaskan posisi perempuan sebagai penopang. Bahwa peran utamanya adalah menjadi support system bagi laki-laki bukan karena cintanya, tapi karena laki-laki perlu diselamatkan oleh kecerdasan dan kesabaran perempuan. Narasi ini jelas tidak bicara soal kesetaraan, melainkan tentang bagaimana perempuan bisa membuat laki-laki sukses.
Kita sering kali menemukan versi lain dari kalimat semacam ini. Mulai dari yang paling sering kita dengar, “Di balik lelaki sukses, ada perempuan hebat di belakangnya,” hingga bentuk-bentuk baru seperti “istri yang cerdas akan menjadikan rumah tangga makmur.”
Ungkapan-ungkapan ini mungkin terdengar positif, bahkan memuji perempuan, tetapi bila diperhatikan lebih dalam, ia mengunci perempuan pada peran domestik dan subordinat. Kehebatannya diukur sejauh mana ia mendukung, bukan sejauh mana ia tumbuh.
Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise pernah menyoroti hal serupa. Ia berkata, “Perempuan tidak setuju kalau di belakang posisinya, harus di samping. Jadi sama-sama sekarang” katanya kepada Kompas.com. Menurutnya perempuan bukanlah “pendorong di balik layar,” melainkan rekan yang sejajar dalam kehidupan bersama.
Baca juga: Pelakor dan Patriarki: Saat Film Menyalahkan Perempuan atas Retaknya Rumah Tangga
Perempuan Sebatas Pendukung?
Masalahnya, narasi seperti “wanita pintar bikin pria kaya” tetap diproduksi dan diterima dengan mudah di masyarakat. Dan malah justru hadir dalam seminar pranikah, buku motivasi, hingga konten media sosial. Dalam narasi itu, perempuan menjadi “investasi emosional” bagi kesuksesan laki-laki. Dan yang lebih mengkhawatirkan, banyak perempuan muda menerimanya sebagai hal wajar bahkan sebagai cita-cita.
Padahal, di balik narasi yang tampak romantis itu, tersembunyi ketimpangan yang lebih besar yaitu perempuan dijadikan instrumen keberhasilan laki-laki. Ia boleh pintar, asal kepintarannya mendukung. Ia boleh berpendidikan tinggi, asal tetap tahu “prioritasnya” setelah menikah.
Ketika perempuan diharapkan “menopang”, maka beban emosional dan sosial rumah tangga tetap bertumpu padanya. Ia harus cerdas mengatur keuangan, lembut dalam bicara, sabar menghadapi stres pasangan, dan tetap terlihat anggun.
Dampak Nyata dari Patriarki
Narasi seperti ini lahir dari akar budaya yang panjang. Dalam konstruksi patriarki, perempuan dianggap penanggung jawab atas keharmonisan rumah tangga. Ketika suami gagal atau anak bermasalah, yang disorot adalah peran istrinya. “Kurang perhatian,” “tidak bisa mengatur emosi,” atau “terlalu sibuk bekerja.”
Maka wajar bila promosi kelas pranikah sering diarahkan pada perempuan. bukan untuk membicarakan kesetaraan, melainkan untuk membentuk istri ideal versi patriarki (pintar mengatur tapi tetap patuh, mandiri tapi tidak mengancam, kuat tapi lembut).
Baca juga: Terjadi Lagi Kasus Cacingan di Bengkulu: Bukan Sekadar Medis, Tapi Struktural
Pernikahan dan Nilai Kesetaraan
Padahal, hubungan pernikahan bukan panggung satu arah. Tetapi merupakan ruang tumbuh dua manusia yang berbeda, yang sama-sama belajar mencintai dan mengelola kehidupan bersama. Dalam pernikahan yang setara, tidak ada “wanita pintar yang menyelamatkan pria miskin” atau “laki-laki hebat yang memimpin perempuan bijak.” Yang ada adalah dua individu yang saling menumbuhkan, berbagi peran, dan saling memikul beban.
Mungkin, kita memang perlu mulai mengganti narasi lama dengan yang lebih sehat. Misalnya, alih-alih berkata “wanita pintar membuat pria kaya,” kita bisa berkata “pasangan yang saling belajar bisa bertumbuh bersama” atau “di samping laki-laki hebat juga ada perempuan hebat”.
Kalimat itu sederhana, tapi mengubah sudut pandang dari hubungan yang hirarkis menjadi hubungan yang setara. Sebuah kelas pranikah, sejatinya, bisa menjadi ruang refleksi untuk mengenal diri sendiri, memahami nilai-nilai relasi, komunikasi, dan kesetaraan.
Tapi selama kelas tersebut masih menjadikan perempuan sebagai objek pembentukan moral untuk “menopang suami,” tujuan itu sulit tercapai. Kelas pranikah seharusnya bukan tentang bagaimana perempuan menjadi istri ideal, tapi bagaimana dua orang dewasa menyiapkan diri untuk menjadi partner yang setara dalam menghadapi kehidupan bersama.
Kita perlu narasi yang menempatkan perempuan bukan di belakang, melainkan di samping. Narasi yang melihat kecerdasan perempuan bukan sebagai alat keberhasilan laki-laki, melainkan sebagai kekuatan personal yang layak dihargai sendiri. Narasi yang menganggap cinta bukan sebagai pengorbanan sepihak, tapi sebagai kolaborasi antara dua manusia yang sama-sama rentan dan sama-sama berdaya.
Sebab pada akhirnya, rumah tangga bukan proyek penyelamatan. Perempuan tidak ditakdirkan menjadi “pelukan yang mengubah pria miskin jadi kaya,” dan laki-laki pun tidak seharusnya mengukur nilai diri dari seberapa banyak ia bisa memimpin atau menafkahi.
Karena yang membuat hubungan bertahan bukanlah siapa yang di depan atau di belakang, tetapi siapa yang mau berjalan bersama dengan kesetaraan, empati, dan saling menghormati.
Referensi:
- Yohana Yembise, Sindiran Menteri Yohana soal Perempuan Hebat Ada di Balik Laki-laki Sukses. https://nasional.kompas.com/read/2019/10/08/07360111/sindirian-menteri-yohana-soal-perempuan-hebat-ada-di-balik-laki-laki-sukses
